
Perlahan Briel seperti mendengar suara gadis yang sangat dia rindukan, terdengar lirih, hingga membangunkan tidur panjangnya, dia pun mulai menggerakkan jari telunjuk dan perlahan menarik kelopak matanya yang masih terasa berat sebenarnya, sampai akhirnya dia pun membuka mata secara sempurna.
Briel menatap langit-langit ruangan ICU, lalu perlahan menggerakkan kepalanya dan menatap wajah Al yang perlahan berjalan menghampiri dengan memakai baju pasien.
Bibirnya pun mencoba tersenyum, meski mulut serta hidungnya tertutup alat bantu pernapasan yang hampir menutup sebagian wajahnya.
''Sayang, akhirnya kamu siuman juga, aku sungguh senang sekali,'' lirih Al yang telah berdiri tepat di sampingnya sekarang.
Matanya terlihat begitu sayu, dengan genangan air mata yang kini memenuhi pelupuknya, kulitnya pun begitu pucat pasi dengan guratan kesedihan nampak begitu ketara.
Apa yang terjadi dengan kekasihnya itu? kenapa wajahnya pucat sekali? apa karena dia? dia sudah terlalu melukai hati kekasihnya itu? batin Gabriel, penuh tanda tanya.
Meski bibirnya sulit untuk di gerakkan, tapi, dia masih mencoba untuk memanggil nama sang kekasih, namun, yang terdengar hanya sebuah gumaman pelan, yang terdengar lirih di telinga Axela.
''A-l ...'' lirih Briel, menatap sendu wajah Axela.
''Iya, sayang. Aku di sini, jangan memikirkan apapun dulu, aku sudah memaafkan kamu, sungguh,'' ucap Al, meraih jemari Briel, dan menggenggamnya erat.
Briel pun tersenyum di balik alat bantu pernapasannya itu, matanya nampak berair, dan berjatuhan kemudian, merasa bahagia, karena akhirnya, dia masih di beri kesempatan untuk hidup dan melihat wanita yang sangat di cintai'nya itu.
Tidak lama kemudian, Dokter dan dua perawat pun datang untuk memeriksa keadaan pasien, yang baru saja bangun dari komanya.
Al dan yang lainnya pun sedikit melipir, memberi ruang kepada Dokter agar bisa memeriksa keadaan Gabriel. Harap-harap cemas, itulah yang di rasakan oleh semua yang ada di sana, berharap bahwa Gabriel sudah baik-baik saja sekarang.
''Bagaimana keadaan dia, Dokter?'' tanya Axel sesaat setelah Dokter selesai.
''Syukurlah, pasien telah melewati masa kritisnya, detak jantungnya pun sudah terdengar normal, meski tubuhnya masih belum bisa di gerakkan, karena luka dalam yang di derita pasien lumayan parah, ini seperti sebuah keajaiban, jarang dari pasien yang dapat bangun dengan cepat dari koma, kebanyakan dari mereka bisa menghabiskan waktu 2 sampai 3 Minggu untuk bangun, namun, pasien ini hanya membutuhkan waktu beberapa hari saja,'' jelas sang Dokter, menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
''Syukurlah, Dokter. Kami sangat senang mendengarnya. Jadi, kapan dia bisa di pindahkan ke ruangan rawat inap?''
''Mudah-mudahan bisa secepatnya, setelah kami memeriksa secara keseluruhan kondisi luka di dalam organ dalamnya sudah membaik.''
''Terima kasih, Dokter.''
''Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu,'' ucap Dokter, lalu berjalan keluar dari dalam kamar.
Sepeninggal Dokter, Al pun segera menghampiri dan berdiri tepat di samping ranjang, lalu meraih jemari Briel dan kembali menggenggamnya erat, dengan tatapan penuh kerinduan, dia menatap wajah Gabriel dengan penuh kasih sayang.
Briel pun menggerakkan tangannya, dan membalas genggaman tangan kekasihnya itu, hingga keduanya kini saling menggenggam satu sama lain, seolah sedang saling menguatkan.
