
Hari ini sedang di adakan meeting bulanan, meeting wajib yang biasa di adakan tiap akhir bulan, Leo nampak duduk di kursi paling depan, sebagai Direktur utama dan pemilik perusahaan. Dia duduk menatap karyawannya satu persatu, dan terlihat masih ada satu kursi yang masih kosong. Dan dia pun tidak menghiraukan hal tersebut.
Meeting pun akan segera di mulai, Leo pun baru saja akan memulai percakapan, sampai tiba-tiba pintu ruangan pun di buka, dan Alex dengan di dampingi oleh Revan, Asistennya masuk ke dalam ruangan.
''Maaf, saya datang terlambat,'' ucap Alex, berjalan dengan penuh percaya diri.
Semua yang hadir di sana menatap wajah Alex dengan perasaan heran, banyak dari mereka yang masih belum tahu bahwa Alex juga adalah salah satu pemegang saham terbesar di sana.
Karena ancaman darinya waktu itu, Leo terpaksa menanda tangani secarik kertas tanpa di baca terlebih dahulu, demi keselamatan istri serta si kembar, yang waktu itu berada di dalam kungkungan anak buahnya.
Alex pun duduk di kursi kosong yang terletak di barisan paling depan, kursi yang berada paling dekat dengan tempat duduk Leonardo.
''Mari kita mulai rapat'nya,'' ucap Leo, menatap wajah Alex dengan tatapan heran, karena penampilannya sudah berubah 100%.
Kumis yang biasa menghias di bawah hidungnya kini sudah tidak terlihat lagi, rambut yang biasanya berantakan, kini tertata dengan sangat rapi, bahkan terlihat berkilau karena di beri minyak rambut, wajah Alex pun terlihat bersih bersinar dengan aura yang memancar, di lengkapi dengan jas mahal milik desainer terkenal yang menyempurnakan penampilannya.
'Ada dengan dia, kenapa penampilannya mendadak berubah, apa dia sedang puber kedua...' (Leo di dalam hatinya).
Dan Meeting pun dimulai, meeting tersebut di awali dengan perkenalan Alex sebagai salah satu pemilik saham terbesar di perusahaan, dan jabatannya adalah wakil direktur, satu tingkat berada di bawah Leo.
''Perkenalkan, dia Alex, wakil direktur baru di perusahaan kita,'' ucap Leo berbicara dengan sedikit enggan, sebenernya.
Alex pun berdiri lalu sedikit membungkuk dengan tersenyum.
''Apakah dia saudara pak Bos? kenapa dia mendadak jadi wakil direktur? bukankah selama ini, bos tidak suka memiliki wakil?'' tanya salah satu karyawannya.
''Iya, sebenarnya sampai sekarang pun masih tidak suka, aku lebih suka mengelola perusahaan sendiri dan tentunya dengan bantuan kalian, tapi apalah daya, aku terpaksa melakukannya, menjadikan dia wakil direktur adalah keputusan terberat aku,'' jawab Leo menatap wajah Alex dengan tatapan sinis.
''Mohon bantuannya untuk kalian semua,'' Alex tidak menghiraukan ucapan Leonardo, dan kembali duduk dengan wajah tersenyum.
Meeting pun berjalan sekitar tiga jam, karena banyak agenda yang harus di bicarakan, setelah meeting selesai, satu persatu dari mereka pun berjalan keluar meninggalkan ruangan, namun Alex tampak masih belum beranjak dari tempat duduknya, dia masih berada di sana, menatap Leonardo dengan tatapan tajam serta senyum licik yang mengembang dari kedua sisi bibirnya.
__ADS_1
''Kenapa kamu tidak pergi?''
Tanya Leo tanpa menoleh, matanya tampak sibuk menatap layar laptop dengan kaca mata yang sedikit di turunkan.
''Apa nyaman duduk di kursi itu?''
''Kenapa? apa kamu masih belum puas aku beri jabatan wakil direktur? orang lain selalu mengawali karirnya dengan merangkak dari bawah dan naik dengan penuh perjuangan, sementara kamu, langsung terbang ke posisi paling atas, tanpa merasakan lelahnya berada di bawah,'' Leo menatap wajah Alex dengan tatapan tajam.
''Ha... ha... ha...! itu karena otakku sangat pintar, jika ada jalan pintas menuju ke atas, kenapa kita harus cape-cape merangkak dari bawah?'' Alex dengan senyum liciknya.
''Itu bukan pintar, tapi licik...'' ucap Leo penuh dengan penekanan.
''Terserah apa katamu.''
''Cepat kembali ke ruangan mu, mulailah bekerja, kalau tidak, aku akan memecatmu sekarang juga,'' Leo masih menatap dengan tatapan tajam.
''Bagaimana kabar istri'mu?'' tanya Alex secara tiba-tiba, membuat Leo merasa terkejut dan menghentikan gerakannya seketika.
''Aku sudah menuruti kemauan'mu, menjadikan dirimu sebagai wakil direktur, jadi jangan pernah menggangu keluarga'ku lagi, brengsek...!''
''Siapa bilang aku akan menggangu keluarga'mu, aku hanya ingin mengatakan bahwa, ternyata istrimu cantik juga, dia memiliki aura yang berbeda di bandingkan dengan wanita lain, meski penampilannya sederhana, namun kecantikannya terlihat sempurna dan alami tanpa di buat-buat.''
''Apa maksudmu? bajingan...'' Leo naik pitam.
''Aku ingin mengatakan secara terang-terangan bahwa aku tertarik kepada istrimu, jujur saja, sepertinya aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada'nya, siapa namanya? Adelia, bukan?''
Leo bangkit dan mencengkram kerah baju Alex, menatap dengan tatapan penuh amarah, bahkan rahang'nya pun terlihat mengeras, menahan rasa geram.
''Dia istri'ku, brengsek...! beraninya kau mengatakan mencintai istri orang secara terang-terangan, dasar tidak tahu diri,'' Leo menahan gejolak yang perlahan mendidih di dalam darahnya.
''Apa salahnya? aku katakan sekali lagi. Aku jatuh cinta kepada istri'mu... ha... ha... ha...''
__ADS_1
Buk...
Leo tidak dapat menahan amarah yang kian memenuhi jiwanya, alhasil dia pun menghantam wajah Alex dengan tangannya yang di kepalkan.
Alex pun hampir saja tersungkur di atas lantai, jika saja tidak ada Revan yang meraih tubuhnya, Revan pun maju satu langkah hendak membalas perbuatan Leo, namun Alex menghentikan dan memberikan isyarat agar Revan mundur dan kembali ke tempatnya.
''Dengar ya, Alex. Aku akan mematahkan kakimu, jika kau sampai menyentuh istri'ku, lagi pula, dia tidak akan pernah tergoda oleh laki-laki brengsek seperti kamu, satu lagi... Cinta kami tidak akan tergoyahkan oleh apapun, termasuk kamu... Mengerti...?''
''Kita lihat saja nanti, brengsek...'' jawab Alex, keduanya saling melayangkan tatapan tajam. Memperebutkan satu wanita.
_____________-----------____________
Jangan lupa
like
komen
vote
hadiah
terima kasih ❤️❤️❤️
_________
Rekomendasi hari ini datang dari novel milik sahabat saya, silahkan mampir dan semoga bisa menghibur...
.
__ADS_1