
''Kalian dengar, aku sudah membuat janji dengan si brengsek Leonardo, dua Minggu lagi kita akan bertarung habis-habisan, persiapkan diri kalian, aku mau kalian bertarung sampai titik darah penghabisan,'' teriak Revan, berdiri di antara lebih dari 20 anak buahnya.
''Baik, bos ...'' jawab mereka serempak.
Topan yang berdiri tepat di samping Revan pun menatap cemas wajah bosnya tersebut, dia ingin sekali mengatakan sesuatu yang dia ketahui tentang Ayu yang ternyata berpacaran dengan anak dari musuh bebuyutan bosnya itu.
''Bos, bisakah kita bicara sebentar, aku ingin melaporkan sesuatu yang penting,'' pinta Revan akhirnya memberanikan diri.
''Apa ...? katakan saja di sini,'' jawab Revan menoleh.
''Ini soal pacar putri bos, Ayu.''
''Ish, kamu ini. Aku sudah bilang, jangan ngurusin urusan percintaan anak muda, biarkan mereka bersenang-senang,'' Revan membulatkan bola matanya.
''Tapi ini penting sekali, bos.''
''Sudah, jangan bicara lagi, kalau tidak? aku potong lidahmu itu ...'' teriak Revan geram.
Topan tidak menyerah.
''Dia putra si Leonardo ...!'' ucap Topan akhirnya.
''Apa ...? siapa maksud kamu?'' Revan terkejut membulatkan bola matanya.
''Putri bos berpacaran dengan putra si Leonardo,'' meski ragu-ragu akhirnya Topan mengatakannya dengan lantang.
''Kamu gila? mana mungkin si Lucky anaknya si Leonardo itu.''
''Itu benar, bos. Dan aku benar-benar yakin, karena aku melihat dengan mata kepala sendiri pemuda itu keluar masuk rumah si Leo.''
''KURANG AJAR ... BAJINGAN ... HA ...'' Revan berteriak kencang dan menendang perut Topan brutal ...
''Brengsek kamu, kenapa baru bilang sekarang ...''
''Argh ... ma-af bos, aku sudah berusaha mengatakannya dari kemarin, tapi bos selalu melarangku bicara,'' ringis Topan, mengusap perutnya.
''HAA ... KURANG AJAR ...'' Revan benar-benar murka ... dia menendang kursi yang berada di depan matanya.
__ADS_1
''Kenapa putriku bisa berpacaran dengan putranya si brengsek itu, kenapa ...? aku bahkan telah membiarkan mereka tidur bersama ...'' teriak Revan.
Hatinya benar-benar hancur, dia sama sekali tidak menyangka ternyata pria yang dia anggap baik dan dapat membantu putrinya untuk sembuh dari kecanduannya akan barang haram, ternyata putra dari pria yang sangat dia benci.
''Tidak ada pilihan lain, aku harus memisahkan mereka berdua, aku tidak Sudi punya menantu apalagi sampai berbesanan sama si Brengsek itu,'' geram Revan mengepalkan tangannya.
''Apa kamu tau, dimana putriku berada sekarang?'' tanya Revan, menatap tajam wajah Topan.
''Sepetinya Nona Ayu sedang ada di rumah pacarnya, bos. Di rumah si Leonardo,'' jawab Topan, mundur satu langkah merasa takut akan mendapatkan bogem mentah lagi.
''Apa ...? benar-benar kurang ajar ...''
Revan merogoh saku celananya, meraih kembali ponselnya lalu menelpon putrinya tersebut.
Tut ... Tut ... Tut ...
Suara telpon yang tidak di angkat.
Sementara itu, Ayu yang sedang asyik bercengkrama dengan Tante Adelia dan juga Axela, nampak terlihat begitu bahagia. Sambutan hangat dari keluarga besar Lucky benar-benar membuatnya senang.
Sampai akhirnya suara ponsel di saku celananya terdengar nyaring, Ayu pun merogoh saku celananya meraih dan menatap layar ponsel.
''Ayah ... ada apa dia menelpon ...?' ( Batin Ayu )
"Tante, kak Al, aku izin angkat telpon dulu ya,'' pinta Ayu berjalan keluar dari dalam dapur, berdiri di halaman belakang lalu mengangkat telepon.
