Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Hampir Melewati Batas


__ADS_3

Axel segera menyambut sentuhan lembut bibir Amora yang perlahan kenyal menyentuh bibir sensualnya, sesuatu yang sedari tadi dia tahan seolah sia-sia sudah, karena gejolak dalam jiwanya semakin tidak dapat lagi di bendungnya sekarang, apalagi saat ini keduanya sedang berada di dalam kamar, dan tidak ada siapapun lagi di sana.


Keduanya saling memutarkan kepala, menyesap dan saling menautkan bibir secara perlahan, dengan mata yang saling terpejam, Amora melingkarkan lengannya di leher Axel, sementara Axel memeluk pinggang ramping Amora, memeluknya dengan begitu erat hingga gunungan kembar milik gadis itu semakin terasa hangat menyentuh dada bidangnya.


Keduanya seolah larut dalam sebuah kenikmatan, kenikmatan yang seharusnya tidak mereka lakukan karena keduanya belum resmi berpacaran.


Entah apa yang merasuki kedua manusia itu sekarang, saling melangkah mundur dengan bibir yang masih saling bertautan, hingga akhirnya keduanya sampai si tepi ranjang dan menjatuhkan tubuh mereka masing-masing di atasnya dan tentu saja dengan bibir yang masih dalam keadaan tarik menarik, merasakan ga*** yang kian membuncah.


Tangan Axel kini bahkan naik menjamah gunungan kembar yang sudah sedari tadi menggantung indah begitu ranum dan seolah menggoda jiwanya serta membangunkan naluri dirinya sebagai seorang Laki-laki muda.


Dia pun berada di puncak gunungan itu, meremas seraya memainkan ujungnya, membuat Amora menggeliat merasakan sebuah keni*****.


Tidak puas hanya menjamahnya dari luar, kini tangan Axel pun masuk ke dalam dress hitam milik Amora dan menjamah gunungan kembar itu secara langsung, membuat gadis cantik berambut pirang tersebut melepaskan tautan bibirnya, dan kini mengigit bibir bawahnya, dengan mata yang masih terpejam.


''I Love you, Amora...!'' Lirih El, berbisik di telinganya.


''I Love you to, Axel...!''


''Maukah kamu menjadi pacarku?''


Amora mengangguk lalu membuka mata, dan keduanya pun kembali saling menautkan bibir, bahkan kali ini lebih buas dan lebih ber****, dengan lengan El masih berada di puncak sana terus memainkan ujungnya membuat gadis yang bernama lengkap Amora Patricia itu semakin menggeliat merasakan ken*****.


Setelah puas memainkan, kini kepala pria yang sedang berada di puncak ga*** itu turun berada tepat di benda kenyal yang tadi dia mainkan yang kini telah mengeras dan membuat ujungnya berwarna pink menggoda.


Dia pun menyesapnya perlahan, memainkan puncaknya dengan sesekali menggigitnya pelan. Suara de*** pun keluar dari bibir Amora,mende**** merasakan ken****** yang tiada Tara.


Axel pun melakukan hal tersebut secara bergantian dari gunung satu ke gunungan yang lainnya, membuat Amora menggeliat benar-benar merasakan ke******.


Gejolak dalam diri keduanya kini benar-benar sudah berada di puncak dan semakin tidak dapat lagi di kendalikan, sampai akhirnya tangan Axel turun dan hendak masuk ke dalam segitiga berwarna hitam milik Amora, namun, belum juga dia melakukan hal itu, ponselnya yang dia simpan di saku celana jeans nya tiba-tiba saja berdering yang sontak membuat El menghentikan gerakan, dan melemaskan ototnya yang tadi sempat menegang.


El merogok saku celananya dengan perasaan kesal, dan wajah yang memerah, dia pun menatap layar ponsel lalu mengangkat telepon.


''Halo... mom..." El mengangkat telpon.


"Kamu dimana, El?"


"Eu, aku ada di tempatnya Amora, mom. Ada apa?"


"Cepat ke Rumah Sakit, apa kamu tahu Lucky memperkenalkan pacarnya hari ini? dia ada di sini sekarang, semua'nya berkumpul, hanya kamu saja yang tidak ada."

