Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Berbelanja


__ADS_3

Leonardo menggenggam jemari Adelia dan menariknya ke tempat lain dimana tas dan sepatu branded berada, dan tanpa berfikir panjang dia pun meraih satu persatu sepatu yang di pajang di atas rak dan menyuruh pelayan langsung membungkusnya tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Adelia.


Adel hanya diam dengan tatapan mata yang terlihat di bulatkan dengan mulut yang sedikit di buka, merasa tidak percaya, berapa banyak uang yang di punya olah suaminya tersebut, sehingga dia dengan begitu saja menyuruh pelayan membungkus belanjaan tanpa melihat harga nya terlebih dahulu, ada sekitar sepuluh sepatu dan sendal yang di pilih oleh Leonardo, dan semua itu langsung di bungkus begitu saja oleh pelayan.


Begitu pun dengan tas-tas mewah yang biasa di pakai oleh kaum sosialita, Leonardo menunjuk satu-persatu tas yang berjejer.


''Yang ini, ini, ini, ini, bungkus semuanya,'' pinta Leonardo tanpa melihat harganya terlebih dahulu.


''Baik, Tuan,'' jawab pelayan dengan tersenyum ramai dan merasa senang.


''Leo...'' panggil Adel dengan wajah kesal.


''Apa...'' jawab nya tanpa menoleh.


''Kamu serius membelikan semua ini untuk aku? nanti uang kamu habis, lho.''


Leonardo berbalik lalu berdiri di doing istrinya.


''Sayang, kamu tenang saja, uang ku tidak akan habis hanya karena membelikan'mu semua ini, ibu ku meninggalkan warisan yang sangat banyak, dan aku juga ada aku juga memiliki perusahaan yang menghasilkan banyak uang, jadi kamu tidak usah khawatir, oke...'' jawab Leonardo dengan nada santai.


''Jadi kamu mengajak aku berbelanja menggunakan uang warisan dari ibu'mu?'' tanya Adel membulatkan bola mata.


''Tentu saja bukan, uang itu sudah jadi milikku sekarang, duh, istriku cerewet banget sih,'' Leonardo merangkul pundak sang istri dan memapahnya untuk duduk di kursi yang tadi.


''Ko pakai baju yang tadi sih?'' tanya Leonardo menatap pakaian yang di kenakan oleh Adelia.


''Terus...?''


Leonardo berdiri dan kembali meraih gaun pendek berwarna hijau muda lalu menyarankan'nya kepada sang istri tercinta.


''Nih, ganti pakaian mu dengan yang ini.''


'''Lagi...?''


Leonardo mengangguk lalu tersenyum.


''Ya, ampun...'' Adel meraih dan berjalan kembali ke kamar ganti dengan mulut yang sedikit di kerucutkan.


Leonardo mengikuti dari belakang masih dengan tersenyum merasa geli melihat raut wajah sang istri yang terlihat sedikit kesal.

__ADS_1


Tak lama kemudian Adel pun keluar dari dalam kamar pas, dia berdiri di depan suami'nya masih dengan mulut yang sedikit di kerucutkan, karena merasa gemas, Leonardo pun mengecup ujung bibir pelan, membuat Adel terkejut seketika dan mencubit kecil pinggang suaminya.


Cup...


''Leo... kamu apa-apaan sih? malu di lihatin sama orang?'' ucap Adel.


''Biarkan saja, mulutmu itu membuat aku terasa ngilu, kalau kamu seperti itu lagi, aku tidak akan segan melakukannya lagi meski di depan banyak orang,'' jawab Leonardo dengan tersenyum genit.


Pelayang yang sedari tadi menatap keduanya tampak melayangkan perasaan iri dengan saling berbisik, kedua pelayan itu merasa jika wanita yang saat ini bersama Leonardo sungguh sangat beruntung karena di perlakukan bak seorang Ratu oleh suaminya.


''Aku sangat iri dengan dia, andai saja aku punya suami seperti tuan Leonardo,'' ucap salah satu pelayan dengan mata yang berbinar menatap pasangan suami-istri itu.


''Aku juga, ya tuhan, sisakan satu untuk aku Laki-laki seperti itu,'' pelayan yang satunya menempelkan kedua telapak tangannya layaknya sedang berdoa, dan menatap ke arah suami-istri itu dengan mata yang berbinar.


Adel yang sedikit mendengar ucapan dari dua pelayan tersebut, menatap dengan tatapan sinis. Dia meraih pergelangan tangan Leonardo dan menggantungkan lengannya.


