Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Operasi Caesar


__ADS_3

Alex berteriak memanggil Amora, berlari tertatih-tatih dengan perasaan berdebar dan tubuh gemetar, raut wajahnya terlihat cemas sekaligus senang karena istrinya itu akan segera melahirkan.


''AMORA ... SAYAAAANG ...'' teriak Alex kencang, membuat Amora yang sedang meminum air putih di dapur seketika tersedak.


''Uhuk ...! Ada apa, Dad? pagi-pagi udah ngagetin aja si?'' jawab Amora santai.


''Mommy mu, Mommy Emillia sepertinya mau melahirkan,'' jawab Alex terbata-bata.


''Uhuk ...!'' Amora seketika memuntahkan air yang sudah berada di dalam mulutnya terkejut dan segera berlari ke dalam kamar.


''Daddy serius ...?'' tanya Amora seraya berlari.


Di dalam kamar, Emillia benar-benar sudah merasa kesakitan. Wajahnya nampak meringis menahan nyeri di perut serta punggungnya yang terasa remuk, seolah patah berkeping-keping.


''Mas, cepat bawa aku ke rumah sakit, rasanya sakit sekali, argh ...'' teriak Emill menarik napas panjang.


''Dad, cepat papah Mommy, biar aku yang nyetir,'' pinta Amora, yang juga panik, karena dirinya memang baru pertama kali menghadapi seorang ibu yang akan melahirkan.


Emillia di bantu oleh Alex dan juga Amora, berjalan tertatih-tatih dengan tangan yang memegangi perut besarnya, wajahnya yang terus aja meringis kesakitan membuat Alex dan Amora merasa cemas.


Di Rumah Sakit.


Dokter sudah memeriksa kandungan Emillia, dan sepertinya Emillia harus mendapatkan tindakan operasi Caesar karena bayi yang dikandungnya berada terbalik alias sungsang, tentu saja hal itu membuat Alex semakin tidak karuan, dia takut kalau sesuatu yang buruk akan menimpa istri dan juga putranya.


''Saya mohon selamatkan istri dan anak saya, Dokter.'' Pinta Alex mengiba.


''Tenang, Tuan. Operasi Caesar biasa terjadi kepada ibu yang mengalami sedikit masalah saat melahirkan, dan Tuan Alex tidak perlu cemas, ibu dan bayinya pasti akan bisa diselamatkan,'' jawab Dokter memenangkan.


''Iya, Dokter. Saya akan berusaha tenang,'' jawab Alex, namun dengan tubuh yang gemetar.


Dokter pun menganggukan kepalanya, lalu berbalik berjalan masuk ke dalam ruangan operasi. Amora yang juga ada di sana mencoba menenangkan sang ayah, meskipun sebenarnya, dia pun merasa gemetar.


''Tenang, Dad. Aku yakin Mommy dan adik bayi pasti akan selamat dan sehat, kita berdoa saja, semoga operasinya lancar,'' ucap Amora, mengusap punggung sang ayah.


Alex menganggukkan kepalanya, lalu meraih ponsel dan mengirimkan pesan kepada Leonardo, sahabatnya.


'πŸ“±Cepat datang ke Rumah Sakit, istriku mau melahirkan, aku tunggu sekarang juga, gak pake lama.'


Begitulah kira-kira isi pesan Alex, terkesan memaksa tapi dia tidak peduli, sepertinya hanya Leo yang bisa membuatnya tenang.

__ADS_1


Benar saja, 30 menit kemudian, Leo pun datang dengan memakai jas hitam karena memang seharusnya pagi ini dia berangkat ke kantor untuk bekerja.


Leo nampak berjalan di koridor menghampiri Alex yang saat ini sedang duduk berdua bersama Amora. Dengan tersenyum senang, Leo pun duduk tepat di samping Alex.


''Gimana? apa istrimu sudah melahirkan? laki-laki atau perempuan?'' tanya Leo tidak sabar.


''Belum, karena posisi bayinya sungsang. Istriku harus di operasi,'' jawab Alex.


''Oh begitu, aku kira Emillia sudah melahirkan.''


''Aku cemas sekali, Leo.'' Ucap Alex dengan wajah pucat dan tangan gemetar.


''Jangan cemas, Dokter di Rumah Sakit ini hebat-hebat. Aku yakin istri serta bayinya akan selamat tanpa kurang satu apapun,'' jawab Leo menenangkan.


''Mudah-mudahan saja.''


''Jangan bilang mudah-mudahan aja, kamu harus yakin, ingat ucapan adalah doa, kamu harus yakin dan tenang, coba ikuti ucapan aku.''


''Ucapan apa? aku sedang tidak ingin bercanda.'' Alex menoleh menatap wajah Leo datar.


