
''Papi kalian dimana?'' tanya Adelia menatap sekeliling ruangan.
''Gak tau, Mom. Bukannya tadi dia di sini, ya?'' jawab El.
''Biar aku cari Papi, Mom.''
''Gak usah, kayaknya Mommy tau dia ada dimana?'' Adelia bangkit lalu berdiri dan berjalan ke arah dapur.
Sepertinya Adel sudah dapat menebak keberadaan suaminya, dia mengetahui suaminya itu pasti sedang berada di dapur sekarang, karena dahulu Leo sering menghabiskan waktu di sana bersama mendiang sang ibu saat beliau masih ada.
Tebakannya pun benar, Leo terlihat sedang duduk di lantai dapur dengan punggung yang bersandar tembok, wajahnya terlihat pucat dengan air mata yang terus bergulir membasahi wajah tampannya.
Adelia pun menghampiri dengan perasaan sedih, dia duduk tepat di depan sang suami. Kedatangan Adelia sedikit mengejutkan Leo yang memang sedang dalam keadaan melamun mengingat sosok mendiang ibu mertuanya, dia pun segera mengusap wajah dengan kedua tangannya.
''Sayang, sedang apa kamu sendirian di sini?'' tanya Adel menatap lekat wajah sang suami.
''Nggak ko. Aku hanya-''
''Kalau kamu ingin nangis? menangis'lah, jangan di tahan lagi, aku tau kamu sudah menahannya dari tadi siang,'' ucap Adelia menyela ucapan suaminya.
Mendengar ucapan sang istri, Leo pun segera memeluk tubuh Adelia, tangisnya pecah seketika di pelukan istrinya itu, tangis yang sedari tadi sudah dia tahan sekuat tenaga, kesedihan yang sedari tadi dia sembunyikan, akhirnya muncul juga kepermukaan, dia menangis sesenggukan di dalam pelukan sang istri, menumpahkan seluruh duka nestapa yang sedari tadi dia tutup rapat di dalam hatinya.
''Ibu, Del. Ibu ...! Aku gak sempat mengucapkan rasa terima kasihku padanya, hiks hiks hiks ...'' lirih Leo di dalam pelukan sang istri.
''Nggak sayang, apa yang sudah kamu lakukan selama ini sudah cukup untuk menunjukan rasa terima kasihmu kepada beliau, kamu adalah menantu kesayangan ibu, aku yakin ibu bahagia di atas sana,'' ucap Adelia mengusap punggung suaminya.
''Tapi tetap saja, aku merasa kehilangan beliau, aku gak nyangka kalau akan di tinggalkan secepat ini, aku belum siap kehilangan dia, Del. Hiks hiks hiks ...!''
__ADS_1
Adelia menahan rasa getir, dia tidak bisa mengatakan apapun lagi, karena dia pun merasakan hal yang sama, Adel hanya bisa mengusap punggung suaminya lembut, mencoba menenangkan.
Jika tadi siang suaminya yang mengusap punggungnya dan menenangkan dirinya, sekarang gantian Adelia yang melakukan hal tersebut, kini Adelia mendekap erat tubuh sang suami, menenggelamkan kepala sang suami di dadanya, seraya mengusap punggung sang suami pelan dan lembut penuh kasih sayang.
''Ibu, Del. Ibu ... hiks hiks hiks ...!'' tangis Leo masih terdengar pilu.
''Iya, sayang. Aku pun merasakan kesedihan yang sama seperti kamu, kita ikhlaskan kepergian ibu, dan kirimkan doa kepadanya agar dia tenang dan senang di atas sana,'' jawab Adelia terisak.
''Hiks ... hiks ... hiks ... Ibu ...!''
Adelia melepaskan pelukan sang suami, dia menatap wajah Leo yang terlihat basah dengan air mata, dia pun mengusap lembut rahang suaminya tersebut, menyingkirkan buliran air mata yang masih saja berjatuhan dengan begitu derasnya.
Leo mantap wajah teduh sang istri, wajahnya yang sembab masih saja terlihat cantik dimatanya meski kelopak mata istrinya terlihat sedikit membengkak.
