Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Mendamaikan


__ADS_3

''Eu, nggak, Mom. Kami gak ngelakuin apapun ko. Kami cuma ...'' jawab Lucky tidak bisa berbohong.


''Kami ...? jadi benar, kamu bermalam sama pacar kamu itu?'' tanya sang ibu semakin membulatkan bola matanya.


''Mom ... jangan keras-keras, nanti aku jelasin, ya ...''


''Dek ... Kamu mau ngulangin kesalahan Kaka kamu?''


''Nggak, aku berani sumpah demi apapun, Mom ...'' Lucky menarik tangan sang ibu dan berjalan sedikit mejauh agar pembicaraan mereka tidak di dengan oleh Ayu.


''Lucky ...?''


''Please Mom ... jangan salah paham, Mommy tau aku pria pintar, aku gak mungkin melakukan hal yang akan membuat masa depan aku hancur, sungguh ... Mommy harus percaya sama aku," Lucky dengan bersungguh-sungguh, membuat hati sang ibu percaya juga akhirnya.


''Hmm ... Oke, Mommy percaya sama kamu, tapi awas, kamu jangan mengkhianati kepercayaan Mommy, oke ...?''


''Makasih, Mom ... Love you ..." ucap Lucky memeluk tubuh sang ibu.


''Ya udah, kamu mandi dulu sana. Ayu biar Mommy yang nemenin.''


''Oke, Mom ...''


Lucky pun berjalan ke arah tangga lalu naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.


Ceklek ...


Lucky membuka pintu kamar.


Blug ...


Dia pun segera membanting tubuhnya ke atas tempat tidur, berbaring dengan menatap langit-langit kamar, melayangkan tatapan kosong dengan pikiran yang melayang entah kemana.


Sesaat, dia pun kembali mengingat apa yang di katakan oleh Alex.


''Apa yang harus aku lakukan? Apa ada cara agar mereka bisa berdamai?'' (Batin Lucky )


Tiba-tiba saja matanya mengantuk berat lalu terlelap seketika itu juga, melupakan Ayu sang kekasih yang saat ini sedang menunggu di ruang tamu, rasa lelah yang dia rasakannya membuat tubuh dan matanya refleks tertidur begitu lelapnya.


Dua jam kemudian.


Lucky menggeliat merentangkan tangannya lebar, menguap dengan mata yang masih terpejam, mungkin karena semalaman dia menjaga Ayu, tubuhnya kini terasa remuk dengan kepala yang sedikit pusing.


Dia pun mengedipkan matanya perlahan, memaksa kelopak matanya untuk terbuka meskipun rasa kantuk itu masih terasa berat sebenarnya.


''Akh ... Tubuhnya lelah sekali,'' gumam Lucky mengusap kedua matanya.


''Ya ampun, aku sampai lupa, Ayu 'kan masih ada di bawah ...'' ucap Lucky bangkit lalu berdiri dan segera lari keluar dari dalam kamar secara tergesa-gesa.

__ADS_1


Sesampainya di bawah dia pun terkejut seketika saat mendapati ternyata Ayu sudah tidak ada di tempatnya semula.


''Duh, dia kok gak ada? apa Ayu udah pulang? kenapa aku sampe ngelupain dia sih?'' gerutu Lucky kesal.


''Kamu nyari siapa, Dek?'' tanya El berdiri tepat di belakang Lucky.


''Abang ...? Abang liat pacar aku, gak? tadi dia di sini?''


''Ayu, maksudnya?''


Lucky mengangguk.


''Kenapa di tinggal sendirian? tega banget kamu, dia udah jauh-jauh datang kemari malah di cuekin gitu aja. Gak punya perasaan banget si?''


''Aku ketiduran, bang.''


''Apa lagi sampe ketiduran, duh kamu ini ...'' El semakin meledek.


''Apa dia udah pulang ...? kasian banget si?'' ucap Lucky membanting tubuhnya ke atas kursi lalu memejamkan mata.


''Nggak, ko ... dia ada dibelakang.'' Ucap Axel kemudian.


Lucky membuka mata terkejut, dan dia pun langsung berlari ke arah dapur dengan wajah yang terlihat cemas.


