
Mata Leo berbinar seketika, mendengar ucapan ibu benar-benar membuat hatinya tenang, ada rasa yang berbeda menyusup di relung hatinya, rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, antara, bahagia, terharu dan juga rasa tenang.
Dia menyadari bahwa hidup yang telah dia jalani selama ini berada di jalan yang salah, dan dia kembali membulatkan tekadnya bahwa mulai saat ini, dirinya akan menjalani hidupnya dengan benar.
''Terima kasih, Bu. Adelia istriku, karena masih sudi menerima aku, aku sungguh bersyukur mendapatkan istri dan mertua yang baik seperti kalian berdua, kalian adalah anugerah yang di berikan oleh tuhan untuk'ku,'' ujar Leo, hendak berdiri.
''Tidak usah berdiri, kamu lupa kalau kakimu sedang terluka?''
Ucap Adelia, melarang Leo berdiri, sebagai gantinya, dirinyalah yang berdiri dan menghampiri lalu duduk di samping sang suami.
Leo menatap wajah sang istri yang kini duduk di samping dirinya, dia pun segera memeluk tubuh Adelia dengan begitu eratnya, meluapkan kerinduan seraya mengucapkan rasa syukur.
''Terima kasih, karena mau menerima masa lalu aku,'' ucap Leo membenamkan wajahnya di leher sang istri.
''Aku mencintaimu, Del. Sungguh...!'' ucapnya lagi.
''Iya, aku tahu. Tapi ingat, jangan nakal lagi, kalau kamu nakal, aku tidak akan segan untuk meninggalkan'mu sendirian disini,'' jawab Adel melingkarkan kedua lengannya di pinggang sang suami.
''Nakal? memangnya aku anak kecil?'' protes Leo, melepaskan pelukan sang istri lalu menatap wajah cantiknya.
Adel hanya tersenyum.
Ibu yang ingin memberikan waktu kepada anak dan menantunya, segera berdiri lalu berjalan meninggalkan mereka berdua, memberikan ruang bagi keduanya untuk saling meluapkan kerinduan masing-masing.
''Bagaimana kabar calon bayi kita?'' Leo mengusap perut istrinya.
__ADS_1
''Dia baik-baik saja, dan aku juga sudah tidak terlalu merasakan mual muntah seperti waktu itu,'' jawab Adelia.
Leo mendekatkan kepalanya lalu menempelkan'nya di perut Adelia.
''Sayang, anak ayah, apakah kamu sudah memakan buah mangga yang ayah petik beberapa hari yang lalu?'' tanya Leo.
''Hus... ngaco kamu, yang memakan itu ibunya, bukan bayinya,'' Adelia tertawa.
''Tetap saja, kan katanya itu permintaan bayi kita.''
''Iya... iya... terserah kamu saja,'' Adel mengalah lalu mengusap rambut sang suami.
Kemudian Leonardo meletakan kepalanya di pangkuan Adelia, dengan wajah yang mengarah ke arah perut seolah sedang mengajak berbicara bayi yang berada di dalam perut Adelia.
''Sebentar aku fikirkan dulu,'' Adel terdiam sejenak.
''Hmmm... sebenarnya aku sangat suka dengan nama yang kamu berikan padaku dulu, sewaktu aku hilang ingatan,'' ucap Leo kemudian.
''Maksudnya, Axel?''
Leo menganggukan kepalanya.
''Boleh juga, meskipun waktu itu aku hanya asal-asalan saja memberimu nama itu,'' jawab Adelia mengingat kembali pertemuan pertama mereka.
''Masa sih?''
__ADS_1
Adel mengangguk.
''Tapi aku suka nama itu, Axel adalah awal mula jati diri Leonardo yang baru, Axel juga yang mengajarkan aku caranya menjalani hidup yang sederhana, kehidupan yang tidak pernah di lakukan oleh Leonardo,'' ujar Leo membicarakan diri sendiri, membandingkan seolah Leonardo dan Axel adalah dua orang berbeda dengan kepribadian yang berbeda pula, padahal mereka adalah orang yang sama, yaitu dirinya sendiri.
''Berjualan gorengan, berbelanja ke pasar, melayani pembeli, kadang aku merindukan itu semua,'' jawab Adelia, menatap wajah suaminya yang masih membaringkan kepala di dalam pangkuannya.
''Kadang aku juga seperti itu, tapi tetap saja, aku lebih suka kehidupan'ku yang sekarang, hidup senang dan banyak uang, tidak perlu panas-panasan hanya untuk mendapatkan sepeser uang receh, semua yang terjadi waktu itu bagaikan mimpi yang hanya singgah sebentar,'' ujar Leo menatap wajah sang istri.
''Aku juga sama, bertemu dan menikah dengan'mu bagaikan mimpi, mimpi indah, dan berharap tidak akan pernah terbangun, agar mimpi ini tidak pernah berakhir,
Kedua mata mereka saling beradu pandang seraya menyunggingkan senyuman. Sampai akhirnya Adelia mendekatkan wajah'nya dan menempelkan bibir di bibir suaminya, Leo pun menyambut sentuhan lembut bibir sang istri lalu ********** perlahan dengan penuh kasih sayang.
_____________-----------_______________
*Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Terima kasih Reader, semoga kalian sehat selalu...
******
__ADS_1