
Ayu nampak mengusap matanya yang kini basah dengan air mata, apa yang baru saja dikatakan oleh kekasihnya itu benar-benar membuat Ayu merasa terharu sekaligus tidak menyangka bahwa dia akan mendapatkan kejutan seperti itu, sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Laki-laki bernama Lucky Pratama itu mengatakan bahwa dia mencintai dirinya di depan semua orang tanpa rasa malu sedikitpun.
Apalagi sekarang laki-laki tampan dengan segudang prestasi itu mulai turun dari atas panggung menghampiri dirinya dengan tersenyum begitu manis, membuat semua murid yang berada di dan bersorak merasa iri, sekaligus terkesima.
Lucky berlutut tepat di depan Ayu, tangannya nampak dimasukan ke dalam saku jas hitam yang dipakainya lalu mengeluarkan sesuatu.
"Luck ...? Apa ini?" tanya Ayu, menatap tangan Lucky yang saat ini menggenggam kotak cincin berwarna merah, lalu membukanya.
"Aku sengaja menyiapkan ini untuk kamu, ini adalah cincin pengikat kita, setelah kamu memakai cincin ini gak ada satupun siswa di sekolah ini yang akan mendekati kamu," lirih Lucky, menyematkan cincin bertahta berlian itu di jari manis Ayu.
Semua murid pun bertepuk tangan serempak, suara tepuk tangan yang terdengar kompak itu pun sukses membuat kejutan yang di berikan oleh Lucky terlihat begitu sempurna.
"Terima kasih, Luck ... I Love You ..." Ucap Ayu menatap wajah kekasihnya.
"I Love You too, sayang ..."
🍀🍀
Satu bulan kemudian.
"Sayang ... Ambilin dasi warna hitam, cepetan. Aku ada meeting penting hari ini," teriak Leo berdiri di depan cermin.
"Iya, sebentar. Gak sabaran banget sih?" Gerutu Adelia menggenggam dasi yang diminta oleh suaminya itu.
"Sekalian pasanganin, istriku sayang." Leo sedikit membungkukan tubuhnya, agar lehernya bisa sejajar dengan wajah Adelia.
__ADS_1
"Hmm ... Kamu ini udah tua juga masangin dasi gini aja masih harus di pakein, hadeuh ..." Gerutu Adelia dengan tangan yang mulai mengikatkan dasi tersebut di leher suaminya.
"Kamu kalau lagi ngambek gitu lucu deh," goda Leo, mengecup bibir sang istri.
Cup ...
Suara kecupan Leo terdengar nyaring.
"Ish ... Kamu, diam dulu. Nanti kalau dasinya gak rapi aku juga yang dimarahin."
"Kapan aku pernah marahin kamu, sayang?"
"Hmm ..." Adelia hanya bergumam.
"Hari ini ada meeting penting, aku harus terlihat rapi, aku gak mau kalah sama si Axel."
"Nggak, bukan gitu maksud aku. Tapi-"
"Tapi-?" Adelia mengulangi ucapan suaminya.
"Tapi aku hanya ingin terlihat seperti kakaknya dia, bukan ayahnya," celetuk Leo membuat Adelia tertawa lepas.
"Ha ... ha ... ha ...! Ngaco kamu, sayang. Ingat umur, kamu udah tua, usia kamu udah lebih dari setengah abad, mana bisa di kira kakaknya Axel, hadueh ... Dasar Leonardo ..." tawa Adel terdengar renyah.
"Apa ...? Leonardo ...?"
"Iya, emang itu nama kamu 'kan?"
__ADS_1
"Nggak, aku lebih suka kamu panggil aku dengan sebutan 'Sayang' atau kalau tidak 'Mas Tampan'."
"Ha ... ha ... ha ...! Iya Sayang, Mas Tampan."
"Nah gitu dong, 'kan enak di dengernya."
"Nah ... akhirnya selesai juga, coba periksa apa masih kurang rapi?"
"Gak usah, aku yakin kalau kamu yang pasangin pasti rapi ko." Jawab Leo kembali mengecup bibir sang istri.
"Apa kamu yakin ingin menyerahkan perusahaan sama Axel sekarang?" tanya Adel sesaat setelah suaminya melepaskan kecupannya.
"Iya, aku yakin. Saaaangat yakin. Aku lelah banget, aku ingin menghabiskan masa tua dengan kamu, hanya kita berdua di rumah peninggalan ibu, tentu saja, rumah itu akan aku perbaiki dulu, biar kita nyaman tinggal di sana. Kamu gak keberatan 'kan kalau kita kembali ke desa?"
"Nggak, sayang. Justru aku senang banget bisa tinggal lagi di rumah itu. Itu adalah satu-satunya peninggalan ibu yang ingin aku rawat dan aku jaga, kita sudah terlalu lama juga membiarkan rumah itu dalam keadaan kosong." Jawab Adelia, mengusap dada bidang suaminya.
"Makasih, sayang. Mari kita habiskan sisa umur kita di sana, di desa kecil yang indah, berdua sampai ajal memisahkan kita berdua,'' lirih Leo kembali menc*um bibir sang istri, kali ini dia menenggelamkan bibirnya dalam-dalam.
Adelia menyambut kecupan mesra suaminya, dia bahkan melingkarkan tangannya di leher Leo seraya mel*mat bibir suaminya itu buas.
Di usia mereka yang sudah semakin tua kini, tidak menjadi halangan untuk sepasang suami-istri yang telah memiliki tiga cucu itu untuk selalu bersikap romantis dan juga mesra.
Rasa cinta sang suami bahkan tidak berkurang sedikitpun, masih tetap sama seperti 20 tahun yang lalu saat mereka baru pertama kali menikah dan Adelia sangat mensyukuri hal itu. Bersyukur karena telah di pertemukan dengan laki-laki bernama Leonardo.
Mafia tampan yang telah memberinya kebahagiaan yang sempurna sebagai seorang wanita, wanita yang semula hanya seorang penjual gorengan biasa.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1