Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Kambuh


__ADS_3

Ceklek


Lucky membuka pintu kamar dan terkejut seketika dengan apa yang dia lihat di dalamnya, Emil, wanita yang di cintai-nya sedang duduk bersandar tembok dengan napas yang terlihat sesak, sepertinya penyakit asma yang di deritanya sedang kambuh, membuat wanita itu terlihat kesulitan bernapas dengan dada yang nampak naik turun.


Lucky pun segera berlari menghampiri dan meraih tubuh Emillia yang saat ini dalam keadaan setengah terpejam, untung saja Lucky datang di waktu yang tepat, jika tidak mungkin Emillia sudah wafat.


Dia pun menggendong tubuh Emillia ke atas ranjang, membaringkannya lalu menatap ke sekitar kamar, mencari alat bantu pernapasan yang biasa di gunakan oleh wanita tersebut, dan tidak menunggu lama, dia pun akhirnya menemukan alat itu dan segera mengambilnya, lalu menempelkannya di mulut Emillia.


''Bernapas'lah, Emil. Aku mohon sadarlah, maafkan aku karena telah menyakiti hatimu,'' lirih Lucky dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


Lambat laun, helaan napas Emillia pun mulai terlihat berhembus dengan normal, dada yang semula terlihat naik turun kini sudah sedikit tenang, wanita itu pun membuka mata, menatap wajah Lucky dan sedikit tersenyum.


''Lucky, se-dang apa kamu di-si-ni ...?'' lirih Emillia dengan suara berat.


''Jangan bicara dulu, tenangkan dulu perasaanmu,'' jawab Lucky, pilu.


Emillia pun menganggukkan kepalanya, matanya mulai di pejamkan dengan tangan yang menggenggam erat jemari Lucky, begitu erat hingga kedua tangan itu pun saling bertautan.


Lucky meraih selimut yang di lipat di ujung ranjang, menutup seluruh tubuh Emillia agar wanita itu merasa hangat, karena tubuhnya terasa begitu dingin sekarang.


Lucky pun berbaring di samping tubuh Emillia, namun, di luar selimut, menatap lekat wajah itu, wajah anggun dan dewasa yang saat ini sedang memejamkan mata dengan wajah yang terlihat pucat pasi.


Dia pun merapikan rambut panjang Emillia yang saat ini menutupi sebagian wajah cantik itu, masih dengan mata yang tidak luput dalam memandangi wajah Emillia, wanita yang sangat dicintainya.


Merasakan sentuhan hangat yang terasa lembut menyentuh wajahnya, Emill pun mulai membuka mata secara pelan lalu menatap remaja tampan yang saat ini berada tepat di sampingnya.


Ingin berucap, tapi bibirnya terasa berat, ingin bangkit namun, tubuhnya terasa lemas, alhasil, Emill hanya bisa menatap wajah tampan itu dengan tubuh yang semakin dirapatkan sehingga kini mereka saling mendekap satu sama lain dengan selimut tebal yang menjadi penghalang tubuh keduanya.


''Diam dulu, jangan mengatakan apapun. Biarkan tubuh kamu ini pulih dulu, aku tidak ingin kalau kamu sampai kenapa-kenapa,'' lirih Lucky semakin mendekap erat, raga Emillia.

__ADS_1


Sementara Emilia, dia membenamkan kepalanya di dada bidang seorang Lucky, aroma wangi yang tercium khas dari tubuh remaja itu pun benar-benar membuat dirinya tenang, hingga tanpa sadar dia pun tertidur di dalam dekapan laki-laki yang baru saja diputuskan olehnya itu.


Dua jam kemudian.


Lucky mulai membuka mata, mengedipkan'nya secara perlahan, lalu mengusap dengan kedua tangannya. Apa dia ketiduran tadi? batin Lucky dengan mata yang menatap sekeliling, dengan mulut yang terlihat menguap menahan rasa kantuk.


Dia pun mencari sosok Emillia yang sudah tidak ada lagi di sisinya sekarang, bangkit lalu berdiri dengan perasaan panik, seraya memanggil nama Emillia.


''Emil ...?'' teriak Lucky melangkah keluar dari dalam kamar.


