
''Masuk yu, bang ...? kasian kaka sendirian di dalam ...'' pinta Lucky.
''Ya udah ayo. Kaka juga udah ngantuk banget nih,'' jawab Axel, berdiri lalu mulai berjalan, diikuti oleh Lucky disebelahnya.
Sudah hampir tiga jam Lucky dan Axel duduk di luar Rumah sakit, dihalaman yang terdapat taman hijau membentang. Kerena tidak ingin mengganggu kebersamaan saudaranya yang baru saja menjadi pengantin baru, mereka lebih memilih menunggu di luar, meski udara terasa dingin.
Sebenarnya, mereka bisa saja pulang bersama kedua orangtuanya, namun, karena tidak tega meninggalkan Axela sendiri dalam menjaga suaminya mereka terpaksa ikut menemani di sana.
Akhirnya, mereka pun sampai di depan pintu kamar, Axel nampak berjalan di depan dan membuka pintu kamar.
Ceklek ...
Kamar pun di buka begitu lebar, namun, Axel seketika menutupnya kembali karena melihat saudara kembarnya sedang bercumbu begitu mesranya di atas ranjang, dia pun membulatkan matanya secara sempurna, merasa terkejut.
Lucky yang melihat ekspresi sang Kaka, di tambah pintu yang langsung di tutup kembali pun merasa heran dan sama sekali tidak mengerti, mengapa kakaknya tersebut melakukan hal itu.
''Ada apa Abang? kenapa pintunya di tutup lagi? apa terjadi sesuatu di dalam?'' tanya Lucky hendak masuk ke dalam kamar.
''Sudah jangan lihat, lebih baik kita diluar aja dulu, apa sebaiknya kita pulang saja, ya ...?'' jawab El meraih bahu sang adik, dan memapahnya sedikit menjauh dari pintu.
''Tapi ada apa, Abang? Apa mereka sedang-'' Lucky tidak meneruskan ucapannya, karena mulutnya langsung di tutup oleh sang Kaka.
''Stt ... Diam, nanti para penjaga itu dengar,'' El dengan sedikit berbisik.
''Jadi benar ...?''
''Nggak, bukan itu maksud Abang. Akh sudahlah, kita duduk saja di kursi itu, mau tidak mau kita harus tidur di luar malam ini,'' jawab El.
Dia pun duduk di kursi tunggu yang berada di luar kamar diikuti oleh Lucky yang duduk di samping sang Kaka, dengan wajah yang sedikit cengengesan.
''Kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu?'' tanya Al, menatap wajah sang adik.
__ADS_1
''Nggak ko, gak apa-apa, cuma pacarnya kak Al bukannya masih sakit, ya ...?''
''Bukan Kacar lagi, tapi SUAMI ... ingat ya, sekarang kakak kamu sudah menikah ...?'' El penuh dengan penekanan.
''O iya, aku sampai lupa. Aku masih belum percaya kak Al sudah menikah sekarang?'' Lucky menunduk.
''Udah jangan ngebayangin yang macam-macam, kamu kan masih kecil, Dek ...''
''Abang, aku sudah bilang, aku bukan anak kecil lagi, tahun depan aku sudah masuk Sekolah Menengah Atas lho ...'' Lucky mengerucutkan bibirnya.
''Baru tahun depan 'kan? sekarang tetap saja kamu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.''
''Iya, tapi aku juga udah dewasa ko, buktinya aku udah punya pacar, kami bahkan udah berciuman juga.''
''O ya ...? gimana rasanya ...?'' El dengan sedikit meledek.
''Abang, jangan tanya kayak gitu, akh ... Malu tau ...?''
''Oke, kak. Aku gak akan berani berbuat lebih, tapi kalau cuma lebih dikit, masih boleh 'kan?'' tanya Lucky dengan sedikit cengengesan.
''Hus ...! tetap gak boleh, titik ...'' jawab Axel dengan penuh penekanan.
''Ikh, Abang ...''
''Demi kebaikan kamu juga, Dek. Kamu tau, kalau yang namanya **** bebas itu berawal dari icip-icip dikit, lama-lama pengen nyoba lebih, akhirnya kebablasan deh.''
Lucky terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh sang kaka. Dia pun menganggukkan kepala kemudian, tanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya tersebut.
Keesokan harinya.
Axela mulai membuka mata, mengedipkan'nya perlahan serta mengusapnya pelan, mencoba menyesuaikan sinar matahari yang perlahan masuk kedalam ruangan melalui celah gorden, dan sedikit menyilaukan matanya.
__ADS_1
Dia pun tersenyum senang, tatkala orang yang pertama kali dia lihat adalah Gabriel, laki-laki yang kini telah sah menjadi suaminya.
Al pun turun dari atas ranjang, setelah merasa puas menatap setiap jengkal wajah suaminya tersebut, lalu dia menatap sekeliling mencari kedua saudaranya.
'Lucky sama Abang kemana? katanya mau nginep di sini? ko gak ada? apa jangan-jangan mereka sudah pulang?' ( Batin Axela )
Kemudian dia pun berjalan ke arah pintu keluar dan membukanya, seketika Al pun merasa terkejut karena melihat kedua saudaranya tertidur di kursi yang berada di luar kamar.
''Kalian ...? kenapa tidur di luar?'' teriak Al merasa kesal.
Lucky dan Axel pun seketika bangun mendengar teriakan Axela.
''Ada apa si, kak? teriak-teriak ... Masih pagi tau, masih ngantuk banget nih ...'' tanya Lucky, menguap lalu merentangkan kedua tangannya.
''Kami gak mau ganggu kamu, makannya kami tidur di luar, padahal di luar dingin lho,'' ucap El, melakukan hal yang sama dengan Lucky, namun dia kembali menutup matanya.
''Ya makannya, bukannya masuk sana si ...'' ucap Al dengan wajah yang terlihat sedikit memerah.
''Tadi kan, Abang sudah bilang, takut ganggu kakak.''
''Ganggu apaan? suami kakak masih sakit, mana mungkin kita melakukan hal itu, di Rumah Sakit pula, ngaco kamu,'' jawab Al dengan wajah yang sedikit kesal.
''Tau, tuh Abang, dia yang nyuruh aku tidur di luar,'' Lucky menatap wajah Axel.
Yang ditunjuk pun kini sudah kembali memejamkan mata, bahkan dengan sedikit mengeluarkan dengkuran kecil, membuat Lucky sedikit kesal, lalu menggoyangkan tubuh kakak pertamanya itu.
''Abang, bangun. Kita harus sekolah,'' ucap Lucky.
''Iya-iya, Dek. Sebentar lagi, Abang ngantuk banget nih.'' Jawab Axel.
___________---------___________
__ADS_1