
Sudah satu bulan semenjak Emillia dan Lucky sepakat untuk beristirahat dari hubungan mereka, hari-hari mereka di sekolah pun kini dijalani dengan rasa hampa, baik bagi Emillia ataupun bagi Lucky, keduanya kini jarang bertegur sapa bahkan terlihat cuek seolah hubungan keduanya sudah benar-benar berakhir.
Minggu depan Lucky sudah menghadapi ujian akhir sekolah, ujian yang menentukan kelulusan sebelum menginjak bangku Sekolah Menengah Atas.
Pagi ini, Emillia berjalan menuju kelas dimana biasa dia mengajar, langkahnya terlihat gontai dan agak sedikit malas sebenarnya, karena dia harus bertemu dengan Lucky, pria yang masih dicintainya.
Sejenak, seperti ada yang berbeda dengan suasana pagi ini, siswa-siswi seperti menatap dirinya dengan tatapan mengintimidasi dan seperti sedang saling berbisik, membuat dirinya tidak nyaman dan perasaannya pun mendadak tidak enak.
Sampai akhirnya terdengar suara satu orang siswi berbicara dengan suara yang terdengar lantang.
''Ehem ... Ehem ...! Ada salah satu guru di sekolah kita ini yang pacaran sama muridnya, apa gak malu tuh?'' teriak siswi tersebut.
Emillia pun menghentikan langkahnya, mengepalkan tangan dengan mata yang di pejamkan, menahan rasa kesal. Awalnya dia hendak menghampiri siswi tersebut, namun, kemudian dia mengurungkan niatnya karena tidak ingin membuat kegaduhan.
Dia pun akhirnya memutuskan untuk meneruskan langkahnya dan tidak meladeni siswi tersebut, meski hatinya merasa kesal sebenarnya.
'Darimana mereka tahu tentang hubungan aku sama Lucky?' (Batin Emil penuh tanda tanya )
Sampai akhirnya dia pun sampai di depan kelasnya, Emillia terlihat menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya secara perlahan, sebelum dia membuka pintu dan masuk ke dalam kelas.
Ceklek
Pintu pun di buka dan Emilia masuk ke dalam kelas.
''Selamat pagi anak-anak ...'' ucap Emillia berjalan menuju meja.
''Selamat pagi, Bu Emillia,'' jawab semua siswa serentak, dengan tatapan yang sedikit meledek.
Emillia pun menatap bangku Lucky, menatap siswa itu yang terlihat sedang melamun, dengan mata yang menatap ke arah luar melalu kaca jendela dengan raut wajah yang terlihat datar, dia bahkan tidak ikut menjawab sapaan dirinya seperti yang siswa lain lakukan.
__ADS_1
''Bu, izinkan saya menanyakan sesuatu ...?'' salah seorang siswa tiba-tiba saja mengangkat tangan.
''Apa yang ingin kamu tanyakan?''
''Maaf sebelumnya, Bu. Apa benar ibu berpacaran dengan salah satu siswa di sekolah ini?'' tanya siswa tersebut, membuat Lucky terkejut dan menatap ke arahnya.
''A-apa mak-sud ka-mu? darimana kamu dapat gosip seperti itu?'' tanya Emillia sedikit terbata-bata.
''Apa ibu tidak tahu kalau gosip itu sudah menyebar di seluruh sekolah? semua siswa sudah tahu tentang hal ini, hanya saja kami belum tahu siapa siswa yang di pacari ibu.''
''Hey, Lo gak sopan banget sih, nanya urusan pribadi ibu Emil, suka-suka dia dong mau pacaran sama siapa aja,'' ucap Lucky, berdiri menatap wajah salah satu teman sekelasnya itu.
''Lho, ko Lo yang marah? jangan-jangan siswa yang dipacari oleh ibu Emil itu Lo, ya ...?''
''Kalau emang iya, kenapa? apa hak Lo menghakimi dia?'' teriak Lucky kesal, membuat semua yang ada di sana terkejut tidak percaya.
Emill pun hanya bisa menatap wajah Lucky dengan tatapan nanar, dia bahkan menggelangkan kepalanya, seolah meminta pria tampan itu untuk menghentikan dan mengendalikan emosinya.
