
Lucky, segara meraih tubuh lemas Emillia yang sudah dalam keadaan setengah tersadar, menggendong'nya dan membaringkannya di atas kursi ruang tamu.
Emillia pun sedikit membuka mata, dan menatap wajah Lucky dengan dada yang terlihat naik turun.
''To-long am-bilkan alat bantu napas di dalam kantong yang kamu bawa ini,'' Emillia mencoba berucap meski dadanya masih terasa berat dan sesak.
Lucky pun segera memberikan alat yang dimaksud dan memberikan'nya kepada Emilia. Setelah alat itu di hisap perlahan, kondisi Emilia pun berangsur tenang.
''Ibu sakit apa? apa ibu mengidap penyakit Asma?''
Lucky memberanikan bertanya.
Emilia hanya tersenyum, meski keadaanya sudah sedikit tenang, namun tubuhnya masih terasa lemas, akibat terlambat menghirup alat bantu bernapas'nya, dengan keringat yang membasahi pelipis wajahnya.
''Terima kasih, Luck. Kalau sampai kamu terlambat datang, mungkin ibu sudah wafat sekarang.''
''Ibu jangan bilang begitu, sekarang bagaimana? apakah ibu sudah merasa baikan?'' wajah Lucky terlihat cemas.
Emilia pun mengangguk dengan sedikit memejamkan mata.
''Ya sudah, ibu istirahat saja, ya. Saya akan menjaga ibu di sini.''
Emilia kembali mengangguk lalu mulai memejamkan mata.
Lucky, dia menatap wajah Emilia yang terlihat pucat pasi, entah mengapa ada rasa sakit yang menyelusup di dalam hatinya, melihat wanita yang menatap dengan seksama hingga matanya pun tidak berkedip sama sekali.
''Kenapa kamu menatap wajah ibu seperti itu?''
Emil sedikit membuka mata.
''Eu... Tidak, Bu. Saya hanya---'' Lucky terlihat gugup.
''Kamu bisa pulang sekarang, ibu sudah tidak apa-apa, ko.''
''Tidak, Bu. Saya akan menunggu di sini, sampai ibu sudah benar-benar baikan.''
Emillia pun mengangguk pelan, lalu kembali memejamkan mata. Sampai akhirnya dia benar-benar terlelap.
Lucky, memberanikan diri meraba kening Emillia yang terlihat berkeringat, dia pun terkejut seketika karena tubuh wanita dewasa nan cantik itu terasa sangat dingin, sedingin es.
Merasa panik dia pun menatap ke sekeliling mencari selimut tebal, dan akhirnya matanya tertuju pada kamar pribadi yang memang dalam keadaan terbuka.
__ADS_1
Dia berjalan ke dalamnya dan meraih selimut tebal yang melipat di atas pembaringan. Setelah itu dia pun menutup tubuh Emilia dengan selimut tersebut, menurut seluruh tubuhnya hingga hanya tersisa wajah cantik Emillia yang terlihat pucat dan dalam keadaan terpejam.
Lucky pun duduk di ujung kursi, kembali menatap wajah wanita tersebut, menatap dengan tatapan mata sayu, merasa iba.
Dia pun kembali meraba keningnya, yang masih terasa dingin, bahkan kali ini dia meraba seluruh tubuhnya, yang juga terasa sangat dingin.
'Kenapa dingin sekali? apa yang harus aku lakukan?'
Lucky bergumam pelan.
Setelah berfikir sejenak, dia pun memutuskan untuk memberikan kehangatan dengan ikut berbaring di kursi bersama Emillia. Dengan sangat hati-hati dia pun masuk kedalam selimut tebal tersebut, berbaring tepat di samping Emillia seraya memeluk tubuh ramping wanita yang merupakan wali kelasnya si sekolah.
Perlahan Lucky menatap wajah Emilia, yang saat ini berada begitu dekat dengan wajahnya, bibirnya sedikit mengembang, karena wajah wanita dewasa tersebut terlihat begitu cantik di matanya. Sampai akhirnya dia pun ikut memejamkan mata, seraya memeluk erat tubuh Emillia.
Dua jam kemudian, Emillia mulai membuka mata, dirinya terkejut seketika mendapati anak didiknya berbaring bersama dirinya di dalam satu selimut yang sama.
