Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Anugerah


__ADS_3

Leonardo, dia segera meraih pergelangan tangan Adelia, menggenggam'nya erat dengan mata yang berkaca-kaca, menatap wajah istrinya yang masih terlihat pucat pasi dengan berbagai peralatan medis yang masih lengkap terpasang di tubuhnya.


Hari ini seperti sebuah anugrah baginya, pertama dia merasa puas dengan hasil tes DNA, kedua, setelah sekian lama, Akhirnya dia bisa meminta maaf kepada Alex, dan ketiga, istri tercintanya, yang sudah lama koma, kini dia terbangun, dan saat ini sedang memandang wajahnya dengan tatapan sayu, sungguh Leo merasa bahagia karena seperti di beri anugerah yang tidak terkira.


''Sayang, terima kasih sudah bangun, aku sungguh senang sekali sekarang, sungguh,'' ucap Leo mengelus kepala istrinya.


Adelia hanya mengangguk pelan, dengan wajah datar, masih merasa lemas dan sekujur tubuhnya pun belum bisa di gerakkan.


''Aku mencintaimu, istri'ku...'' Mengecup kening Adelia dengan rasa syukur yang tidak terhingga.


Tiba-tiba saja, buliran air mata membasahi ujung kelopak mata Adelia, dia menangis meski tidak mengeluarkan suara, Leo pun terkejut seketika lalu mengusap buliran air mata itu dengan jemarinya.


''Sayang, kenapa kamu menangis? aku sungguh senang kamu siuman, jangan menangis seperti ini, aku mohon...!''


Adel hanya memberikan isyarat lewat kedipan mata seiring dengan air mata uang turun dari ujung kelopak matanya.


Tidak lama kemudian Dokter pun datang, dia segera memeriksa kondisi pasien dan meminta Leo keluar dari dalam ruangan.


Dengan berat hati, Leo pun keluar dari dalam sana, dengan mata yang tidak luput dalam memandang wajah istrinya, meski kakinya mulai berjalan meninggalkan ruangan ICU.


Dia pun menunggu di luar ruangan dengan perasaan tidak sabar karena ingin segera mendengar kabar bahwa istrinya sudah benar-benar baikan.


Sampai akhirnya Dokter pun keluar dari dalam ruangan, menghampiri Leo dan berdiri tepat di hadapannya.


''Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?''


''Syukurlah, keadaan Nyonya Adelia sudah mulai stabil, jika hari ini keadaannya semakin membaik, maka besok beliau sudah bisa di pindahkan ke ruangan rawat inap.''


''Syukurlah...'' Leo mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, mengusap syukur.


''Tapi seperti'nya, beliau masih memendam kesedihan, jika di lihat dari raut wajahnya, Nyonya Adelia seperti memendam masalah, kalau bisa anda selalu suami'nya, harus bisa menghibur Nyonya Adelia, dan katakan padanya bahwa masalah yang dia tinggalkan sewaktu sebelum dia koma, sudah terselesaikan, agar nyonya tidak perlu merasa khawatir lagi.''

__ADS_1


''Baik, Dokter.''


''Kalau begitu, saya permisi, Tuan.''


Dokter pun meninggalkan Leo dan juga Ryan yang masih berdiri di luar ruangan.


''Selamat, bos. Akhirnya Nyonya bangun juga.''


''Iya, aku senang sekali sekarang, hari ini akan menjadi hari yang paling bersejarah bagiku, untuk pertama kalinya dalam hidup'ku, aku berlutut dan meminta maaf kepada musuhku sendiri, sesuatu yang tidak terbayangkan sedikit pun kalau aku akan melakukan hal tersebut, merendahkan diri sendiri, sesuatu yang selalu aku junjung tinggi harga diri ini.''


''Namun bersamaan dengan itu pula, istri'ku bangun dari koma nya, seolah sebagai imbalan dari yang maha kuasa karena aku telah meminta maaf dan mengakui kesalahan yang telah aku perbuat di masa lalu, meski seharusnya aku mendapatkan hukuman karena telah berbuat jahat, namun Tuhan malah memberiku anugerah yang tidak terkira, bukankah ini sebuah keajaiban?''