Kesal karena di ejek seperti itu, Lucky pun berjalan menghampiri temannya tersebut dan langsung melayangkan bogem mentah, hingga keributan pun tidak terhindarkan lagi.
Tidak terima karena tiba-tiba mendapatkan pukulan, siswa yang bernama Aril itupun membalas memukul wajah Lucky hingga keduanya benar-benar berduel di dalam kelas diiringi riuh siswa-siswi yang berteriak sekaligus terkejut karena tidak pernah melihat Lucky marah apalagi sampai memukul.
''HENTIKAN ...!'' teriak Emillia, berdiri tepat di depan kelas, namun, teriakannya tidak dihiraukan.
Lucky dan Aril masih saja memukul dan bahkan saling menendang, kini posisi Lucky berada di atas tubuh Aril, memukuli wajahnya tiada henti, sampai akhirnya Emillia menghampiri dan berdiri tepat di belakang Lucky.
''LUCKY, KITA PUTUS SEKARANG JUGA,'' teriak Emil, membuat Lucky menghentikan kepalan tangannya di udara, dan tentu saja seluruh siswa yang ada di sana terkejut mendengar ucapan wali kelasnya tersebut.
''Anak-anak, ibu minta maaf karena telah membuat kegaduhan, dan ibu akan mengundurkan diri sebagai guru di sekolah ini, ibu permisi ...'' ucap Emillia, lalu berjalan keluar dari dalam kelas.
__ADS_1
Lucky yang semula mematung karena mendengar kata putus dari kekasihnya itu, segera berlari mengejar Emillia, keluar dari dalam kelas.
''Bu, tunggu ...!'' teriak Lucky meraih pergelangan tangan Emillia.
''Lepaskan Lucky, apa kamu tidak malu di liatin suruh siswa di sini?'' bisik Emillia membulatkan bola mata, menatap sekeliling.
''Aku gak peduli,'' jawab Lucky datar.
''Nanti kita bicara, setelah kamu selesai sekolah, oke ...? jangan di sini aku mohon, sudah cukup aku di permalukan hari ini,'' ucap Emillia setengah berbisik.
''Tapi-?''
''Aku janji, pulang sekolah aku akan meluangkan waktu untuk kita bicara empat mata, tapi jangan di sini, datang ke rumah aja, karena aku akan pulang sekarang juga,'' Emillia dengan tatapan sendu.
''Baiklah ...'' Lucky akhirnya melepaskan genggaman tangannya, dan membiarkan wanita yang dia cintai itu pergi dari hadapannya.
Sementara itu, semua teman sekelasnya menatap wajah Lucky dengan tatapan mata seolah tidak percaya bahwa pria yang berpacaran dengan wali kelas mereka adalah Lucky, pria tampan, populer dan terkenal pendiam, namun, ada satu siswi yang terlihat biasa saja, dia bahkan tersenyum menyeringai merasa senang, karena akhirnya usahanya untuk memisahkan Lucky dengan pacarnya berhasil.
Ayu pun menatap wajah Lucky yang saat ini terlihat sedang berjalan ke arahnya, dengan diiringi tatapan tajam dan penuh kebencian dia meraih pergelangan Ayu secara kasar, dan memintanya ikut dengan dirinya dengan sedikit paksaan.
''Ikut aku sekarang juga, cewek gila ...!'' ujar Lucky, menarik tangan Ayu.
Ayu pun hanya menurut, masih dengan senyuman yang membuat Lucky merasa jijik melihatnya. Lucky membawa Ayu ke belakang gedung sekolah, membanting tubuhnya hingga bersandar ke tembok.
''Gue tau, Lo yang nyebarin berita itu 'kan?'' tanya Lucky dengan tatapan tajam.
''Kalau iya emang kenapa? Lo emang gak pantas ko pacaran sama dia, Lo pantasnya pacaran sama gue, kita seumuran, sementara dia hanya tante-tante girang yang sukanya sama berondong, kalian gak pantas berpacaran,'' jawab Ayu, membuat Lucky segera mengangkat tangannya ke udara hendak melayangkan pukulan.
_____________---------_____________
__ADS_1
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Reader, terima kasih ❤️❤️❤️