Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Penyesalan


__ADS_3

Dor ...


Terdengar suara tembakan yang dilayangkan ke udara memecah keheningan malam, diiringi dengan suara burung yang berterbangan mengejutkan tidur lelap mereka.


Sontak saja hal itu membuat Leo, Revan dan juga Gabriel terkejut dan mencari sumber suara tembakan tersebut.


''Apa yang sedang kalian lakukan, hah ...? Saling menodongkan pistol seolah-olah kalian sudah bersiap untuk mati? apakah mati itu menyenangkan, sampai-sampai kalian mengabaikan orang-orang yang sedang menunggu kepulangan kalian dengan perasaan cemas, HAH ...?'' teriak Alex berjalan mendekat ditemani lebih dari 10 orang yang kini berjalan tepat di belakangnya.


Revan menatap geram wajah Alex, dengan pistol yang masih diletakan di kening Leo.


''Jangan ikut campur, Alex. Kalau kamu tidak ingin mati juga ...'' tegas Revan.


Alex tidak merasa gentar sama sekali, dia semakin berjalan mendekat, sementara seluruh anak buahnya yang berdiri di belakang, mengarahkan pistol ke arah anak buah Revan, alhasil posisi mereka benar-benar saling menodongkan pistol dengan tatapan waspada.


''Tenang Revan, tenang ... Semuanya bisa dibicarakan baik-baik,'' ucap Alex, menyingkirkan tangan Revan dari depan wajah Leo.


''Tenang ...? mana mungkin aku bisa tenang, di saat dia telah menculik putriku,'' Revan dengan suara yang sedikit menahan rasa geram.


''Dia tidak menculik putrimu, Revan. Yang ada, si Leo ini telah menyelamatkan putrimu.''


''Menyelamatkan ...? Apa maksud kamu?'' Revan mengerutkan keningnya, dan benar-benar menurunkan tangannya yang masih menggenggam pistol.


Leo yang sedari dari menahan napas, akhirnya bisa bernapas lega, dia menghela napas panjang, karena walau bagaimanapun dia sama sekali belum ingin mati sebelum melihat cucunya lahir.


''Tunggu sebentar, sepertinya kamu gak akan percaya jika tidak melihatnya sendiri,'' ucap Alex, meraih ponsel, lalu melakukan sambungan Video Call kepada Lucky yang saat ini sedang menemani Ayu di Rumah Sakit.


''Apa yang akan kamu lakukan, Alex ...?'' Revan semakin tidak mengerti.


Tut ... Tut ... Tut ...


Telpon yang belum angkat.


''Alex ...?'' teriak Revan.


Tidak lama kemudian sambungan pun di angkat, Alex mengangkat ponsel ke udara agar Revan bisa melihat dengan jelas.


📱''Halo, Om Alex ... Ada apa?'' tanya Lucky, wajahnya terlihat jelas di layar ponsel.


📱''Lucky, tolong arahkan ponsel ini ke wajah Ayu ...''


Meski tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Alex, tapi Lucky mengikuti keinginannya, dia kini meletakan ponsel miliknya tepat di depan wajah Ayu, agar Ayu yang saat ini sedang terbaring koma bisa terlihat jelas di ponsel Alex.


Revan yang menyaksikan putrinya berbaring dengan berbagai alat bantu di terpasang di tubuh putrinya itu terkejut bukan kepalang, matanya mendadak penuh dengan buliran air mata, pistol yang berada di dalam genggaman tangannya pun seketika jatuh.


''Apa ... Apa yang terjadi dengan putriku? kenapa dia bisa ada di sana?'' lirih Revan, menatap layar ponsel.


Alex, segera menutup sambungan telpon.

__ADS_1


''Apa kamu tau putrimu saat ini sedang dalam keadaan koma di Rumah Sakit? andai saja Lucky terlambat membawa dia, mungkin sekarang dia sudah membusuk di kamarnya,'' ucap Alex penuh penekanan.


''Apa ...? ha ... ha ... ha ...! gak ... gak mungkin putriku koma? koma artinya dia tidak hidup dan juga tidak mati, nggak ... putriku pasti akan hidup ...! ini pasti akal-akalan kalian saja 'kan?'' teriak Revan membulatkan matanya.


