Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Di Bubarkan


__ADS_3

Revan benar-benar di bawa ke Rumah sakit oleh Leonardo dan juga Alex. Di sana, Revan ditempatkan di ruangan VVIP agar sahabatnya itu nyaman dalam mendapatkan perawatan.


Saat ini, Leo nampak sudah berada di ruangan tersebut, dan tentu saja bersama Alex yang saat ini berdiri bersamanya di samping ranjang.


''Siapa yang akan menjaga Revan di sini? Putrinya 'kan sekolah, dia gak akan bisa 24 jam berada di sini,'' tanya Alex.


''Hmmm ... Aku akan menugaskan beberapa orang anak buah aku untuk berjaga dan melayani dia di sini.''


''Emangnya mereka masih ada? katanya kamu mau bubarin perkumpulan Mafia kamu itu?''


''Belum. Aku belum sempat melakukannya, gak ada waktu. Tau sendiri, aku harus membantu menjaga ketiga cucuku. Al gak mau kalau putri-putrinya di asuh sama baby sister.''


''Hadeuh, bukannya kamu sudah janji sama istrimu untuk membubarkan mereka semua?''


''Ish ... Kamu ini, aku 'kan sudah bilang, aku gak ada waktu.''


''Gak ada waktu atau emang gak niat?'' Jawab Alex sudah bisa menebak.


''Hmm ... Sebenarnya aku masih ngerasa berat buat membubarkan mereka semua. Mereka sudah seperti keluargaku sendiri, dan aku juga selalu menggaji mereka setiap bulannya, meskipun mereka tidak melakukan apa-apa.''


''Kamu memang sombong, Leo. Tapi kamu juga baik, buktinya, kamu masih mau ngasih mereka uang meskinya mereka tidak melakukan apapun. Buktinya lagi, kamu mau membiayai semua pengobatan Revan di sini.''


''Siapa bilang, kita 'kan sudah sepakat buat paroan, nggak semuanya aku yang bayarin. Kamu ini, jangan sampai kamu ingkar janji ya,'' tegas Leo dengan mata yang dibulatkan.


''Iya-iya deh. Aku tarik lagi ucapan aku yang tadi?''


''Ucapan yang mana?''


''Yang tadi?''


''Iya, yang tadi yang mana, Alex ...?''


''Yang aku bilang bahwa kamu orang baik. Ternyata aku salah bicara, aku ralat. Leonardo ternyata orang yang perhitungan dan pelit,'' Alex mengerucutkan bibirnya.


''Ha ... ha ... ha ...! Alex ... Alex ... Kamu ini, gitu aja marah. Kebaikan itu gak perlu di umbar, apa kamu tau pepatah yang mengatakan, tangan kanan yang memberi dan tangan kiri yang menyembunyikan? Itu artinya, kita tidak perlu mengumbar kebaikan yang kita lakukan, cukup tuhan yang tahu dan mencatat semua kebaikan-kebaikan kita.'' Jelas Leo, Alex pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


''Bukan tangan kanan memberi dan tangan kiri yang mengambil?''

__ADS_1


''Itu sih kamu, Alex.''


''Ha ... ha ... ha ... tau aja kamu,'' Alex tertawa renyah.


Tanpa di sangka, Revan yang sedang berbaring pun ikut tertawa meski tawa yang terdengar dari bibirnya itu hanya tawa seadanya dengan bibir yang masih terlihat kaku.


Melihat kedua sahabatnya yang seperti anjing dan kucing benar-benar membuat Revan merasa senang. Revan tau betul bahwa kedua sahabatnya itu memang selalu seperti itu dari semenjak mereka masih muda.


Saling mengejek, saling menghina namun, jauh dari lubuk hati mereka yang paling dalam, Alex dan juga Leo saling menyayangi satu sama lain melebihi dari apapun.


''Sudah-sudah jangan berdebat mulu, kasian yang lagi sakit 'kan.'' tegas Alex.


''Nah, 'kan kamu yang tadi ngajakin berdebat, kenapa sekarang jadi aku yang di salahin?'' jawab Leo masih tidak mau mengalah.


''Dasar, Leonardo keras kepala,'' gerutu Alex, mengalah juga akhirnya, karena sahabatnya itu pasti tidak akan pernah mau mengalah darinya.


