
Di toko perlengkapan bayi Adel memilih satu persatu pakaian untuk si kembar, dia tersenyum senang melihat banyaknya pakaian bagus yang terpajang, dia pun mengambil satu persatu dan memasukan'nya ke dalam keranjang.
Sudah lama sejak dia melahirkan, baru kali ini dia berjalan-jalan keluar, alhasil wajah'nya terus berseri merasakan rasa sangat senang.
Keranjang yang dia bawa pun terisi penuh dengan belanjaan, dan dia berjalan ke kasir siap untuk membayar. Sampai akhirnya ponsel pun berbunyi, dan sang suami Leonardo menelpon.
Adelia : ''Halo, sayang,'' Adel mengangkat telpon, dan menghentikan langkahnya sejenak.
Leonardo : ''Kamu dimana?'' tanya Leo samar-samar di dalam telpon.
Adelia : ''Aku sedang berbelanja di mall.''
Leonardo : ''Dengan siapa?''
Adelia : ''Bertiga dengan Mirna dan Wina, si kembar pun aku ajak, sekalian berjalan-jalan...''
Leonardo : ''Beneran? kamu tidak bohong kan?''
Adelia : "Apa maksud kamu? kamu pikir aku jalan sama siapa?''
Leonardo : ''Tidak, bukan seperti itu maksud'ku, ya sudah begini saja, kamu tunggu di situ jangan kemana-mana, aku ke sana sekarang, ya.''
Adelia : ''Ya sudah, aku tunggu...''
Adel menutup telpon, dirinya termenung sejenak, mengapa suara suaminya terdengar berbeda? seperti menaruh kecurigaan kepada dirinya. Padahal mana mungkin dia keluar dengan seorang laki-laki, apalagi mencoba berselingkuh.
''Hmmm...'' Dia pun menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, dan kembali berjalan.
Sementara itu, di kantornya, Leo berjalan dengan tergesa-gesa, dia sengaja meninggalkan pekerjaan'nya begitu saja, setelah mendengar istrinya sedang berada di luar, entah mengapa jiwa posesifnya tiba-tiba saja keluar.
Sejak Alex melayangkan ancaman bahwa, dia akan merebut Adelia dari sisinya, untuk sesaat Leo meragukan kesetiaan istrinya, padahal cinta Istrinya tersebut terlalu kuat untuk di goyah'kan, apalagi oleh seseorang seperti Alex, yang penampilannya jauh berbeda dengan dirinya.
''Bos...'' Angel memanggil dari arah belakang dengan perasaan heran.
Leo tidak menghiraukan.
Angel pun berlari menghampiri, dan mencoba menghentikan gerak langkah Bosnya tersebut.
''Bos, mau kemana? bukankah sebentar lagi kita ada meeting?'' tanya Angel berjalan beriringan, mencoba menyesuaikan gerakan langkah bosnya.
''Batalkan saja, aku ada urusan mendesak.''
''Lho, ko begitu? emangnya ada urusan mendesak apa?''
__ADS_1
''Jangan banyak tanya, atau mau aku potong lagi gaji'mu?''
''Dih, baru juga kemarin gaji'ku di potong, masa sekarang mau di potong lagi, dasar...'' Angel mengerucutkan bibirnya.
''Makannya turuti saja perintah'ku, aku tidak suka di bantah."
Leo masih dalam keadaan berjalan, malah kini langkahnya semakin melebar, membuat Angel kewalahan dalam menyeimbangkan langkanya. Alhasil Angel pun menyerah dan menghentikan langkahnya. Menatap punggung Leo yang berjalan semakin menjauh
'Dasar, dikit-dikit ngancam mau potong gaji, Leonardo menyebalkan,' (Angel bergumam pelan)
____----____
Leo pun sampai di parkiran, dia hendak memasuki mobil, sampai sebuah pesan yang masih ke dalam ponselanya menghentikan langkahnya seketika, Leo merogoh saku celananya dan meraih ponsel.
Matanya di buat membulat sempurna, saat melihat pesan gambar yang di kirimkan oleh Alex, gambar yang menunjukkan potret Istrinya yang terlihat sedang berdiri dan tersenyum di dalam mall.
Rahangnya mengeras seketika, di bakar api cemburu yang memenuhi seisi hatinya. Dia pun semakin mempercepat gerakan langkahnya, membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya.
