Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Menyebalkan


__ADS_3

Alex, belum terlelap, rupanya dia mengabaikan peringatan sang putri untuk tidak menunggunya pulang dan tidur duluan, dia masih duduk di atas kursi roda di ruang tamu menanti kepulangan putrinya tersebut.


'Amora kemana? kenapa belum pulang juga?'


Alex melirik jam di pergelangan tangan kirinya, sudah pukul satu dini hari, perasannya diliputi rasa cemas, dia pun menatap ponsel yang memang sudah sedari tadi dia genggam hendak menelpon Amora.


Namun, saat dirinya akan melakukan hal tersebut ponselnya sudah berdering terlebih dahulu, di tatapnya layar ponsel, dan segera mengangkat telpon saat nama Amora muncul dalam panggilan telponnya.


"Halo..."


"Apakah ini dengan ayahnya Amora?"


"Iya, betul. Ini siapa?"


"Saya orang tua temannya Amora, seperti'nya malam ini Amora akan menginap di rumah saya, jadi anda tidak usah cemas, ya?''


''Benarkah, bolehkah saya berbicara dengan putri saya sebentar?''


'Mengapa suaranya seperti tidak asing di telinga aku'


Batin Alex, seolah mengenali suara Adelia yang kini sedang berbicara dengannya di telpon.


''Halo, Dad...! ini aku ...!'' terdengar suara Amora kemudian.


''Iya, sayang. Kamu dimana? kenapa tidak pulang? apa kamu tahu Daddy tidak bisa tidur karena nungguin kamu?'' Alex sedikit menaikan suaranya.


''Maaf, Dad. Malam ini aku menginap di rumah teman ya, Dad.''


''Apa kamu baik-baik saya, sayang?''


''Tentu saja, aku baik-baik saja, Dad tidak usah cemas, oke.''


''Baiklah kalau begitu, besok pagi-pagi kamu segera pulang.''


''Oke, Dad. Aku tutup ya, Daddy tidur, ini sudah malam, Babay Dad.''


Keduanya pun menutup telpon.


***


Amora meletakan ponsel di atas tempat tidur. Axela dan ibunya pun menatap Amora dengan tatapan sayu.


''Dimana ibu'mu?'' tanya Axela.


''Gue tidak punya yang namanya ibu,'' Amora menunduk.


''O ya? maaf gue gak tau kalau lo---'' Al merasa tidak enak.


''Tante bawain bubur, kamu makan dulu ya, Axel sengaja malam-malam begini keluar mencari bubur ayam, untung saja masih ada yang jualan.''


''Terima kasih, Tante...!''


''Mari, Tante suap'in, ya.''

__ADS_1


Amora mengangguk.


Amora kembali menatap wajah ibu dari Axela itu, masih dengan tatapan sayu dan pancaran penuh dengan rasa kerinduan terhadap sosok seorang ibu.


''Aa...'' Adela mengambil satu sendok bubur lalu meminta Amora membuka mulut.


''A....''


Amora pun menerima suapan pertama dengan mata yang tidak luput dalam memandangi wajah Tante Adelia. Keduanya pun terus melakukan hal tersebut sampai mangkuk bubur benar-benar kosong.


Trok


Trok


Pintu kamar pun di ketuk dua kali, Axel masuk kedalamnya dengan wajah datar dan mata yang terlihat berat seperti menahan rasa kantuk.


''Gimana keadaan Lo?'' tanya Axel.


''Lumayan, sudah agak baikan.''


''Kamu tidur saja lagi, ya. Tante keluar dulu.''


''Baik, Tante. Terima kasih banyak, buburnya enak sekali,'' jawab Amora tersenyum.


Tante Adelia pun pergi keluar dari dalam kamar, dengan tatapan Amora yang terus memandangi wajah'nya sampai tubuh Adelia benar-benar keluar dari dalam kamar.


''El...! Amora diapain si sampai kayak gini?'' Al menatap wajah sodara'nya dengan tatapan penuh dengan rasa curiga.


''Diapain apanya? dia tiba-tiba pingsan di depan gue, ya udah, gue bawa dia pulang aja, dari pada di bawa ke Rumah sakit, bisa ribet nanti urusannya.''


Al bergantian menatap wajah Amora.


