
''AYU ...!'' teriak Lucky segera berlari menghampiri Ayu, yang saat sini sudah terbujur kaku di lantai.
Briel dan Axel mengikuti dari belakang, menatap nanar wajah Ayu yang saat ini sudah terlihat seperti orang yang tidak bernyawa. Tangis Lucky pun pecah seketika, dia meraih kepala gadis itu dan meletakkannya di atas pangkuan.
''AYU ... BANGUN YU ... KAMU KENAPA? HEUH ...? AKU DATANG KE SINI UNTUK MENOLONG KAMU, TAPI KENAPA KAMU SUDAH SEPERTI INI, YU. bangun ... Ayu ... hiks hiks hiks ...'' lirih Lucky.
Briel yang kini ikut berjongkok tepat di samping Lucky segera meraih pergelangan tangan Ayu, memeriksa nadi yang tersembunyi di dalam sana, setelah itu dia pun menekan bagian leher ayu, menekannya lembut, dan akhirnya merasa yakin bahwa di dalam sana denyut nadi itu masih terasa meski sedikit lemah.
''Cepat bawa dia, Dek. Sepertinya dia masih hidup,'' ucap Briel tergesa-gesa.
Lucky yang mendengar hal itu segera membawa tubuh sang kekasih ke dalam gendongannya, mendekapnya erat lalu berdiri dan segera berlari keluar.
'Bertahanlah, sayang. Aku mohon ...!' ( Batin Lucky )
Tanpa di sangka dan tanpa di duga, di luar kamar sudah terdapat satu orang yang sudah siap untuk menyerang, Briel pun akhirnya tersadar bahwa masih ada penjaga yang belum sempat dia lawan.
Sontak Gabriel segera maju dan berdiri paling depan, memasang badan agar dia bisa melawan penjaga bertubuh besar itu.
''Cepat kalian turun, dan bawa Ayu ke Rumah Sakit, dia biar aku yang urus,'' pinta Briel.
Gabriel merentangkan tangannya, serta memutar badan ke kiri dan kanan, dia pun menghentikan kepalanya ke kanan dan kiri, seolah olah sedang melakukan pemanasan sebelum dia mulai melawan orang tersebut.
''Tapi, Gabriel. Kalau kamu sampai terluka gimana?'' Axel mulai cemas, karena orang tersebut terlihat kuat.
''Jangan khawatir, di bawah masih ada dua rekan aku, suruh dia naik dan bantu aku di sini,'' jawab Briel dengan tatapan mata yang mengarah tajam kepada lawannya di depan.
''Tapi ...''
''Cepat, sebelum terlambat. Kalau kalian terlambat membawa Ayu ke Rumah Sakit, nyawanya bisa melayang, apa kalian tau, dia Over dosis, CEPAT BAWA DIA LUCKY ...'' teriak Gabriel.
''Ba-baik, kak. Jaga diri Kaka baik-baik ...'' jawab Lucky seraya berlari menuju tangga, dengan Ayu berada di dalam gendongannya.
''Hati-hati Gabriel. Ingat istri dan anakmu menunggu kepulangan-mu di rumah,'' ucap Axel, sebelum dia mengikuti adiknya ke arah tangga.
''Aku janji akan pulang dengan selamat,'' jawab Briel penuh percaya diri.
__ADS_1
Setelah Lucky dan Axel turun dengan selamat, Briel kini memasang kuda-kuda siap untuk bertarung.
''Ke sini kamu, brengsek ...'' ucap Briel, maju dan mulai menyerang.
Buk ...
Plak ...
Brak ...
Pertarungan satu lawan satu pun di mulai, Briel agresif melawan dengan segenap kekuatan yang dia miliki, dia melayangkan kepalan tangannya namun, berhasil di tepis oleh pria tersebut, alhasil kini dia yang mendapat pukulan keras di perutnya.
Bruk ...
''Argh ...'' teriak Briel, merasakan sakit di perutnya.
''Segitu saja kemampuan kamu, Gabriel. Bukankah kamu mantan anak buah terbaik bos Revan?'' teriak lawannya yang merupakan mantan rekan Gabriel di organisasi Mafia yang di pimpin oleh Revan.