''Bagaimana penampilan aku?'' tanya Adel dengan sedikit menaikan suaranya, senagaja di lakukan agar terdengar oleh dua pelayan.


''Cantik, sayang. Baju ini sungguh cocok untuk kamu,'' menatap lalu mencubit kecil pipi putih Adelia.


Adel melepaskan lengannya lalu hendak masuk kembali ke dalam kamar ganti.


''Di ganti lagi dengan baju aku yang tadi,'' jawab Adel dengan polosnya.


''Tidak usah? pakai yang ini saja, baju kamu yang tadi di bungsu saja.''


''Tapi kan ini belum di bayar.''


''Nanti aku bayar, tenang saja,'' Leonardo membalikan tubuh sang istri lalu melepaskan bandrol harga yang terdapat di punggungnya.


Adelia yang menyadari hal tersebut segera meraih bandrol harga dan melihatnya, matanya di buat terhenyak seketika saat melihat harga dari baju yang saat ini di kenalannya.


''Ini harganya berapa? nol nya banyak banget,'' tanya Adelia, menghitung jumlah nol di dalam bandrol.


''Hah...! harganya 17juta...?'' Adel membulatkan bola matanya mantap bandrol harga lalu melirik ke arah suaminya.


Leonardo tertawa sambil menutup mulut dengan kedua tangannya, tawanya bahkan terasa renyah di dengar hingga membuat kedua pelayan yang sedari tadi memperhatikan mereka ikut tertawa.


''Ya ampun, istriku tersayang, kamu sungguh lucu,'' Leonardo meraih kertas bandrol dan mengecup pelan kening sang istri.

__ADS_1


''Tapi kenapa gaun seperti ini mahal sekali? harganya bahkan setara dengan harga satu buah motor,'' Adel menatap bandrol gaun yang di kenakan nya.


''Sudah... sudah... kamu tidak mengkhawatirkan harga, sekarang kita ke kasir yu, apa ada lagi yang masih ingin kamu beli?''


''Tidak... tidak... ini saja sudah lebih dari cukup,'' Adelia menatap wajah suaminya dengan melambaikan kedua tangannya menolak tawaran sang suami.


''Ya sudah, ayo, kita ke kasir,'' Leonardo berjalan dengan merangkul pundak sang istri, membuat pelayan tersenyum kecil merasa sangat iri.


''Semuanya berapa mbak?'' tanya Leonardo sesaat setelah keduanya berdiri di depan kasir.


''Sebentar Tuan, saya hitung dulu.''


''O ya, ini satu lagi, pakaiannya sudah di pakai,'' ucapnya lagi menyerahkan bandrol yang di pegang'nya.


Kasir pun menghitung seluruh belanjaan yang tadi di bungkus'kan, dan Adelia pun hampir saja pingsan mendengar keseluruhan uang yang harus di bayarkan.


''Semuanya 290.000.000 Rupiah Tuan.''


''Oke,'' Leonardo menyerahkan kartu ATM dan sama sekali tidak terkejut dengan jumlah uang yang harus di bayarkan.


Diapun menatap Adelia dengan kembali tersenyum.


''Terima kasih, Tuan Leonardo. jangan sungkan kembali berbelanja lagi di butik kami,'' ucap sang kasir menyerahkan kembali kartu ATM seraya menyerahkan kantong belanjaan, yang jumlah nya ada sekitar lima kantong.


''Sama-sama, mbak,'' jawab Leonardo.


Adelia meraih kantong tersebut dan menggenggam dengan kedua tangannya, masih dengan tatapan kosong merasa tidak percaya, jika dirinya sudah mengabiskan uang ratusan juta hanya untuk membeli pakaian, tas dan juga sepatu.


Leonardo yang menyaksikan dengan perubahan raut wajah dari istrinya, segera meraih semua kantong belanjaan tersebut dan menggenggam dengan tangannya.


''Sini aku saja yang bawa,'' ucapnya.


Dan Adel menyerahkan semua yang berada di genggamannya,asih dengan raut wajah dan tatapan kosong.


Mereka pun keluar dari dalam butik dengan bergandengan tangan, serta belanjaan yang memenuhi satu lengan Leonardo.


Tanpa keduanya sadari jika ada sepasang mata, yang sedang memotret mereka menggunakan kamera, dan sudah sedari tadi membuntuti keduanya. Seorang Laki-laki menggunakan pakaian serba hitam, lengkap dengan topi dan masker yang menutupi wajahnya.


_______________----------______________

__ADS_1


__ADS_2