Tidak lama kemudian, Ayu pun masuk kedalam ruangan bersama Lucky yang kini telah berganti pakaian.


Ayu nampak memakai t-shirt berwarna putih dengan celana jeans abu yang menjadi pasangannya, dan Lucky pun nampak memakai setelan dengan warna yang sama membuat keduanya terlihat begitu serasi dan juga sedap di pandang.


''Papi, Om Alex. Kalau kalian mau pulang, pulang aja. Om Revan biar aku sama Ayu yang jagain,'' pinta Lucky berjalan masuk ke dalam kamar.


''Iya, Om. Kami gak apa-apa ko, lagian besok sekolah libur, jadi kami punya waktu untuk istirahat besok,'' jawab Ayu.


''Ya sudah, kami pulang dulu.'' Leo dan Alex hendak melangkah keluar dari dalam kamar.


''Hmm ... Lucky, Ayu ... Om udah minta anak buah Om untuk berjaga di sini, jadi kalian tidak perlu merasa khawatir, karena kalian tidak akan hanya berdua di sini. Oke ...?'' Ucap Leo seketika memutar badannya terlebih dahulu.


''Anak buah?'' Ayu mengerutkan keningnya tidak mengerti.


''Maksud Om, salah satu karyawan Om. Bukan-bukan, tapi salah satu penjaga yang biasa bekerja dengan Om. Sebentar lagi mereka datang kemari, jumlahnya ada tiga orang.'' Leo sedikit terbata-bata.


''Oh, begitu? Oke ...'' Ayu akhirnya mengerti.


Leo dan Alex pun kembali memutar badan dan hendak keluar dari dalam kamar.


''Tunggu, Om.''

__ADS_1


Ayu menghentikan.


''Ada apa lagi, Ayu? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?'' tanya Alex lembut.


''Nggak, bukan itu. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih sama kalian berdua, sungguh ... aku tidak tau harus membalas semua kebaikan kalian dengan apa,'' lirih Ayu menatap wajah Leo dan juga Alex secara bersamaan.


''Sama-sama, sayang. Lucky, kamu temani Ayu di sini, ya. Papi izinkan kamu menginap di sini,'' ucap Leo kemudian.


''Papi serius?'' Lucky tersenyum dengan mata yang berbinar.


''Tentu saja, kalau bukan kamu yang menemani? sama siapa lagi dia akan berada di sini? apa kamu tega ninggalin pacar kamu yang cantik ini sendirian?''


''Makasih, Pap.'' Lucky tersenyum senang.


''Ya udah, Papi pamit sekarang.'' Leo benar-benar keluar dari dalam kamar.


''Kalian berdua hati-hati di jalan ya.''


Ayu melambaikan tangannya seraya tersenyum.


Setelah menatap kepergian dua sahabat sang ayah, kini Ayu perlahan mendekati ranjang dimana ayahnya itu berbaring. Dia nampak menatap wajah Revan dengan tatapan penuh kasih sayang.


''Ayah ... Gimana perasaan ayah?'' lirih Ayu mendekatkan wajahnya di depan wajah sang ayah.


Revan hanya mengedipkan matanya, dengan bibir yang sedikit digerakkan.


''Ayah yang sabar, ya. Aku yakin Ayah akan segera sembuh.''


'Tidak sayang, sepertinya ini adalah hukuman yang harus ayah terima karena sudah terlalu banyak menyakiti hati manusia, terutama hati kamu dan ibumu, ayah ikhlas seperti ini, jika itu memang bisa menebus semua kesalahan yang pernah ayah perbuat di masa lalu,' (Batin Revan)


Revan menatap lekat wajah putrinya itu, tatapan matanya nampak penuh dengan kasih sayang dan pancaran penuh penyesalan.


Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa bahwa umurnya itu tidak akan lama lagi, dan sebelum itu benar-benar terjadi, dia ingin memuaskan diri terlebih dahulu untuk memandang wajah Ayu, putri yang sangat dia sayangi.


''Ayah, kenapa ayah menatap wajahku seperti itu?'' tanya Ayu merasa khawatir.


Revan kembali mengedipkan matanya dan memaksakan diri untuk tersenyum, agar putrinya itu tidak merasa cemas dan khawatir.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2