''Udah jangan banyak nanya. Dengerin dan ikuti, supaya hati kamu tenang.''


''Aku yakin, istri dan bayiku akan selamat.''


Leo berucap dengan suara lantang, dan seketika itu juga, Alex mengikuti ucapan sahabatnya tersebut, yang juga dengan suara lantang seraya memejamkan matanya.


Anehnya, kalimat sederhana yang diucapkan oleh Leo benar-benar membuat hati Alex merasa tenang.


''Ko aneh, setelah mengucapkan hal itu, hatiku jadi tenang sekarang?'' tanya Alex senang.


'' Nah 'kan. Apa aku bilang, bukankah ucapan aku itu ada magisnya?''


''Biasa aja kali, gak perlu pake magis segala.''


''Ish, kamu ini gak tau terima kasih banget si, aku tuh jauh-jauh datang kemari setelah menerima pesan dari kamu, seharusnya aku ke kantor sekarang, demi kamu yang sedang membutuhkan dukungan dari aku, aku terpaksa meninggalkan pekerjaan aku, dan datang kemari.''


''Heuh ... Dukungan ...? tidak ... aku hanya sedang butuh teman saja di sini,'' jawab Alex berbohong.


''Ha ... ha ... ha ...! dasar Alex, masih saja gak mau ngaku.''

__ADS_1


Alex tersenyum juga akhirnya, karena memang sebenarnya, apa yang dikatakan sahabat sombongnya ini benar adanya, dirinya butuh dukungan. Mengingat bahwa ini adalah pengalaman pertamanya, membuat Alex membutuhkan seseorang untuk dapat memberikan dukungan moril kepadanya.


''Duh, lama banget si?'' ucap Alex, berdiri lalu berjalan mondar-mandir tidak sabar.


''Sabar, Dad. Dokter juga masuk ke sana.'' Jawab Amora.


''Baru masuk apaan, sudah hampir satu jam ini.''


''Sebentar lagi, Dad. Daddy tenang ya.''


''Ya udah aku masuk ke dalam saja, aku takut Emill kenapa-kenapa,'' Alex hendak masuk ke ruangan operasi.


''Alex ...! kamu ini kaya anak kecil banget si, ingat kamu itu sudah tua, umur kamu sudah lebih dari setengah abad, kamu pasti tau kalau kita dilarang masuk ke ruang operasi, bisa-bisa kamu nanti malah mengganggu Dokter lagi, tenang, sabar, dan berdoa. Gimana sih, dasar tua bangka,'' ejek Leo sedikit kesal.


Alex hanya terdiam tidak menanggapi ucapan Leo, otak serta pikirannya melayang entah kemana.


Sudah hampir dua jam, tapi lampu di pintu ruang operasi masih saja menyala, Alex semakin cemas, dia bahkan tidak berhenti berjalan mondar-mandir membuat Leo dan Amora merasa pusing.


Tidak lama kemudian, lampu di depan pintu itu pun padam seiringan dengan itu suara tangis bayi pun terdengar dari dalam sana, membuat Alex seketika menghentikan langkah kakinya, dan segera masuk ke dalam ruangan itu dengan perasaan senang.


Leo dan Amora yang menyaksikan hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


'Selamat, Lex. Akhirnya kamu memiliki seorang bayi juga, menjadi ayah sesungguhnya meskipun usia kamu sudah tidak muda lagi. Aku benar-benar senang,' ( Batin Leo )


Di dalam sana, Alex nampak berjalan pelan menghampiri Dokter dan perawat yang sedang membersihkan bayi yang nampak masih merah dengan darah, mata Alex nampak berkaca-kaca, menatap bayi mungil yang saat ini masih menangis dengan suara nyaring memekikkan telinga.


''Anakku ...'' gumam Alex dengan mata yang berkaca-kaca.


''Selamat Tuan Alex, bayinya laki-laki, tampan seperti anda,'' ucap perawat sudah selesai membersihkan lalu membalut bayi mungil itu dengan kain bedong.


Perawatan itu pun menyerahkan bayi berjenis kelamin laki-laki itu kepada ayahnya, dan Alex segera menerima dan membawanya ke dalam dekapannya.


Dengan buliran air mata yang kini mulai berjatuhan, dengan perasaan senang dan juga rasa haru yang saat ini memenuhi hatinya, Alex menatap wajah tampan bayi pertamanya, dia pun berjalan ke arah Emillia, lalu memperlihatkan bayi mungil yang baru saja dilahirkannya.


Emill yang sedang keadaan setengah sadar, menatap sayu ke arah suami dan juga bayi yang di gendongnya.


''Terima kasih, sayang. Kamu telah melahirkan putra yang sangat tampan, aku bahagia sekali,'' lirih Alex mengecup kening Istri tercintanya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


__ADS_2