
Blug ....
Leo menutup pintu keras membuat Adelia yang sudah berada di dalam kamar merasa terkejut lalu tersenyum menatap wajah Leo yang tersenyum berjalan mendekati dirinya yang saat ini berdiri tepat di depan ranjang.
''Kamu serius mau olah raga siang-siang begini?'' tanya Adelia.
''Hmm ... Ya serius 'lah? aku sudah bilang tadi, biarpun cuaca panas sekali, tapi tubuh suamimu ini merasa kedinginan, aku butuh kehangatan, sayang. Kamu gak liat bibir aku sampai menggigil gini,'' jawab Leo dengan sengaja menggoyangkan bibirnya agar terlihat gemeletukkan.
''Hmm ... Dasar. Tapi nanti jangan salahkan aku istrimu ini jika pinggang kamu tambah sakit ya.''
''Gak akan, kamu tau obat yang paling mujarab buat ngobatin pinggang aku yang sakit ini?''
''Apa ...?''
''Goyangan kamu, sayang. Goyangan maut kamu adalah obat yang paling mujarab untuk mengobati rasa sakit di seluruh tubuh aku ini.''
''Ha ... ha ... ha ... dasar Leonardo tukang gombal.''
Perlahan, Leo pun mulai mengusap lembut wajah istrinya, menatap matanya yang saat ini terlihat begitu bahagia. Setelah itu, Leo pun mendaratkan ci*man, cium*n lembut yang sukses membuat gai*ah di dalam jiwa istrinya naik ke permukaan.
Adelia pun perlahan berbaring, dengan bibir yang masih saling bertautan kuat dan sontak Leo pun mengikuti gerakan tubuh istrinya dan sekejap kemudian tubuh kekar Leo berada di atas tubuh sang istri.
''Apa tubuhku berat?'' tanya Leo melepaskan tautan bibirnya.
''Tentu saja berat.''
''Mau gantian, kamu yang di atas?''
Adelia mengangguk seraya tersenyum.
Leo pun menjatuhkan tubuhnya tepat di samping istrinya, dan segera meraih pinggang Adelia ke atas tubuhnya, hingga posisi pun benar-benar terbalik sekarang.
Sepasang suami-istri yang sebenarnya sudah berusia setengah abad itu pun terlihat mesra layaknya pengantin baru, terlihat bahagia layaknya pasangan yang sudah lama tidak bertemu.
Apalagi mereka menjalani setiap harinya hanya berdua, membuat setiap harinya bagi mereka selalu terasa indah dan begitu berwarna.
Keduanya pun mulai menjalani ritual, ritual yang akan membawa jiwa mereka melayang, hingga pelepasan demi pelepasan pun berhasil mereka dapatkan secara bersamaan.
__ADS_1
Leo pun terkulai lemas, tepat di atas raga istrinya, dia pun tersenyum senang karena berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, sempurna dan berada di puncak kenik*atan surga dunia.
''Sekali lagi ya? Dede Leo masih betah di bawah sana,'' rengek Leo, kembali bergoyang.
''Akh ... sayang ... apa belum puas?''
''Belum, sayang. Satu kali lagi ya ...''
Leo kembali menghentakkan pinggulnya keras membuat Adelia hanya pasrah membiarkan suaminya meraih apa yang dia inginkan.
Benar-benar hari yang indah untuk Leo, sejenak dia melupakan kerinduan akan putra-putrinya yang saat ini berada jauh di kota, apalagi rindu akan ketiga cucunya yang selalu merengek meminta di gendong setiap kali mereka bertemu.
Akhirnya, Leo pun benar-benar merasa puas sekarang. Pinggang yang semula sakit perlahan terasa hilang, rasa lelah setelah berkebun pun perlahan memudar, dan tubuhnya yang semula terasa berat pum kini mulai ringan seiring'an dengan apa yang baru saja dia capai.
''Terima kasih, sayang.'' Bisik Leo berbaring tepat di samping raga Adelia sang istri.
''Sudah puas?''
''Puas, sayang. Puas banget, kamu memang the best, aku semakin cinta sama kamu, Adelia Fasha ...'' jawab Leo melingkarkan tangan di pinggang Adelia sang istri.
