Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Jujur


__ADS_3

''Tunggu, Dokter ...?'' tangan Al meraih dan menahan pergelangan tangan sang Dokter yang hampir saja menyuntikan cairan di labu infus.


Dokter itu pun menoleh dengan tatapan tajam, namun, karena separuh wajahnya tertutup oleh masker, sehingga Al tidak dapat mengenali wajah Dokter tersebut.


Merasa aksinya diketahui, Dokter itupun mendorong Al, hingga dia hampir saja jatuh ke atas lantai, Dokter gadungan itu pun segera berlari keluar, Al pun hendak berlari mengejar, namun, Gabriel segera menahan, dengan memanggil nama kekasihnya tersebut.


''Al, cukup tidak usah di kejar,'' panggil Briel, lalu mencabut jarum infus di pergelangan tangannya.


Al pun menoleh dan menghentikan gerakan langkahnya, dia terkejut dan berteriak panik menatap pergelangan tangan kekasihnya yang meneteskan darah segar.


''Ya ampun, Briel. Apa yang kamu lakukan?'' Al panik dan segera menghampiri.


''Sepertinya Dokter tadi berhasil memasukan cairan itu, bisa panggilkan Dokter sekarang juga,'' ucap Briel dengan napas yang tersengal-sengal, berusaha untuk duduk.


Al segera memijit tombol darurat, secara berkali-kali, berharap Dokter akan segera datang, dan tidak lama kemudian Dokter pun datang di temani dengan satu orang perawat.


''Ada apa? kenapa jarum infusnya di cabut?'' tanya sang Dokter.


''Sepertinya tadi ada Dokter gadungan yang masuk ke sini, Dok. Dan dia berusaha menyuntikan sesuatu,'' jelas Al.


Dokter segera memeriksa kondisi Briel, dan dia pun meraih labu infus dan menggantinya dengan yang baru, sementara labu infus yang lama sengaja dia bawa untuk diperiksa di bagian labolatorium, agar bisa mengetahui, cairan apa yang tadi masukan kedalam sana.


''Untung saja, detak jantung kamu masih normal, sementara itu, kami akan segera memeriksa cairan apa yang tadi sempat dimasukan ke sini,'' jelas Dokter.


''Syukurlah. Tapi, Dok. Jika hasilnya sudah keluar, apa kami boleh tahu cairan apa yang tadi dimasukan dan apakah itu cairan yang berbahaya,'' pinta Briel.


''Tentu saja, kami akan memberitahukan hasilnya nanti. Baiklah kalau begitu saya permisi, dan disarankan agar pasien ada yang menjaga 24 jam, supaya kejadian seperti tadi tidak terulang lagi.''


''Baik, Dokter. Terima kasih.''


Dokter pun segera keluar dari dalam kamar.


'Siapa pria tadi itu? Apa dia anak buah Revan? jika memang begitu, itu berarti dia sudah tahu bahwa aku masih hidup, dan nyawaku terancam sekarang,' ( Batin Gabriel )


''Siapa pria tadi? apa kamu memiliki musuh?''


''Al, bisakah kamu hubungi Papi'mu sekarang, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadanya.''


''Kamu akan mengatakan kejadian ini sama Papi?''

__ADS_1


Briel menganggukkan kepalanya.


''Baiklah, aku akan nelpon dia sekarang.''


Al segera meraih ponsel dan menelpon Ayahnya, menceritakan kejadian yang baru saja menimpa sang kekasih, Leo pun mengatakan bahwa dia akan segera ke sana secepatnya.


Setelah menelpon, dia kembali memasukan ponsel kedalam tas kecil miliknya, Al kini menatap wajah Gabriel, menatap dengan tatapan tajam, seolah akan menginterogasi, membuat Briel gugup seketika.


''Gabriel, katakan yang sejujur, apa sebenarnya kamu punya musuh?'' Al dengan tatapan tajam.


''Eu ... Apa maksud kamu? mana mungkin aku punya musuh,'' jawab Briel, menggaruk kepalanya.


''Bohong ...! lalu, tadi itu apa? kamu sudah janji sama aku gak akan pernah menyembunyikan sesuatu lagi, kan?''


''Hmm ...''


''Terus ...? kenapa kamu berbohong sekarang?''


