
''Papi jahat, kenapa Papi gak nolongin Ayu? untuk pertama kalinya aku kecewa sama Papi ... hiks hiks hiks ...'' Lirih Lucky menangis sesenggukan, duduk di atas lantai dengan memeluk kedua lututnya.
Adelia sang ibu yang merasa iba melihat putra kesayangannya dalam keadaan seperti itu, segera menghampiri dan meraih tubuh sang putra, memeluknya erat seraya mengusap punggungnya secara lembut.
''Tenang sayang. Gak ada masalah yang gak bisa diselesaikan, kita masuk dulu, bicara baik-baik di dalam, ya ...'' lirih Adel.
Lucky tidak bergeming, dia memeluk tubuh sang ibu dengan tangisan yang terdengar pilu, membuat Leo sedikit geram akhirnya.
''Lucky, masuk ke dalam sekarang juga, jangan menangis kayak kecil,'' pinta Leo berjalan melintasi Lucky.
Adelia meraih pundak Lucky dan menariknya untuk bangkit, dan mau tidak mau, Lucky pun mengikuti keinginan sang ibu, dia bangkit lalu berjalan beriringan dengan ibunya tersebut.
Sementara itu, Leo sudah duduk bersilang kaki di ruang Televisi, tatapannya nampak menatap tajam ke arah dimana Lucky dan istrinya berjalan saat ini, wajahnya nampak merah menyala menahan rasa kesal.
''Duduk kamu ...?'' pinta Leo, menunjuk kursi yang berada tepat di hadapannya.
Lucky yang masih setengah terisak tidak menuruti keinginan ayahnya, bukannya duduk di kursi, dia lebih memilih untuk duduk di lantai tepat di depan sang ayah, membuat semua yang ada di sana semakin merasa iba.
''Sedang apa kamu? Papi bilang duduk di kursi, kenapa malah duduk di bawah?'' teriak Leo geram.
''Pap ... Tolong bantu aku, Pap. Tolong selamatkan Ayu dari Om Revan, dia bisa mati di tangan ayahnya itu, aku mohon, hiks hiks hiks ...!'' lirih Lucky menunduk sedih.
''Kamu tahu si Revan itu siapa, hah? dia itu penjahat kelas kakap, mana mungkin Papi mengijinkan kamu berpacaran dengan putri seorang penjahat? lagipula, sejahat-jahatnya dia, si brengsek itu gak mungkin membunuh anaknya sendiri,'' tegas Leo.
''Aku yakin Om Revan akan menyiksa Ayu, aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, Pap. Dan aku punya bukti bahwa Om Revan menyiksa Ayu dengan kejam,'' Lucky membuka atasan oblong yang dikenakannya, lalu menunjukan bekas sabetan gesper di punggungnya.
''Ini, Pap. Buktinya ...'' lirih Lucky.
Adelia dan Leo pun terkejut seketika, menatap punggung putra kesayangannya yang terdapat luka sayatan gesper memanjang di punggungnya, merah dan memar memanjang di sepanjang punggung lebarnya.
"SIAPA YANG BERANI MELUKAI PUTRA SEORANG LEONARDO? KATAKAN LUCKY? SIAPA YANG MELAKUKAN HAL INI ..." teriak Leo geram, mengepalkan kedua tangannya dengan mata yang dibulatkan sempurna.
__ADS_1
Sementara Adelia tidak bisa menahan tangisnya, di duduk bersama putranya mengusap punggung Lucky.
"Pasti sakit sekali, ya? Mommy sebagai ibu kamu, sama sekali gak terima putra kesayangan Mommy diperlakukan seperti ini, hiks hiks hiks ..." lirih Adelia.
Axela yang juga berada di sana, seketika menangis dan memeluk tubuh adik kesayangannya.
"Dek, siapa yang tega melakukan ini sama kamu, hiks hiks hiks ...'' lirih Axela memeluk erat tubuh Lucky.
''Briel, bawa istrimu ke kamar, dia sedang hamil muda, gak baik untuk kandungannya jika dia terlalu bersedih seperti ini,'' pinta Leo.
''Baik, Pap.'' Jawab Briel menghampiri sang istri, lalu membantunya bangkit, memapahnya berjalan ke dalam kamar.
''Lucky ... sekarang ceritakan sama Papi, kenapa punggung kamu bisa terluka parah seperti ini?'' tanya Leo, menurunkan ritme suaranya.
