
Alex menatap tubuh musuh bebuyutan'nya dengan mata dan perasaan yang tidak percaya, sekarang Leonardo, bos mafia yang selama ini menjadi musuhnya, dan tidak pernah mau mengalah dan sombong itu kini berlutut di hadapannya.
Meminta maaf serta mengaku salah atas semua yang telah di lakukanya. Akh... apakah dunia ini telah terbalik? kemana kesombongan itu? dimana rasa percaya tinggi yang tingginya selangit yang selalu di tunjukan oleh orang yang bernama Leonardo, itu.
Batin Alex masih merasa tidak percaya.
''Alex, aku tahu aku salah, aku juga tahu bahwa apa yang telah aku lakukan dahulu membuat kau hidup merana dan tersiksa, tapi bukankah pembalasan dendam'mu kepada aku sudah lebih dari cukup?''
''Pertama, kau merenggut nyawa ibuku, mengganggu keluarga kecilku, dan yang terakhir, kamu dan istri'ku...''
Leo menghentikan ucapannya, tak kuasa untuk meneruskan, terlalu menyakitkan baginya harus mengucapkan bahwa Alex telah meniduri istri kesayangan'nya.
''Kamu lihat sekarang, istri'ku, dia dalam keadaan koma, semua itu karena dia tidak sanggup menanggung beban yang di akibatkan oleh perbuatan mu kepada'nya, selama mengandung sembilan bulan, dia terus menanggung kesedihan yang teramat dalam, akibat dirimu,'' Leo mulai berkaca-kaca, mengangkat kepalanya menatap wajah Alex, yang saat ini sedang menatap wajah dirinya.
''Apa aku sedang bermimpi? aku sudah lama menunggu permintaan maaf darimu, Leo. Andai saja kau melakukan ini dari dulu, mungkin aku tidak akan menjalani kehidupan yang seperti ini,'' jawab Alex akhirnya.
''Tidak, ini nyata, ini sungguh bukan mimpi, aku bersimpuh di sini, di hadapan'mu, meminta maaf dan meminta berdamai dengan'mu, Alex. Mari kita akhirnya semuanya sekarang, heuh...''
__ADS_1
Alex hanya terdiam.
''Alex...? kenapa kau diam saja? apakah kau menerima permohonan maaf'ku ini?'' Leo menatap wajah Alex, menatap penuh rasa harap.
''Aku akan pikirkan dahulu permohonan maaf'mu ini,'' jawab Alex berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Leo yang masih dalam keadaan berlutut.
Kini, Leo duduk lemas di atas lantai, kepalanya menunduk menatap lantai rumah sakit yang terasa amat dingin di kakinya, buliran air mata pun perlahan membasahi lantai, mengapa Leo begitu rapuh, sehingga air mata itu dengan begitu mudahnya turun bercucuran.
Tidak lama kemudian, terdengar suara Ryan dari arah kejauhan, memanggil namanya dengan nada suara yang terdengar senang.
Leo tak bergeming, dia masih menunduk merasakan kesedihan yang teramat dalam.
''Bangun bos, aku membawa kabar gembira untuk'mu,'' ucap Ryan sesaat setelah dirinya sampai dan berdiri di samping bosnya, dengan napas yang masih terengah-engah.
Leo pun akhirnya mengangkat kepala, menatap wajah Ryan dengan rahang yang masih terlihat basah dengan air mata.
''Nyonya...! Nyonya...! dia bangun bos..."
__ADS_1
"O ya?"
Leo tersenyum akhirnya. Dia pun bangkit, berdiri dan langsung berlari menuju ruang ICU dimana istrinya berada.
'Terima kasih sudah bangun, sayang.'
Batin Leo, seraya terus berlari. Dia pun akhirnya sampai di depan ruang ICU, berdiri dan mengatur napas terlebih dahulu sebelum dia membuka pintu.
Ceklek
Leo membuka pintu ruangan, berjalan pelan menghampiri Adelia yang kini sudah membuka mata secara sempurna, rasa haru pun kini memenuhi relung hatinya, kesedihan yang semula dia rasakan berubah menjadi rasa bahagia yang tidak terkira.
Tersenyum, dan menangis secara secara bersamaan, itulah gambaran wajah seorang Leonardo sekarang, menatap penuh rasa bahagia wajah istrinya yang kini telah terbangun dari koma.
_________--------________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️💓💓
__ADS_1