
Satu minggu kemudian, Ayu sudah diperbolehkan pulang, karena kesehatan dia sudah mulai membaik, meskipun separuh ingatannya masih belum juga kembali, namun, Dokter sudah memperbolehkan dia untuk di rawat saja di rumah.
Sesuai dengan keinginan sang kekasih yang memintanya untuk tinggal sementara di rumah keluarga besar Leonardo, meski hati kecil Ayu sebenarnya ingin pulang kerumahnya, dia masih merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati seorang Ayu.
Entah itu prihal ingatan tentang kedua orang tuanya atau tentang hal lain yang terasa menggebu-gebu di dalam jiwa Ayu. Ya ... sebagai seorang pecandu Ayu belum sepenuhnya sembuh, jauh di dalam jiwanya masih terasa ada sesuatu yang meronta-ronta, namun, dia tahan sekuat tenaga.
Ternyata, bukan hanya ingatan tentang orang tuanya saja yang terhapus, tapi, ingatan tentang dirinya yang merupakan seorang pecandu pun ikut terhapus, meskipun begitu, jiwa Ayu masih tetap saja terasa haus akan barang haram itu, meski Ayu sendiri masih belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Sebenarnya, hal itu juga yang membuat Lucky mengambil keputusan untuk memboyong kekasihnya itu untuk tinggal di rumahnya, dia takut kalau rasa candu sang kekasih tiba-tiba datang.
Dengan Ayu tinggal bersama keluarganya di rumah, tentu saja Lucky bisa mengontrol keadaan Ayu, dan bisa benar-benar membantu kekasihnya itu untuk benar-benar sembuh, dan melupakan ingatannya akan barang haram itu.
Saat ini Ayu, sedang berbaring sendirian di kamar yang memang disediakan khusus untuk dirinya, tentunya kamar yang jaraknya lumayan jauh dari kamar Lucky yang terletak di lantai dua.
Bukan tanpa alasan Leo dan Adelia memilihkan kamar itu. Hal itu dilakukan untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kejadian yang menimpa Axela membuat Leo lebih ketat dan lebih hati-hati dalam mendidik dan menjaga anak-anaknya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Pintu kamar pun diketuk lalu di buka Adelia masuk ke dalam kamar dengan membawa bubur untuk sarapan calon menantunya tersebut.
''Ayu, sayang. Tante bawakan bubur. Makan dulu, ya.''
Adelia duduk di tepi ranjang.
''Makasih, Tante ...''
''Mau Tante suapin?'' tawar Adel ramah.
''Tidak usah, Tante. Aku bisa makan sendiri ko,'' Ayu bangkit lalu duduk tegak.
''Baiklah, makan yang banyak ya, setelah itu minum obat.''
''Baik, Tan. Eu ... apa Lucky sudah berangkat sekolah?'' tanya Ayu, karena pagi ini dia belum melihat dia sama sekali.
__ADS_1
''Iya, sayang. Dia berangkat pagi-pagi sekali, karena ini masih dalam masa pengenalan lingkungan sekolah baru, jadi Lucky harus berangkat lebih pagi dari biasanya.''
''Oh, begitu. Aku juga gak sabar ingin segera masuk sekolah, Tante.''
''Nanti kalau kamu sudah sembuh benar, baru kamu boleh masuk sekolah, sekarang sepertinya keadaan kamu masih lemah, sayang.''
''Iya, Tan. Aku juga masih merasa lemas, dan entah mengapa, di dalam jiwaku ini, aku merasa seperti menginginkan sesuatu, rasa haus bahkan panas terasa membakar seluruh tubuh aku dan juga tenggorokan.'' Ucap Ayu seraya memasukan satu sendok bubur ke dalam mulutnya.
'Apa dia sedang membicarakan kecanduannya terhadap barang haram itu,' ( Batin Adelia )
''Sudah, jangan terlalu difikirkan, sayang. Mungkin itu hanya perasaan kamu saja.''