''Aku memasang badan saat Om Revan akan memukul Ayu dengan gesper kulit, yah.'' Lucky menundukkan kepalanya.
''Apa ...? apa kamu sudah gila, hah? kamu pikir tubuh kamu terbuat dari baja? apa kamu super Hero, hah ...?'' Tanya Leo menaikan kembali nada suaranya.
Leo termenung, hatinya sungguh merasakan sakit mendengar putra kesayangannya diperlukan seperti itu, andai saja saat ini si Revan itu ada si hadapannya, mungkin Leo sudah benar-benar membunuh pria itu.
''Jadi ... aku mohon tolong bantu Ayu, Pap. Hanya Papi yang bisa bantu dia, Papi punya banyak anak buah, minta anak buah papi untuk menyelamatkan dia, atau Ayu akan benar-benar mati di tangan Om Revan ...'' lirih Lucky mengiba.
''Sayang, tolong bantu Ayu, aku mohon. Aku pun merasa kasian sama dia,'' lirih Adelia ikut membujuk.
Leo menghela napas panjang, menatap istri dan juga putra kesayangannya mengiba seperti itu benar-benar membuat hatinya terluka.
''Sayang ... Kamu tau sudah lama sekali aku berhenti dari dunia mafia?"
Adelia menganggukkan kepalanya.
"Apabila aku ingin menyelamatkan gadis yang bernama Ayu itu, maka aku harus mengaktifkan kembali organisasi Mafia yang aku pimpin dan memanggil anak-anak buah aku lagi, apa kamu tidak keberatan jika aku kembali menjadi seorang Mafia? sedangkan kamu sendiri gak suka dengan kehidupan aku yang seperti itu?'' tanya Leo menatap wajah sang istri.
__ADS_1
Adelia terdiam sejenak, mencoba untuk berfikir, sampai akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya.
''Lakukan apapun yang diperlukan untuk bisa menyelamatkan Ayu, dan balas'kan kesakitan yang dirasakan oleh putra bungsu kita kepada pria yang bernama Revan itu?'' tegas Adelia mantap.
''Kamu yakin, honey? kamu serius dengan ucapan kamu ini?''
''Tentu saja, sebagai seorang ibu, tentu saja aku gak terima putraku diperlakukan seperti ini,'' jawab Adelia meyakinkan.
''Baiklah, atas izin-mu istriku, aku janji akan membawa Ayu kemari, dan tentu saja membalaskan dendam kepada si Revan itu. Kalian berdua gak usah khawatir, Papi akan berusaha sekuat tenaga, mengerahkan anak buah terbaik Papi untuk mencari keberadaan Ayu,'' lirih Leo luluh juga akhirnya.
''Makasih, Pap. Makasih ... hiks hiks hiks ...'' ucap Lucky kembali menangis.
''Sudah jangan menangis terus kayak kecil, malu sama badan kamu yang udah gede ini, sebagai seorang laki-laki, kamu harus kuat, gak boleh cengeng, mengerti ...?''
''Baik, Pap. Aku akan kuat, aku gak akan nangis lagi, aku janji ...'' ucap Lucky, mengusap wajahnya, membersihkan sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya.
''Tapi, sayang. Kamu harus janji, ini yang terakhir kalinya, setelah ini kamu harus benar-benar membubarkan perkumpulan mafia yang kamu pimpin itu,'' pinta Adelia dengan penuh penekanan.
''Iya, sayang. Aku janji ... Papi Sayang kalian berdua ...'' Ucap Leo, berjongkok dan memeluk istri serta putra kesayangan itu.
''Maafin Papi, karena tadi Papi sempat membentak kamu, Dek ...'' Lirih Leo mendekap erat tubuh putra bungsunya.
Lucky hanya mengangguk pelan, mendekap erat tubuh kedua orangtuanya.
🍀🍀
Sementara itu, Revan sama sekali tidak membawa Ayu ke panti rehabilitasi, dia membawa putrinya tersebut ke rumahnya, menyeretnya secara paksa, mengabaikan jeritan sang putri yang terus menolak di bawa masuk ke dalam rumah.
''DASAR ANAK TIDAK TAU DIRI, LIHAT AJA, AYAH BAKAL NGASIH PELAJARAN SAMA KAMU,'' teriak Revan, masih menyeret tubuh sang putri secara kasar, membawanya masuk ke dalam kamar.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1