''Sama, sayang. Aku juga lelah, kita tidur dan istirahat ya.''
Keduanya pun tertidur bersama, masih dengan posisi yang sama, dan masih dengan keadaan yang sama, polos layaknya sepasangan suami-istri yang baru saja bermalam pertama.
🍀🍀
Keesokan harinya.
Adelia sudah bersiap untuk bangun dari tidurnya, dia membuka matanya lebar lalu tersenyum menatap sang suami yang masih tertidur lelap tepat di sampingnya.
Adelia pun memperhatikan setiap detail wajah Leonardo, mafia tampan yang telah menjerat hatinya. Mata, hidung bahkan bibirnya, dia menatap lekat tanpa ada satupun yang terlewatkan.
Semuanya masih terlihat sama, sama seperti pertama kali mereka bertemu 25 tahun yang lalu, saat suaminya itu masih bernama Axel, nama yang dia sematkan kini kepada anak kembarnya.
Tidak ada satupun yang berubah dari wajah tampan suaminya itu meski waktu telah begitu lama berlalu, Leonardo suaminya ini masih tampan meski sudah terdapat guratan halus dan kerutan namun, sama sekali tidak mengurangi ketampanan yang dimiliki oleh Mafia tampannya ini.
Perlahan suaminya itu pun mulai membuka mata, dia pun tersenyum bahagia mendapati wajahnya sedang di tatap lekat oleh istrinya itu, Leo pun mengecup kecil bibir sang istri.
__ADS_1
''Selamat pagi, sayang. Istriku ...'' lirih Leo mesra.
''Selamat pagi, sayang. Bangun yu, sudah siang, aku bikinin gorengan ya?''
''Sebentar lagi deh, aku ingin seperti ini sebentar saja.''
''Hmm ... Kenapa? pinggang kamu masih sakit?''
''Nggak, siapa bilang?''
''Barangkali aja, soalnya kemarin kamu bermain dua kali, aku takut pinggang kamu benar-benar sakit encok.''
''Nggak, sayang. Beneran ... pinggang aku baik-baik saja, aku 'kan sudah bilang obat mujarab buat ngilangin rasa sakit ini apa?''
''Iya, iya ... Ya sudah kalau kamu mau tidur, ya tidur lagi aja, aku bangun duluan ya, aku buatkan sarapan, kalau sudah siap aku bangunkan lagi, oke ...?''
Leo mengangguk seraya tersenyum.
Adelia pun bangkit lalu mulai keluar dari dalam kamar, sementara Leonardo, dia kembali meringkuk bahkan menutup tubuhnya dengan selimut tebal.
Sejujurnya, hatinya kini sedang dilanda dilema, dilema karena rasa rindu akan anak serta cucu-cucu nya yang ada di kota sana, tapi Leo berusaha memendam rasa rindu itu sekuat tenaga, dan mencoba membiasakan diri hidup terpisah tanpa ketiga anak serta ketiga cucunya.
''Kalian sedang apa anak-anakku? Papi rindu sekali dengan kalian.''
Lirih Leo dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ingin rasanya Leo terbang ke kota agar bisa bertemu dengan mereka, tapi apalah daya, dirinya bukanlah Superman yang bisa terbang kemanapun dia mau, Leo hanya bisa menunggu sampai anak-anaknya itu datang dengan sendirinya.
Akhirnya Leo pun mencoba kembali memejamkan mata, berharap jika dia melakukan hal itu dan tertidur pulas, rasa rindu di hatinya akan berangsur sirna. Perlahan tapi pasti, akhirnya Leo pun kembali memejamkan mata dan tertidur pulas seketika itu juga.
Ceklek ...
Satu jam kemudian Adelia pun membuka pintu kamar dan hendak membangunkan suaminya, namun, dia pun mengurungkan niatnya, Adelia pun tersenyum kecil dan kembali menutup pintu setelah melihat suaminya tertidur begitu lelapnya seolah benar-benar kelelahan.
''Sepertinya kamu benar-benar kelelahan suamiku,'' gumam Adelia sesaat sebelum dia benar-benar menutup pintu kamar rapat.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1