''Kamu sudah bangun, tidurnya lelap sekali ...'' jawab Emil, ternyata dia sedang menyiapkan makanan yang baru saja di masakannya di atas meja makan.


''Apa keadaan kamu sudah baik-baik saja? seharusnya kamu istirahat,'' tanya Lucky menghampiri, lalu berdiri di depan Emillia.


''Aku sudah baik-baik saja, kok. Untung kamu datang tepat waktu, kalau tidak, mungkin aku sudah wafat,'' lirih Emillia dengan tatapan sayu menatap wajah Lucky yang terlihat begitu tampan meski dengan rambut yang sedikit berantakan.


''Maaf, karena telah membuatmu seperti ini,'' Lucky memeluk tubuh Emillia, membenamkan kepalanya di leher Emillia.


''Wah, kayaknya enak. Kamu yang masak ini semua?''


Emill mengangguk seraya tersenyum.


''Kebetulan sekali aku memang lapar, dari kemarin belum makan apapun,'' Lucky duduk di kursi dengan mata yang menatap makanan yang tersaji di meja makan.


Sesaat, ada perasaan aneh yang menyusup di relung hati seorang Lucky, karena Emil bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa, padahal hubungan mereka sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Akh ... Dia sama sekali tidak peduli, yang terpenting hatinya bahagia sekali sekarang, dan berharap bahwa wanita itu membatalkan niatnya untuk mengakhiri hubungan mereka.


Perlahan, Emillia mengisi piring dengan nasi dan beberapa lauk pauk yang dia masak sendiri, setelah itu meletakkan-nya tepat di depan Lucky, membuat remaja itu merasa senang, dan tersenyum begitu lebarnya.

__ADS_1


''Makan yang banyak, katanya kamu belum makan dari kemarin, 'kan? kamu harus mengisi perut kamu dengan makanan agar otak kamu bisa menyerap pelajaran, lagipula Minggu depan kamu sudah mulai ujian, belajar yang rajin agar nilai kamu tidak merosot dan bisa masuk ke Sekolah Menengah Atas yang kamu inginkan,'' lirih Emillia menatap wajah Lucky yang saat ini terlihat mulai memasukan makanan ke dalam mulutnya.


''Ucapan kamu lebih terdengar seperti kata perpisahan,'' jawab Lucky belum menyadari bahwa yang dia katakan memanglah benar.


Sementara itu Emillia hanya tersenyum getir.


''Gimana, enak 'kan?''


''Hmmm ... Enak banget. Tapi ko kamu gak makan, gak enak nih makan sendirian.'' Tanya Lucky dengan mulut yang penuh dengan makanan.


''Oke, aku makan juga deh.''


Emill meraih piring kosong dan mengisinya dengan makanan, setelah itu dia pun memasukan nasi sesuap demi sesuap ke dalam mulut, dengan wajah yang terlihat menunduk, seperti sedang menahan kesedihan, dengan air mata yang mulai memenuhi kelopak mata indahnya.


Mendengar suara isakan dari bibir Emillia, Lucky pun menghentikan gerakan tangannya, lalu meletakan sendok sembarang di atas piring, dia menatap wajah Emillia dengan perasaan heran.


''Kamu kenapa? ko nangis?'' lirih Lucky, meraih dagu Emillia dan sedikit mengangkatnya.


Emil hanya tersenyum getir, dia pun meletakan sendok dan menelan makanan yang berada di dalam mulutnya, sebelum dia mulai berbicara dengan perasaan sedih dan nada suara yang sedikit dipaksakan.


''Terima kasih karena telah menemani hari-hariku selama ini, berkatmu hari yang aku jalani menjadi lebih berwarna, dan tentunya aku sangat bahagia pernah memiliki kekasih seperti kamu, Lucky ...'' lirih Emillia dengan air mata yang semakin membasahi wajah cantiknya kini.


''Maksud kamu apa? aku sama sekali gak mengerti, dan aku gak mau kita putus, Emillia. Aku mencintaimu ...'' jawab Lucky getir.


____________-----------_____________


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Reader, terima kasih ❤️❤️❤️


Mampir juga di karya sahabat othor ya, semoga bisa menghibur kalian semua ...

__ADS_1



__ADS_2