''Maaf, Al. Aku belum siap untuk menceritakan semuanya sama kamu, tapi Om Leo sudah tahu siapa aku yang sebenarnya, dan kami akan segera menyelesaikan masalah yang sedang aku hadapi ini.''


''Papi tahu siapa kamu? Memangnya kamu siapa? apa masih banyak yang kamu sembunyikan dari aku?''


''Oke, aku akan tanya masalah ini sama Papi dan ju-''


Belum sempat Al meneruskan ucapannya, tiba-tiba pintu pun di ketuk dan dibuka, Leo masuk kedalam kamar dengan si temani oleh Ryan.


''Apa kamu baik-baik saja, Gabriel?'' tanya Leo segera menghampiri.


''Iya, Om. Aku baik-baik saja sekarang, untung saja, Al segera menyadari kalau sebenarnya dia adalah Dokter palsu,'' jawab Briel, senang mendapatkan perhatian dari calon mertuanya.


''Syukurlah kalau begitu ...''


''Papi gak nanya keadaan aku?''


Leo menoleh ke arah putrinya.


''Oh, maaf sayang. Papi lupa nanya keadaan kamu, apa kamu baik-baik saja? penjahat itu gak ngapa-ngapain kamu, kan?''


''Nggak, Pap. Aku baik-baik saja ko, tapi aku penasaran, siapa sebenarnya Dokter gadungan tadi? kenapa juga dia berusaha mencelakai calon suami aku?'' Al dengan wajah penasarannya.

__ADS_1


''Nanti Papi jelasin, sekarang Papi minta kamu keluar dulu sebentar, ada hal penting yang ingin papi bicarakan dengan calon suami kamu ini, oke ...?''


''Nggak, aku mau di sini, dan aku ingin tahu semua yang belum aku ketahui tentang dia, SEMUANYA ...!''


''Tapi, Al ...?''


''Nggak, pokoknya aku gak mau keluar, titik ...!'' Al bersikukuh.


''Gak apa-apa, Om. Aku ingin putri Om tahu semua tentang aku, aku tidak ingin berbohong lagi tentang siapa aku yang sebenarnya,'' lirih Briel.


Sejenak, Leo pun mengingat masa lalunya dahulu, saat dia merahasiakan identitas dia yang sebenarnya dari Adelia sang istri, dan dia tahu betul, rasanya sangat menyakitkan bagi istrinya tersebut, saat rahasianya itu terbongkar, dan sekarang, kejadian itu terulang lagi, kepada putrinya, kini, putrinya telah terjerat cinta seorang mafia, sama seperti yang dialami oleh istrinya dahulu.


Mengingat itu semua, Leo pun sedikit tersenyum, ternyata, putri satu-satunya itu mengalami nasib yang sama dengan ibunya, namun bedanya, dia lebih tampan dan lebih kaya dari Gabriel. Batin Leo tersenyum geli.


''Pap ...? Papi mikirin apa sih? kenapa malah senyum-senyum sendiri?'' tanya Al merasa heran.


''Oh, nggak ko, Papi gak mikirin apa-apa,'' jawab Leo, menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.


''Sekarang, ceritakan semua tentang dia, semua yang Papi tahu, jangan ada yang di tutup-tutupi, oke ...?''


''Nanti dulu, Al. Butuh waktu panjang untuk menceritakan semuanya, sekarang kita fokus saja dulu dengan keselamatan dia, Papi akan menyediakan penjaga, yang akan menjaga kamar ini 24 jam, Papi nggak mau kalau sampai kejadian tadi terulang lagi.''


''Hmm ...! Baiklah kalau begitu, keselamatan dia lebih penting. Tapi Pap, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Papi, penting ...!"


"Apa itu sayang, bicara saja ..."


"Aku ingin menikah dengan dia secepatnya, agar aku bisa selalu menemani dia di sini, dan yang paling penting, agar dia tidak bisa melarikan diri lagi, pernikahan harus di adakan secepatnya, kalau bisa, diadakan di kamar ini sekarang juga," pinta Al dengan memasang wajah serius.


"Sekarang juga?" Leo terkejut membulatkan bola matanya.


Al mengangguk penuh keyakinan.


"Tapi dia masih dalam keadaan sakit, Al?"


"Aku gak peduli, apa Papi mau perut aku ini semakin membesar, dan orang-orang tahu bahwa aku hamil diluar nikah?''


Leo pun tertegun.


______________------------______________

__ADS_1


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2