''Kurang ajar, kamu tenang aja, aku belum mengeluarkan setenang kemampuan aku,'' Briel kembali berdiri tegak.
''HAAAAA ...''
Gabriel kembali maju dengan berteriak kencang, dia menen*dang perut orang tersebut keras, meski tendangnya tepat mengenai perutnya, namun, itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap pria gagah bertubuh kekar itu.
Kali ini Briel juga melayangkan kepalan tangannya, memu*ul wajah bahkan kepala pria itu, namun, usahanya masih belum bisa membuat pria itu tumbang.
''Ha ... ha ... Ayo keluarkan lagi kemampuan kamu, Brengsek. Sudah lama sekali aku ingi bertarung seperti ini denganmu,'' teriak pria jahat itu, kali ini dia yang me*ukul keras wajah Briel secara berkali-kali. Hingga wajahnya benar-benar babak belur, darahsegar pun kini mewarnai wajah tampannya.
Bruk ...
Tubuh Briel di lempar begitu saja, hingga dia tersungkur tepat di depan pintu kamar Ayu. Sejenak sekujur tubuhnya merasakan nyeri, apalagi di bagian wajahnya yang kini telah penuh dengan darah segar.
Awalnya dia hanya terdiam, namun, tiba-tiba saja, bayangan sang istri melintas di otaknya.
' Aku akan menunggu kepulangan mu dengan selamat, sayang ...'
__ADS_1
Sayup-sayup terdengar suara Axela, seperti terdengar di telinganya, entah itu hanya pikirannya saja atau memang seseorang yang sedang menanti kepulangan dirinya sedang mengucapkan hal itu hingga membuat hati Gabriel terasa bergetar.
Sontak saja, hal itu membuat keberanian dan kekuatan dalam tubuhnya seolah muncul begitu saja.
''Aku berjanji akan pulang dengan selamat, sayang ...'' gumam Briel, seraya mencoba bangun.
Gabriel pun baru tersadar bahwa di sempat membawa benda berupa palu besar yang tadi dia gunakan untuk menghancurkan pintu kamar, dia pun menatap sekeliling mencari benda tersebut.
Untungnya benda itu tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, Briel segera berjalan mendekati benda itu, dan meraihnya.
Kini dengan senjata di tangannya, dirinya merasa lebih percaya diri akan menang melawan pria itu, Briel kembali mendekat, dengan memutarkan palu yang berada di tangannya.
''Mari kita lanjutkan pertarungan ini, bajingan ...'' ucap Briel semakin mendekat.
''HAAAAA ...'' teriak berlari mempercepat langkahnya.
Bruk ...
Pertarungan pun kembali dilanjutkan, kini Briel yang lebih mengendalikan pertarungan, dia mengha*tamkan palu tersebut tepat ke wajah lawannya, pada awalnya hant*man yang dia layangkan meleset, dan tangannya di hempaskan begitu saja oleh orang tersebut.
Briel tidak putus asa, di kembali maju, kali ini dia mengangkat tangannya tinggi ke udara, lalu dengan secepat kilat palu itu pun berhasil mengenai kepala pria tersebut, dan darah segar pun mengalir membasahi wajah pria itu.
Terakhir, tend*ngan maut pun melesat tepat mengenai tubuh lawan, sampai akhirnya tubuhnya benar-benar tumbang, dia tersungkur di atas lantai dengan bersimbah darah, tidak sadarkan diri.
Bruk ...
Pria tersebut menghantam lantai keras, dan memejamkan mata seketika.
Briel berjalan menghampiri, menatap sekejap orang tersebut, dia menempelkan dua jarinya di leher orang itu, hendak memeriksa denyut nadi, dan Gabriel pun bernapas lega, karena dia tidak sampai membunuh orang itu.
Setelah memastikan bahwa lawannya masih dalam keadaan hidup, Gabriel segera meraih topi dan jaket kulit yang diletakan di sembarang arah, memakainya dan berjalan ke arah tangga.
Dia menoleh terlebih dahulu ke arah lawan yang telah berhasil dia tumbangkan itu, sebelum dia mulai menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1