''Iya, bos. Aku pun sangat terharu sekali, doa-doa mu di dengan oleh Tuhan, aku ikut bahagia dan semoga kedepannya keluarga bos bisa lebih bahagia, dan tentunya terlepas dari setiap gangguan manusia yang bernama Alex itu.''


''Iya, semoga saja, kalau begitu aku masuk sekarang, aku harus menemani istri'ku, sebaiknya kamu dan istri'mu pulang saja, kasihan kalian belum beristirahat, terima kasih karena selalu mendukung dan menemani aku di sini, di saat seharusnya kamu menikmati masa-masa kalian sebagai pengantin baru.''


''Sama-sama, bos. Kalau begitu saya permisi pulang dulu.''


Beberapa hari kemudian.


Adelia pun sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, peralatan medis yang terpasang di tubuhnya pun sudah di lepaskan, hanya jarum infus saja yang masih menempel di pergelangan tangannya.


Wajah Adelia pun sudah tidak pucat pasi lagi, wajahnya sudah sedikit bercahaya meski guratan kesedihan itu masih sedikit terlihat dari raut wajah cantiknya.


Semua itu tidak lepas dari dukungan sang suami yang selalu setia menemani, meski hatinya masih di rundung rasa gelisah karena belum bisa menceritakan apa yang selama ini dia pendam, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya suaminya tersebut telah mengetahui hal itu.


Hari ini, setelah merasa bahwa keadaan tubuhnya sudah baik-baik saja, Adelia pun akan mencoba menceritakan semuanya, tidak peduli meski suaminya akan membenci dirinya nantinya.


Adel pun duduk bersandar bantal di belakang punggungnya, dan sang suami duduk di kursi di samping tempat tidurnya.


Diapun menatap wajah sang suami dengan tatapan penuh kasih sayang, dan pancaran penuh rasa cinta namun dengan aura yang penuh dengan rasa penyesalan.

__ADS_1


''Sayang, suami'ku. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.''


''Apa, katakan saja, apa ada yang kamu inginkan?''


''Tidak, bukan itu.''


Leo mengerutkan keningnya, sepertinya dia sudah dapat menebak tentang apa yang akan di ceritakan oleh istrinya tersebut, tidak ingin membuat istrinya mengingat kembali kejadian yang menyakitkan tersebut, Leo pun meraih lengan sang istri lalu menggenggam erat, seraya menatap wajahnya dengan sedikit tersenyum.


''Sayang, tidak usah kamu ceritakan, aku sudah tahu semuanya,'' Leo mengusap punggung lengan Adelia seraya menunduk menatap jemari lentik dan kurus istri tercintanya.


''Apa?''


Adel mulai berkaca-kaca, merasa tidak percaya bahwa ternyata suami'nya sudah mengetahui semuanya namun masih bisa bersikap biasa saja dan bahkan seperti tidak membenci dirinya sama sekali.


''Iya, sayang. Jangan terlalu memikirkan masa lalu, semua terjadi karena kesalahan aku sendiri, aku sebagai suami'mu tidak pernah bertanya tentang kesedihan dan masalah besar yang sedang kamu hadapi waktu itu, aku sungguh menyesal karena hanya bisa diam tanpa mengetahui apapun.''


''Apa kamu tidak membenci aku?''


''Hei... kenapa aku harus membenci dirimu? kamu istriku, dan aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku bisa membenci'mu? meski tidak dapat di pungkiri sebagai seorang suami, rasa kecewa dan rasa sakit hati itu ada, dan itu pertama kalinya aku rasakan semenjak aku menikah dengan'mu.''


''Tubuhku kotor, Leo. Apa kamu masih sudi menerima aku sebagai istri'mu?''


Buliran air mata mulai mengalir membasahi pipi Adelia.


''Dan, putra kita? apa kau tidak meragukan'nya sama sekali? bahwa dia sebenarnya... hiks hiks hiks...!'' Adel tidak kuasa meneruskan ucapannya.


''Tidak...! Dia putra'ku, dan aku sudah melakukan tes DNA kepada'nya, maaf karena aku baru mengatakannya sekarang.''


Adelia membulatkan bola matanya, merasa terkejut sekaligus tidak percaya bahwa suaminya telah melakukan tes DNA.


_________-------________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️❤️❤️


__ADS_2