Sesaat Emilia pun menatap wajah Lucky yang terlihat tampan sempurna seolah tanpa cela, rambutnya yang sedikit berantakan, mata bulatnya yang saat ini sedang terpejam, hidung mancung serta kulit putih di tambah bibir sensualnya, membuat Emillia merasa gugup dan bergetar seketika.
Panik, dia pun mendorong tubuh Lucky hingga remaja tampan itu pun jatuh ke atas lantai.
Bruk
''Argh...''
''Sedang apa kamu di atas sini?'' tanya Emillia dengan nada suara yang sedikit terbata-bata.
''Argh... sakit, Bu...''
''Ibu tanya, kenapa kamu tidur bersama ibu di sini?''
''Maaf, tadi badan ibu dingin sekali, setelah di tutup selimut pun masih terasa dingin, jadi saya memutuskan untuk memberikan kehangatan,'' jawab Lucky dengan sedikit terbata-bata dan wajah yang memerah menahan rasa malu.
''Bohong, kamu pasti hanya modus kan?''
Emilia menutup dada dengan kedua tangannya seraya membulatkan bola matanya.
''Sungguh, saya tidak bohong, Bu.''
''Dasar mesum...''
Emillia memukulkan telapak tangan'nya tepat di tubuh Lucky, hingga dia pun meringis kesakitan sambil menepis lengan Emillia secara pelan.
__ADS_1
''Cepat keluar kamu dari rumah saya?'' pinta Emil dengan menunjuk satu tangan'nya ke arah luar.
''Dengarkan dulu penjelasan saya, Bu. Saya sungguh tidak ada niat untuk berbuat mesum ataupun lainnya, saya hanya ingin membantu ibu.''
''Saya tidak percaya, cepat keluar,'' kali ini tubuh Lucky di dorong keluar dari dalam rumah.
Blug
Pintu pun di tutup secara kasar, dengan tubuh Lucky tepat berada di luar dengan wajah memerah dan detak jantung yang tidak beraturan, napasnya pun terlihat naik turun.
Lalu tidak lama kemudian pintu pun di buka kembali, Emilia melempar kunci mobil milik Lucky yang tertinggal di dalam rumah, melemparnya begitu saja hingga tepat mendarat di atas tangan Lucky.
***
''Adikmu kemana, sudah hampir malam ko belum pulang juga?'' tanya Adelia memasuki kamar Axel.
''O ya? Lucky belum pulang?''
Sang ibu mengangguk.
''Ya sudah aku cari dia sekarang,'' Axel bangkit dan berjalan keluar dari dalam kamar, di ikuti oleh ibunya satu arah belakang.
Keduanya menuruni tangga, bejalan dengan setengah berlari, Axel pun meraih ponsel dari dalam saku celananya, hendak menelpon adik bungsu'nya tersebut. Namun dia pun mengurungkan niatnya, saat melihat adiknya tersebut, berjalan dengan langkah yang terlihat gontai, dan wajah lesu juga muram. Axel segera menghampiri, begitupun dengan Adelia, sang ibu.
''Kamu dari mana, dek? jam segini baru pulang? Abang baru aja mau nyari kamu,'' tanya Axel berjalan mendekat.
Yang di tanya hanya terdiam, menunduk dengan wajah muram dan rambut sedikit berantakan. Axel dan ibu pun saling pandang, melayangkan tatapan heran, seraya mengerutkan keningnya.
Tidak menanggapi pertanyaan Kaka serta ibunya yang saat ini menatap dirinya, Lucky terus melanjutkan langkahnya berjalan memasuki kamar, dan tentu saja di ikuti oleh Axel dan juga sang ibu dari arah belakang.
Ceklek
Lucky membuka kamar, masuk ke dalamnya lalu membanting tubuhnya ke atas pembaringan, berbaring terlentang menatap langit-langit kamar, melayangkan tatapan kosong.
Tidak lama kemudian, sang Kaka pun masuk ke dalam kamar, menatap wajah sang adik, lalu berbaring di sebelah'nya.
''Kamu kenapa? wajahmu muram sekali? apa ada yang ngebully kamu? bilang sama Abang, nanti Abang sikat.''
''Bang, bagaimana rasanya jatuh cinta...?''
Tanya Lucky secara tiba-tiba.
__ADS_1
__________------------__________