Leo menekan nomor istrinya dan hendak menelpon, namun dia semakin di buat gelagapan karena ponsel sang istri sedang dalam keadaan tidak aktif, hingga rasa cemburunya itu semakin memuncak dan terasa membakar hatinya.
Dia pun segera menyalakan mobil, menginjak pedal gas dan melaju dengan kencang, keluar dari area parkiran dan melesat di jalanan.
Pikirannya penuh dengan bayangan sang istri sedang berselingkuh dengan pria lain, entah mengapa hatinya bagai di buta'kan oleh perasaan yang tidak masuk akal.
Akhirnya dia pun sampai di mall yang di maksudkan, Leo segera keluar dari dalam mobil dan berlari masuk ke dalam mall.
Dia pun kembali meraih ponsel dan mencoba menelpon Adelia, namun lagi-lagi hatinya di buat tidak tenang karena sang istri tidak mengangkat telpon darinya.
'Kamu lagi apa si? sampai gak sempat mengangkat telpon dariku?' (Batin Leo)
***
Di dalam mall, Adel mengalah kedua baby sister'nya makan di Restoran mahal, Restoran yang khusus menyajikan masakan Italia, yang dulu sempat dia kunjungi bersama Leonardo, suaminya.
''Kalian mau makan apa? pesan saja apapun yang kalian mau.''
''Tapi kamu tidak punya uang untuk makan di tempat mahal seperti ini,'' jawab Mirna menatap buku menu makanan.
''Jangan khawatir, kalian pesan saja, nanti saya yang bayar,'' jawab Adel dengan tersenyum.
''Benarkah? apa boleh?''
''Tentu saja, kalian sudah kelelahan menemani saya berbelanja, sekarang kalian bisa makan sepuasnya, anggap saja ini sebagai ucapan rasa terima kasih saya, karena telah sabar menemani dan menjaga si kembar.''
__ADS_1
''Terima kasih, Nyonya. Nyonya sungguh baik,'' jawab Wina tersenyum senang.
Adel pun tersenyum menatap kedua baby sister'nya, yang sedari menggendong si kembar tanpa mengeluh, dan mengikuti dirinya kemanapun.
Sambil menunggu pesanan datang, dia pun meraih ponsel, dan wajahnya di terkejut seketika saat melihat banyaknya panggilan yang tidak sempat dia jawab dari suaminya.
Adel pun menekan tombol 'dial' dan kembali menelpon sang suami.
Tut
Tut
Tut
Suara telepon yang belum di angkat.
Adelia : ''Halo... sayang...''
Leonardo : "Kamu dimana, Adelia Fasha? aku mencarimu di dalam mall, kenapa kamu tidak mengangkat telpon? memangnya sedang apa sih?" suara Leo seperti terengah-engah menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
Adelia : "Kamu kenapa si? aku ada di Restoran Italia, kamu ke sini sekarang juga, ya," Adel mengerutkan keningnya, kembali merasa heran, dengan sikap suaminya.
Adelia : "Kamu tunggu di situ, jangan kemana-mana, aku ke sana sekarang juga, oke..." Leo pun menutup telpon.
'Dia kenapa sih, sikapnya aneh banget,' (Adel bergumam pelan)
''Ada masalah apa, Nyonya?'' tanya Wina merasa heran melihat perubahan raut wajah majikannya.
"Tidak ko, apakah kalian lelah? dari tadi kalian menggendong si kembar?''
''Tidak, Nyonya. Lagi pula si kembar tertidur ko, dia tidak rewel sama sekali,'' jawab Marni, menatap baby Al, yang saat ini berada di dalam gendongannya.
''Baiklah kalau begitu.''
Dari kejauhan, Leo berjalan menghampiri dengan raut wajah yang terlihat kesal, matanya mengarah tajam menatap wajah istrinya yang sudah terlihat sedang duduk dengan memainkan ponsel.
Adel yang menyadari kedatangan sang suami segera berdiri dengan tersenyum, namun hatinya di buat bertanya-tanya melihat raut wajah suaminya yang terlihat seperti menahan kesal.
'Dia kenapa? mengapa wajahnya seperti itu?' (batin Adelia)
___________----------__________
Rekomendasi novel.
__ADS_1