Mata Briel pun hanya bisa menatap wajah cantik nan tirus kekasihnya itu, menatap sendu dengan air mata yang perlahan keluar dari sudut kelopaknya.
Sebenarnya, dia ingin menghujani kekasihnya itu dengan ucapan penyesalan dan kata maaf atas apa yang telah dia lakukan, namun, bibirnya masih terasa berat untuk di gerakkan, alhasil, dia hanya bisa mengungkapkan semua itu dengan tatapan mata saja, tatapan penuh penyesalan, diiringi air mata yang terus berjatuhan dari ujung pelupuknya.
Amora mengikuti kekasihnya, keluar dari dalam ruangan dengan wajah yang sedikit merasa lega, dan terharu tentunya, dia tahu pasti, bahwa, kekasihnya itu sengaja keluar dari dalam sana karena tidak kuasa menyaksikan dan menahan kesedihannya.
Di luar, Axel pun duduk di kursi, dia mengusap wajahnya dengan sedikit kasar, seraya menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan, dia sungguh merasa lega karena kesedihan sang adik akhirnya berkurang.
Amora pun duduk di samping Axel, mengusap punggungnya lalu menyandarkan kepala dirinya di pundak sang kekasih.
''Akhirnya Gabriel bangun juga, aku sungguh merasa senang melihatnya, jujur saja, melihat Axela sedih seperti kemarin membuat hati aku ikut merasa terluka, tapi aku merasa lega sekarang, semoga mereka segera pulih dan dapat menikah dalam waktu dekat,'' lirih Amora sedikit berkaca-kaca.
Axel mengangguk pelan, dan menoleh lalu mengecup puncak kepala sang kekasih yang saat ini sedang di sandarkan di bahunya. Bibirnya seolah terkunci, dia tidak mengucapkan sepatah katapun.
🌹🌹
__ADS_1
''Gimana, apakah mayat si Gabriel sudah di buang ke tempat yang sangat jauh?'' tanya Revan, berkumpul dengan anak buahnya di markas besar.
''Sudah, bos. Pokoknya semuanya sudah beres, gak ada yang akan menemukan mayat dia, karena kami membuang mayat itu ke lautan, mayatnya mungkin sudah di makan ikan buas sekarang,'' jawab salah satu anak buahnya berbohong.
''Baguslah, sekarang kalian bersiap-siap, karena mulai saat ini, kalian akan sibuk dengan pekerjaan berat, dan sebaiknya, kalian banyak berlatih, karena kita akan menghadapi kelompok mafia besar, dan lumayan kuat,'' pinta Revan, menatap satu persatu wajah anak buahnya yang berjumlah lebih dari 20 orang.
''Baik, Bos.'' Jawab mereka semua, secara serentak.
🌹🌹
Alex segera pergi ke Rumah Sakit, setelah mendengar kabar bahwa Gabriel sudah siuman, begitupun dengan Leo, yang saat ini sedang berjalan di koridor Rumah Sakit, hendak menuju ruang ICU, sampai akhirnya dia bertemu dengan Alex di perjalanan.
''Alex ...? cepat juga kamu dapat kabar?'' tanya Leo berjalan beriringan.
''Tentu saja, putriku menginap di sini semalam, menemani putrimu agar dia tidak kesepian,'' jawab Alex tanpa menoleh, matanya lurus menatap ke depan.
''O iya, aku juga tahu itu. Aku ucapkan terima kasih kepadamu, karena telah mengijinkan putrimu menginap di sini.''
''Tentu saja, bukankah dia juga calon mantu kamu juga? kita akan segera menjadi besan sebentar lagi, ha ... ha ... ha ...'' jawab Alex tersenyum lebar.
''Dih, pede banget si kamu, siapa bilang aku mau jadi besan kamu? dasar ...'' jawab Leo datar.
Alex pun menghentikan langkahnya sedikit terkejut, menatap punggung Leo, hingga sahabatnya itu berjalan semakin menjauh.
''Dasar Leonardo, emang paling jago kalau bikin hati aku kesal ... Hey ... tunggu aku,'' teriak Alex mempercepat langkah kakinya.
___________-----------___________
__ADS_1
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️