''Apa begitu?'' tanya Ayu, menatap sayu wajah Adelia yang terlihat sejuk di pandang.
''Mungkin itu hanya efek dari obat yang kamu minum, kamu lihat, obat-obatan dari Rumah sakit jumlahnya banyak sekali,'' jawab Adelia mencoba mengalihkan perhatian.
''Hmm ... Iya, juga.''
''Nah, sekarang tinggal minum obatnya saja, ya.'' Adelia menyiapkan obat yang jumlahnya lumayan banyak untuk Ayu lengkap dengan segelas air putih.
''Makasih, Tante.''
''Sama-sama, sayang.''
Ayu menelan satu-persatu obat yang diberikan oleh ibu dari kekasihnya tersebut.
''Tante, boleh aku tanya sesuatu?'' tanya Ayu sesaat setelah dia menelan habis obat tersebut.
''Hmm ... tanya Apa? katakan saja.''
''Kenapa Tante baik sekali sama aku? Tante memperlakukan aku seperti putri Tante sendiri, padahal aku hanya pacar dari putra Tante.'' Tanya Ayu menatap wajah Adelia dengan tatapan sendu.
''Sayang, Tante ngelakuin ini karena Tante sayang sama kamu, selain itu, kamu juga adalah gadis yang dicintai oleh putra kesayangan Tante,'' jawab Adelia mengusap kepala Ayu lembut.
__ADS_1
''Sekali lagi makasih, Tante. Makasih banget,'' Ayu memeluk tubuh Adelia seketika.
''Sama-sama, sayang.''
Adelia mengusap punggung Ayu lembut dan penuh kasih sayang.
''Tapi, Tan. Sebenarnya aku ingin pulang.'' Ucap Ayu tiba-tiba membuat Adelia sontak melepas pelukannya.
''Lho, kenapa? apa kamu gak betah tinggal di sini? atau kamu marah karena Lucky gak pamitan dulu sama kamu tadi pagi?''
''Nggak, Tante. Bukan karena itu. Aku betah sekali tinggal di sini. Om Leo, Tante, Abang El dan kak Al, semuanya baik sama aku, dan aku merasa punya keluarga besar.''
''Lalu, kenapa kamu tiba-tiba ingin pulang?''
''Aku hanya ingin bertemu dengan ayah dan ibu aku, aku ingin mengingat kembali momen kebersamaan aku bersama mereka, dan mencari penyebab mengapa aku bisa melupakan orang tua aku sendiri.''
''Hmm ...'' Adel menghela napas panjang.
''Apa Tante tau sesuatu tentang hal itu?''
''Hal apa maksud kamu, sayang?''
''Hal yang menjadi penyebab mengapa aku sampai melupakan orang tua aku sendiri, wajahnya, sifat mereka, bahkan perasaan bahagianya di sayangi pun rasanya aku tidak mengingat hal itu sama sekali. Sebenarnya apa yang terjadi dengan aku?''
''Lucky gak mau ngasih tau, dia bilang, dia tidak mau aku sampai merasakan rasa sakit lagi, dan aku benar-benar tidak mengerti akan hal itu,'' Ayu dengan mata yang terlihat berkaca-kaca, seperti merasakan pedih di hatinya, namun, dia sama sekali tidak mengerti apa yang menyebabkan dirinya seperti itu.
''Seperti yang dikatakan oleh Lucky, sebaiknya untuk saat ini kamu gak usah ketemu dulu dengan kedua orang tua kamu itu, tunggu sampai keadaan kamu benar-benar sehat, Tante yakin ingatan kamu perlahan akan kembali, meskipun Tante berharap, bahwa kamu akan melupakan hal itu,'' lirih Adelia, membuat Ayu terkejut seketika.
''Tan, apa maksud Tante? kenapa Tante meminta aku untuk melupakan semua itu? ada apa sebenarnya?'' Ayu semakin merasa tidak mengerti.
''Eu ... Maksud Tante, bukan seperti itu sayang, maaf, Tante gak bisa berkata apa-apa lagi, Ayu.''
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1