''Maafkan aku, seharusnya aku lebih tegar, seharusnya aku bisa lebih kuat dari kamu, tapi ternyata aku tak se'tegar dan tak sekuat yang terlihat, nyatanya aku sangat rapuh dan masih belum bisa menerima kepergian ibu,'' ucap Leo, masih terisak.
''Gak apa-apa, gak ada satupun orang di dunia ini yang bisa tegar dan kuat kehilangan orang yang dikasihi, begitupun kamu, aku dan kita semua. Kami sangat terpukul dengan kepergian ibu, dan kamu gak boleh merasa bahwa dirimu rapuh, sayang ...'' jawab Adelia meletakan kedua telapak tangannya di rahang sang suami.
''Kita masuk, yu. Anak-anak menunggu kita di dalam.''
Leo kembali menganggukkan kepalanya.
Keduanya pun berdiri dan berjalan masuk ke dalam.
Leo dan Adelia duduk saling berdampingan, dengan tangan yang saling menggenggam, mereka duduk di tengah-tengah putra-putrinya yang memang sudah sedari tadi menunggu kehadirannya.
Axela, dia duduk bersama sang suami, Gabriel. Sedangkan Lucky dan El duduk saling berdampingan dengan Amora juga yang duduk tepat di samping Axel.
__ADS_1
Sedangkan Emillia, dia duduk di teras rumah, pikirannya nampak melamun memikirkan nasib dirinya setelah ditinggalkan oleh Nenek Sarah yang merupakan pemilik rumah.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? apakah dia harus pindah dari rumah itu? tapi dimana lagi dia harus tinggal? tidak ada satupun orang yang dia kenal di desa itu.
Saat dirinya sedang larut dalam lamunan panjangnya, tiba-tiba saja Leo memanggil nama Emillia dan memintanya masuk ke dalam rumah.
''Emil ... Masuklah, ada yang ingin Om bicarakan,'' panggil Leo.
''Baik, Om.''
Emil masuk ke dalam rumah dengan perasaan canggung sebenarnya, karena hanya dirinya orang asing yang berada di sana, di tambah lagi, Lucky yang juga berada di ruangan yang sama membuat Emil semakin gugup.
''Ada apa, Om?'' tanya Emil memulai pembicaraan.
''Emil ... meskipun Nenek sudah tidak ada, kamu boleh terus tinggal di rumah ini, jangan sungkan ataupun merasa tidak enak, kamu juga gak perlu bayar uang sewa, karena Om sudah punya banyak uang, dan Om gak mau rumah ini sampai di kosongkan,'' ucap Leo setelah sepakat dengan sang istri.
''Tapi, Om. Aku merasa gak enak, jika tinggal di rumah ini dengan gratis.''
''Gak usah merasa nggak enak begitu, karena Om sudah menganggap kamu seperti anak Om sendiri, meskipun kamu tidak berjodoh dengan putra Om, tapi Om tetap akan menganggap kamu putri Om.''
''Terima kasih, Om. Sungguh ... Aku benar-benar senang bisa di anggap anak oleh orang sebaik Om dan juga Tante, sekali lagi terima kasih, aku janji akan merawat rumah ini dengan baik, menjaganya seperti yang selama ini selalu di lakukan oleh Nenek,'' jawab Emil tidak kuasa menahan rasa harunya, hingga tanpa terasa air matanya pun mulai membasahi wajah anggunnya.
''Sama-sama, sayang. Tante senang akhirnya rumah ini tidak akan kosong meskipun Nenek sudah tiada, kamu jangan khawatir, kami juga akan sering datang kemari untuk mengunjungi makam Nenek,'' ucap Adelia dengan suara lembutnya.
''Makasih, Tante. Aku senang sekali, karena meskipun hubungan aku dengan Lucky tidak berjalan seperti yang diharapkan, kalian berdua masih baik dan mengijinkan aku tinggal di sini, aku sungguh beruntung bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian, dan Lucky, aku akan menganggap dia sebagai adikku mulai sekarang,'' lirih Emil menatap wajah Lucky yang saat ini sedang menatap lekat wajahnya.
Tok ... Tok ... Tok ...
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, membuat Adelia dan Leo menyudahi obrolan mereka dan menatap ke arah pintu, semua yang ada di sana pun melakukan hal yang sama dan terkejut seketika, saat melihat orang yang saat ini berdiri di depan sana.
___________-------------_______________