
Lucky segera berlari ke dalam rumah saat telinganya mendengar suara nyaring seperti benda yang di lempar keras, entah itu gelas atau benda pecah belah lainnya.
Leonardo yang mendengar suara itu pun segera mengikuti putra bungsunya itu masuk ke dalam rumah.
Mata Lucky nampak membulat sempurna saat melihat Ayu berdiri bersandar di tembok dengan pecahan kaca yang dia letakkan di pergelangan tangannya, pelupuk matanya pun penuh dengan air mata, menatap tajam ke arah Revan, Ayahnya sendiri.
Panik, Lucky hendak berlari menghampiri, namun, tangannya segera di raih oleh Leo sang ayah yang memintanya untuk tenang, karena jika salah langkah maka pecahan tajam itu akan menghujam di pergelangan tangan kecil gadis itu.
''Sabar, Dek. Tenang ... Jangan gegabah, kalau kamu salah langkah, nyawa Ayu bisa benar-benar terancam,'' bisik Leo, menggenggam erat tangan putranya.
''Tapi, Pap. Jika aku diam saja, Ayu bisa mati di sana?''
''Tunggu, sayang. Tenang dulu, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, percaya sama Om Revan, ini saatnya untuk dia benar-benar membujuk putrinya dan menunjukan penyesalannya di depan Ayu,'' tegas Leo penuh penekanan.
''Tapi, Pap-?'' lirih Lucky mulai berkaca-kaca.
Sementara itu, ingatan Ayu benar-benar telah kembali utuh, utuh seutuh-utuhnya tidak ada satupun yang terlewatkan, ternyata apa yang dikhawatirkan oleh Lucky benar-benar terjadi, ingatan Ayu kembali setelah bertemu dengan Revan.
''Jangan mendekat, Ayah. Kalau ayah tidak mau benda tajam ini menghunus tangan aku, JANGAN MENDEKAT ...?'' teriak Ayu berlinang air mata.
''Ayu, sayang. Ayah tau ayah salah, dan ayah menyesali semua perbuatan ayah di masa lalu, sungguh, kalau ada yang harus mati, seharusnya ayah yang mati, bukan kamu. Masa depan kamu masih panjang, sayang. Dan kamu harus ingat, ada Lucky yang akan merasa sedih karena melihat kamu seperti ini,'' jawab Revan, menangis sesenggukan.
''Kenapa? bukankah selama ini ayah emang ingin aku mati, hah ...?''
''Tidak, sayang. Ayah sayang sama kamu, sungguh, jangan lakukan itu, sayang. Ayah benar-benar minta maaf, ayah salah, Ayu. Maafkan ayah ... Hiks hiks hiks ...''
__ADS_1
Ayu terdiam, matanya masih menatap dengan penuh kebencian, merah menyala penuh amarah, dan juga air mata yang tidak henti bergulir.
Seharusnya dia tidak berusaha keras mengingat sesuatu yang seharusnya dia lupakan, seharusnya dia tidak memaksakan diri untuk mengingat sesuatu yang sangat menyakitkan, ada rasa sesal di dalam hati ayu, kenapa dia bersedia untuk bertemu dengan ayah kandungannya itu.
''Aku benci sama Ayah, aku benci ayah ... hiks hiks hiks ...'' lirih Ayu semakin menekan benda tajam itu, hingga pergelangan tangannya sedikit terluka.
''JANGAN, NAK. SAYANG, AYAH MOHON JANGAN ... JAUHKAN BENDA ITU DARI TANGAN KAMU, AYAH BENAR-BENAR MINTA MAAF, HIKS HIKS HIKS ...'' Revan berteriak panik, hingga tubuhnya terasa lemas dan jatuh berlutut di hadapan putrinya.
''Ayah mohon maaf, Ayu. Ayah sungguh menyesal, ayah janji akan berubah dan tidak akan berbuat jahat lagi padamu, sayang. Ayah janji demi hidup dan mati ayah, sayang. Hiks hiks hiks ...'' lirih Revan dengan suara yang semakin melemah, dan benar-benar berlutut memohon maaf di depan putrinya.
Ayu menatap nanar ayah kandungnya tersebut, bayangan masa kecilnya seketika melintas di dalam pikiran Ayu, bayangan saat dirinya di gendong oleh sang ayah. Bayangan saat dirinya tidur dalam pangkuannya, betapa dia sangat menyayangi ayahnya tersebut, dan betapa dia sangat merindukan itu semua.