__ADS_1


"Benarkah? ya sudah aku ke sana sekarang, mom..."


El menutup telpon, lalu mengusap wajahnya secara kasar, andai saja ibunya tidak menelpon dirinya, mungkin saja saat ini dia telah melewati batas, bersama Amora yang kini meringkuk membelakangi tubuhnya.


El pun merapatkan tubuhnya, lalu meringkuk tepat di belakang tubuh Amora, melingkarkan lengan di perut ramping gadis tersebut


"Maaf, karena aku hampir saja melewati batas," El berbisik di telinga Amora.


Gadis itu pun berbalik dan kini meringkuk saling berhadapan.


"Apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan tadi?"


"Yang mana?"


"Kamu serius meminta'ku untuk jadi pacar kamu? itu beneran keluar dari hati kamu yang paling dalam, kan? bukan karena kamu sedang di kuasai nafsu b****?''


"Tentu saja, memang itu sebenarnya tujuanku datang kemari, aku ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini aku pendam, kepadamu Amora. Apa aku perlu mengulanginya lagi?''


Amora mengangguk, menatap wajah pria tampan dengan ketampanan sempurna seolah tanpa cela.


''Amora Patricia, maukah kau menjadi pacarku, menemani hari-hari ku ke depan, dan mengukir kenangan indah bersama?'' ucap El menatap wajah Amora dengan tatapan mata yang terlihat tulus.


Keduanya pun saling berpelukan, kemudian El mengecup kening Amora dengan penuh kasih sayang dan mata yang di pejamkan.


''Sekarang kita ke rumah sakit, yu. Kata mommy, Lucky mengenalkan pacarnya, mereka ada di Rumah Sakit sekarang.''


''O ya...? wah sungguh sebuah kejutan, tapi, sayang, aku kangen sekali naik motor, boleh ya kita ke sana terpisah, aku ingin mengendarai motorku?''


''Hmm... gimana ya...? aku kurang setuju, gimana kalau kita ke sana bersama, naik motor kamu?''


''Boleh...! ya udah aku ganti baju dulu ya.''


Axel mengangguk, lalu keduanya pun bangkit.


***


Di Rumah Sakit.


''Abang dimana, mom...?''

__ADS_1


''Dia lagi ke sini sekarang, sama Amora juga.''


''Syukur deh, sayang, kamu tidak sedang sibuk, kan?'' Lucky mengalihkan pandangannya kepada kekasihnya.


''Iya, hari ini aku tidak ada kegiatan apapun, ko.''


''Baiklah...!''


''Emillia, nanti kapan-kapan Tante undang kamu makan malam di rumah ya, Tante kenalin sama ayahnya Lucky, dia pasti senang.'' ucap Ibu Adelia.


''Baik, Tante...''


Ceklek


Pintu pun di buka dan Axel masuk kedalamnya bersama Amora, dengan tangan yang saling bertautan, berpegangan erat.


Lucky, Emillia dan sang ibu pun menatap keduanya lalu menatap tangan mereka yang masih berpegangan dengan begitu eratnya.


''Abang...! Itu...?'' Lucky menunjuk lengan sang Kaka.


''Iya, kami berpacaran sekarang,'' jawab El mengacungkan genggaman tangannya.


''Kalian juga?'' ucap sang ibu.


Axel dan Amora mengangguk lalu tersenyum, tersipu malu.


''Wah, putra-putra ibu sudah dewasa rupanya,'' Adel menggelengkan kepalanya dengan tersenyum menatap satu-persatu putranya secara bergantian.


''O iya, bang. Kenalkan dia Emillia, pacar aku.''


Emillia bangkit dan mengulurkannya tangannya dan segera di sambut oleh tangan Axel dengan tersenyum, keduanya saling berkenalan begitupun dengan Amora.


Setelah itu Axel berjalan menghampiri ranjang dimana tempat kembarannya berbaring dan memejamkan mata, dia menatap wajah Axela dengan tatapan iba.


Tiba-tiba saja, pandangan matanya tertuju pada secarik kertas yang sudah dalam keadaan tergulung, tersalip di tepi ranjang, El segera meraihnya, membuka lalu membacanya.


___________---------_____________


promosi

__ADS_1



__ADS_2