📞 ''Halo, yah. Ada apa?'' tanya Ayu malas.
📞 ''Dimana kamu? cepat pulang sekarang juga, ayah sudah memesan panti rehabilitasi yang cocok untuk kamu, dan kamu akan segera berangkat ke sana siang ini juga.''
Duar ...
Ayu bagai tersambar petir, tubuhnya gemetar, matanya pun mulai berair, mengigit bibir bawahnya keras.
📞''Nggak, Yah. Aku gak mau pergi ke sana, aku yakin bisa sembuh meski tidak pergi ke sana, aku mohon, Yah. Jangan kirim aku ke sana, hiks hiks hiks ...'' jawab Ayu dengan suara gemetar.
📞''Keputusan Ayah sudah bulat, gak bisa di ganggu gugat. Satu lagi, sekarang juga kamu harus putus sama pacar kamu itu.''
__ADS_1
Bagai tersambar petir, lelehan air mata mulai berjatuhan kian deras membasahi pipinya, dia sama sekali tidak mengerti kenapa ayahnya tersebut bisa berubah begitu cepat, padahal tadi pagi dia masih bersikap lembut ramah pada kekasihnya itu.
📞 ''Ayu ... kamu dengar 'kan apa yang ayah katakan barusan, hah ...?''
Tut ...
Ayu menutup telpon seketika, tubuhnya hampir saja roboh, tapi untung saja tubuhnya segera di tahan oleh kedua tangan Lucky yang memang sedang berjalan mendekat dari arah belakang.
''Ayu ...? kamu kenapa? ada apa?'' tanya Lucky menopang tubuh Ayu dengan kedua tangannya.
''Ayah ... Ayah Luck. Dia akan benar-benar memasukan aku ke panti rehabilitasi, aku gak mau ... tolong aku, Luck ...'' lirih Ayu menatap nanar wajah Lucky.
''Kita duduk di sana, kamu tenang dulu ya. Ceritakan pelan-pelan, dan tenangkan dulu perasaan kamu,'' jawab Lucky memapah tubuh kekasihnya itu untuk duduk di kursi yang ada di halaman belakang rumahnya.
''Tolong aku, Luck ...'' lirih Ayu sesaat setelah duduk.
''Coba ceritakan pelan-pelan, jangan tergesa-gesa seperti ini.''
Ayu pun menceritakan semua yang tadi dibicarakan oleh sang ayah di telpon, dan Lucky nampak sangat terkejut seketika itu juga membulatkan matanya secara sempurna. Ada apa ini? kenapa Om Revan tiba-tiba saja berubah dan menyuruh Ayu mengakhiri hubungan mereka? bukankah tadi pagi sikap ayah dari kekasihnya itu masih baik kepadanya.
'Apa mungkin Om Revan sudah tau siapa aku sebenarnya? itu sebabnya dia menyuruh Ayu mengakhiri hubungan kita? ya Tuhan apa yang harus aku lakukan,' ( Batin Lucky merasa terguncang )
Lucky memeluk erat tubuh Ayu yang saat ini menangis sesenggukan, gadis itu bahkan mengigit ujung kuku jari jempolnya, merasa sangat ketakutan.
Baru saja dia merasakan kebahagiaan karena mendapatkan perlakuan hangat penuh kasih sayang dari keluarga kekasihnya itu, dan sekarang kebahagiaannya harus terhempas begitu saja menyisakan luka yang menganga yang terasa perih menggerogoti jiwanya.
''Tenang, sayang. Aku gak akan pernah meninggalkan kamu, aku gak akan pernah putus darimu, dan aku juga gak akan membiarkan ayah kamu membawamu ke sana, aku janji, sayang ...''
Ayu mengangguk di dalam dekapan hangat Lucky.
''Nanti biar aku bicara dengan ayahmu agar dia tidak jadi membawamu ke panti rehabilitasi, aku akan meyakinkan dia bahwa kamu bisa sembuh tanpa harus masuk ke tempat itu.''
''Apa maksud kamu, Dek? Siapa yang akan dimasukkan ke panti rehabilitasi? apa Ayu seorang pecandu barang haram ...''
Tiba-tiba terdengar suara Adelia sang ibu berjalan keluar dari arah dapur, membuat Lucky dan juga Ayu terkejut seketika melepaskan pelukan masing-masing.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1