Sesampainya di depan dapur, Lucky melambatkan gerakan langkahnya, berjalan pelan mengintip dari balik pintu dapur yang memang sedikit terbuka.


''Dor ...'' El mengagetkan Lucky membuat Lucky terkejut.


''Abang, ngagetin aja si?'' Lucky memutar badan.


''Ngeliatnya biasa aja dong,'' ledek El sedikit terkekeh.


''Apaan si, ledek aja terus ...''


''Lagian kamu, ngeliat pacar aja sampe kayak gitu.''


''O iya, bang. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan sama Abang. Abang ikut aku, kita bicara di luar ...'' ajak Lucky.


''Mau bicara apaan si, serius banget?''


Axel mengikuti adik bungsunya dari arah belakang. Sesampainya di luar mereka pun duduk di kursi yang ada di teras rumah.


''Abang, dengarkan aku baik-baik. Semua yang akan aku katakan ini sangat penting.''


''Iya, langsung ke intinya aja ...''


''Apa Abang tau kalau Papi pimpinan kelompok mafia?''

__ADS_1


''Ko kamu tau? tau darimana?'' El terkejut membulatkan bola matanya.


''Gak penting aku tau dari mana dan siapa, ada hal lain lagi yang lebih penting sekarang. Ternyata ayah dari Ayu adalah musuh bebuyutan Papi ...'' ucap Lucky membuat sang Kaka kembali terkejut dan membuka mulutnya lebar dengan mata yang membulat sempurna.


''Apa ...? kamu serius?''


Lucky mengangguk pasti.


''Aku minta tolong sama Abang, bantu aku agar Papi bisa berdamai dengan ayahnya Ayu, Abang tau, apa yang akan terjadi dengan hubungan aku dengan Ayu kalau sampai Papi tau bahwa aku berpacaran dengan putri musuhnya sendiri? begitupun sebaliknya, ayah Ayu pun pasti akan menentang hubungan kita. Abang bantu aku, ya ...?'' pinta Lucky memelas.


''Tapi gimana caranya, Dek?''


''Aku juga gak tau, makannya aku minta bantuan Abang ...''


Keduanya pun diam sejenak.


''Apa tidak sebaiknya kamu putus hubungan saja sama dia? sebelum Papi tau, dan sebelum perasaan kalian semakin dalam.'' Jawab El seenaknya.


''Enak aja, aku gak akan pernah ninggalin dia sampai kapanpun, bang. Aku cinta sama Ayu, dan ada hal lain yang membuat aku gak bisa meninggalkan dia,'' jawab Lucky dengan suara berat.


''Maksud kamu apa? apa kamu sudah melakukan hal terlarang sampai kamu gak bisa ninggalin dia?''


''Hus ... Sembarangan ...! aku masih kecil, mana mungkin aku melakukan hal seperti itu, enak aja ...''


''Lalu ...?''


''Ayu seorang pecandu ...''


''Apa ...? ha ... ha ... ha ...! kamu bercanda 'kan?''


''Nggak, aku gak bercanda sama sekali, dan saat ini dia sedang berusaha untuk sembuh, dan Ayu butuh dukungan aku, mana mungkin aku ninggalin dia gitu aja, bang ...'' lirih Lucky tersenyum getir.


''Wah ... Gak nyangka, sumpah Abang gak nyangka, perjalanan cinta kamu gak ada yang beres, kemarin kamu pacaran sama wanita yang lebih dewasa, dan sekarang kamu pacaran sama seorang pecandu, hebat kamu, Dek ...'' ucap Axel tersenyum mengejek.


''Abang ...! aku lagi serius ...!''


''Iya ... iya ... Abang juga serius, tapi Abang gak tau harus berbuat apa, Abang juga bingung,'' ucap El menundukkan wajahnya.


''Bantu aku, bang. Hanya Abang satu-satunya yang bisa aku andalkan, aku mohon ...'' lirih Lucky memelas, membuat Axel merasa iba.


''Baiklah, Abang akan cari cara agar Papi bisa berdamai dengan ayahnya Ayu, tapi kita juga memerlukan bantuan orang lain, kita hanya anak kecil yang tidak punya kekuasaan apapun.''


''Siapa orang yang Abang maksud?''


''Om Alex hanya dia yang bisa membantu kita ...''


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2