Rindu kasih sayang, rindu belaian sang ayah, dan rindu menangis di dalam pelukan ayahnya tersebut. Perlahan tatapan mata Ayu berubah sayu, menatap sang ayah yang kini berlutut tepat dihadapannya.
''Ayah ... hiks hiks hiks ... Ayah ...?'' lirih Ayu, lembut.
Ayu pun perlahan melepaskan serpihan kaca yang semula dia genggam kuat, melepaskannya sembarang lalu segera berjongkok memeluk tubuh Revan.
''Maafkan Ayu, yah. Maaf ... hiks hiks hiks ...'' Ayu menangis sesenggukan di dalam pelukan sang ayah.
''Tidak, sayang. Kamu tidak salah apapun, ayah yang salah, ayah yang seharusnya minta maaf sama kamu, hiks hiks hiks ... putri ayah, putri cantik ayah, ayah benar-benar minta maaf.''
Ayu menganggukkan kepalanya, membenamkan kepalanya dalam di dada bidang Ayahnya tersebut. Sungguh ... Ayu benar-benar merindukan ayahnya ini, rindu aroma tubuhnya dan rindu dekapan hangat kedua tangan kekar Revan.
Lucky yang menyaksikan bagaimana hubungan ayah dan anak itu kembali terjalin begitu kuat, seketika merasa haru sekaligus lega hingga air matanya pun ikut mengalir membasahi wajah tampannya.
__ADS_1
Ternyata benar yang dikatakan oleh Leo sang ayah, bahwa darah lebih kental dari pada air, dan sebesar-besarnya kesalahan orang tua kepada anaknya, kita sebagai seorang anak akan selalu memaafkan kesalahan orang tua kita.
Leo mengusap punggung putranya lembut, dia seolah mengerti betul dengan apa yang saat ini dirasakan oleh putra bungsunya tersebut. Lucky pun menoleh menatap wajah sang ayah lalu menganggukkan kepalanya, seolah memberi isyarat bahwa apa yang dikatakan oleh ayahnya itu semuanya benar adanya.
Ayu benar-benar bahagia sekarang, rasa yang mengganjal di dalam hati seolah hilang seketika, kerinduannya akan kasih sayang seakan terbayarkan, permohonan maaf dan ucapan penyesalan sang ayah benar-benar menyentuh titik terdalam di hati gadis bernama Ayu itu, hingga sesuatu yang selama ini terasa membeku di dalam sana seolah mencair.
''Sayang, maukah kamu pulang ke rumah sama ayah? ayah benar-benar kesepian di rumah sendirian.'' Bisik Revan mengurai pelukan.
''Hmm ... Sebenarnya aku juga ingin pulang dan mulai bersekolah seperti anak-anak lain. Tapi izinkan aku menginap di sini sehari lagi, boleh yah ...'' rengek Ayu menatap Revan dengan tatapan sayu.
''Ya sudah kalau begitu, kamu boleh di sini sehari lagi, besok Lusa ayah akan jemput kamu lagi ke sini, gimana?''
Ayu menganggukkan kepalanya pelan seraya tersenyum bahagia.
🍀🍀
Setelah pertemuan Ayu dengan Revan, dan seiiring dengan kembalinya utuh ingatan di dalam otak Ayu, kini jiwa Ayu pun benar-benar merasa tenang, rasa gundah, gelisah dan rasa takut yang selama ini dia rasakan telah sepenuhnya sirna dari dalam hatinya.
Apalagi rasa candu yang selama ini menyiksa lahir maupun batin gadis itu, benar-benar tidak pernah lagi dia rasakan.
Apakah Ayu sudah benar-benar sembuh dari ketergantungannya akan obat-obatan terlarang? jawabannya, iya ... Gadis bernama lengkap Ayu Puspita itu sudah benar-benar sembuh, setelah melewati waktu yang panjang, akhirnya dia bisa terbebas dari sesuatu yang mengikat jiwanya selama ini.
Tentu saja, semua itu berkat dukungan sang kekasih, kalimat positif yang dia ajarkan dan dia tanamkan di dalam diri Ayu benar-benar membuat gadis itu sembuh, seutuhnya menjadi gadis normal, gadis cantik yang baik hati, dan gadis cantik milik pemuda tampan bernama Lucky Pratama.
Lima bulan kemudian.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