''Sebenarnya tadi motor gue hampir aja nabrak mobil dia, untungnya hanya keserempet dikit, tapi itu juga dia nya yang menghalangi jalan gue.''


''Menghalangi? Heh... cewek bar-bar, Lo sendiri yang kebut-kebutan di jalan raya, terus nabrak mobil gue,'' Axel membulatkan bola mata'nya merasa kesal.


Sementara Amora hanya terdiam, karena sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, dia mengakui bahwa dialah yang salah, mengebut di jalanan, di tengah malam pula.


''Sudah, El. Kasian Amora, dia masih kesakitan, mendingan Lo keluar deh, tidur sana,'' ujar Al membela Amora.


''Iya, ini juga gue mau keluar, ngapain lama-lama ada di sini, males... We...'' El menjulurkan lidahnya meledek, seraya berjalan keluar dari dalam kamar.


Merasa kesal di ledek seperti itu, Al, melempar bantal dan tepat mengenai kepala kakaknya tersebut, El cengengesan dan segera meraih bantai itu lalu berlari membawanya keluar.


''Itu bantal kesayangan gue, El. Balikin...'' Al berlari mengejar.


''Siapa suruh di lempar ke gue, we...'' jawab Al berlari semakin menjauh.


Amora, menatap dua saudara kembar tersebut dengan tersenyum, ada perasaan iri yang menyusup di dalam relung hatinya, selama ini dia menjalani hidup dalam kesepian, tanpa seorang ibu apalagi saudara.


Sungguh apa yang dia lihat membuat hatinya sedikit merasa senang.


Tidak lama kemudian, Axela kembali dengan membawa bantal yang tadi dia lempar, wajahnya sedikit berkeringat dan bibirnya pun di kerucutkan, merasa kesal kepada saudara kembarnya tersebut.

__ADS_1


''Apa kalian selalu bercanda seperti itu?'' tanya Amora.


Axela mengangguk.


''Aku iri melihat kalian seperti itu.''


''Apa kamu tidak punya saudara?''


Amora menggelengkan kepalanya.


''Saudara jauh mungkin?''


Amora pun kembali menggelengkan kepalanya, seraya menunduk merasa sedih.


''Jangan khawatir, mulai sekarang kamu bisa menganggap aku saudara perempuan kamu, lagi pula kamu calon Kaka ipar aku, kan?''


Amora terkejut, lalu mengangkat kepalanya.


''Apa...? Tidak, saudara'mu menyebalkan.''


''Dia emang orang'nya gitu, nyebelin plus playboy pula.''


''Playboy?''


Axela mengangguk.


''Hayo, siapa yang bilang gue playboy?'' Axel mengintip ke dalam kamar dari celah pintu yang memang masih dalam keadaan terbuka.


Kedua gadis remaja cantik itupun menoleh secara bersamaan, menatap wajah Axel dengan perasaan geram.


''Axel... nyebelin banget sih, Lo nguping ya?''


Al kembali melempar bantal kemudian menutup pintu secara kasar.


Bruk...


''Awas ya kalian kalau berani ngomongin gue dari belakang lagi, jangan mentang-mentang gue ganteng dan tampan ya, kalian seenaknya ngomongin gue.'' Teriak Axel dari luar kamar.


Axela dan Amora pun tidak menanggapi ucapan Axel, yang terus berteriak dari luar kamar. Mengabaikan'nya sampai akhirnya suara Axel hilang dengan sendirinya.


***


Keesokan harinya.


Karena hari ini hari Minggu, Axel, masih tertidur di kamarnya, begitupun dengan Axela dan juga Amora, hanya Lucky saja yang terlihat sudah bangun dan sedang berjalan ke kamar kakak perempuannya.


Ceklek


Lucky membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamar, setelah itu dia berbaring di atas ranjang, tanpa dia sadari bahwa sebenarnya dia berbaring tepat di samping Amora.


Lucky, dia memang memiliki kebiasaan seperti itu, selalu berpindah kamar kala bangun terlalu awal, kalau tidak ke kamar Kaka sulung'nya, ya... pasti berpindah ke kamar kakak perempuannya, seperti yang dia lakukan pagi ini.


Dia pun meringkuk dan memeluk tubuh wanita yang dia kira adalah kakak perempuannya, Axela.

__ADS_1


___________----------___________


__ADS_2