Alex seketika mencengkeram kedua sisi bahu Revan, menatap matanya tajam, lalu berbicara dengan penuh penekanan.


''Dengar, Revan. Apa kamu lupa betapa bahagianya kamu dulu saat istrimu melahirkan Ayu? Apa kamu lupa betapa kamu menyayangi putrimu itu dengan sepenuh hati? apa kamu juga lupa, kalau hanya dia yang kamu punya di dunia ini, hah ...?''


Revan diam mematung, sejenak pikirannya melayang ke masa lalu, dimana hatinya merasa begitu bahagia saat istrinya melahirkan putri satu-satunya itu, hatinya pun merasa semakin terkoyak tatkala bayangan saat dirinya bermain bersama sang putri yang kala itu masih kecil, lucu dan menggemaskan.


Tubuh Revan pun seketika lemas, ingin rasanya dia menjatuhkan diri, namun, rasanya dia tidak mungkin melakukan hal itu di depan musuhnya.


''DIMANA PUTRIKU SEKARANG, DIMANA ...'' teriak Revan.


''Aku akan memberitahukan dimana dia, kalau kamu mau berjanji gak akan melukai ataupun menyakiti Ayu lagi,'' jawab Leonardo.


''Katakan saja dimana dia,'' Revan sedikit menurunkan nada suaranya.


''JANJI DULU PADAKU KALAU KAMU AKAN BERSIKAP LEMBUT PADANYA, REVAN. AKU BEHARAP HATIMU BELUM MATI ...'' teriak Leo penuh penekanan.


''Iya, aku janji, Leo. Aku gak bersikap kasar lagi padanya, aku janji. Katakan padaku dimana dia sekarang? aku ingin sekali bertemu dengan dia, hiks hiks hiks ...'' Revan tiba-tiba menangis sesenggukan dan ambruk seketika duduk di atas aspal.


''Bangun ... Revan ... BANGUN ...? Aku akan memberitahukan dimana dia, tapi sebelumnya suruh semua anak buah-mu pergi dari sini,'' tegas Leo.


''Baik, aku akan menyuruh mereka semua pergi ...'' jawab Revan, memutar kepala dan memberikan isyarat kepada seluruh anak buahnya untuk pergi dari sana.


Seluruh anak buahnya pun menganggukkan kepalanya, mereka semua masuk ke dalam mobil, kecuali Topan yang memang selama ini selalu setia berada di sisinya.


''Tapi, Bos ...?''


''Sudah pergi saja, aku akan baik-baik saja, kamu gak usah khawatir.''


''Baiklah kalau begitu, aku pergi sekarang. Bos jaga diri baik-baik.''


Revan mengangguk pelan.


Perlahan, dua mobil yang berisi anak buah Revan pun mulai berjalan meninggalkan tempat itu, sampai akhirnya benar-benar menghilang di telan kegelapan.


Kini tinggal tersisa Revan, berada di tengah-tengah musuh bebuyutannya, dia pun bangkit dan berdiri, menatap wajah Alex dan juga Leo secara bergantian. Wajah Revan benar-benar terlihat berantakan, senyum sinis dan tatapan penuh kebencian yang tadi dia tunjukan dengan penuh rasa percaya diri pun kini telah hilang, digantikan dengan tatapan kosong penuh penyesalan.


''Aku sudah mengikuti keinginan kalian, sekarang, antar aku ke tempat dimana putriku berada,'' lirih Revan.


''Baiklah, ikut dengan aku sekarang,'' pinta Leo, hendak melangkah.


''Biar aku saja yang membawa dia, kamu masuk saja dan istirahat, kasian menantu-mu sepertinya sudah benar-benar kelelahan,'' pinta Alex.


Gabriel yang sedari tadi berada di sana pun hanya bisa tersenyum dengan menggaruk kepalanya dengan menggunakan pistol yang tadi dia todong'kan di kepala Revan.

__ADS_1


Tubuhnya memang terasa remuk, selain itu, luka di seluruh tubuhnya kini mulai terasa perih.


''Tapi, apa gak apa-apa kamu ke sana sendirian?'' tanya Leo.


''Aku gak sendirian, ada mereka. Lagipula, kalau dia berani macam-macam, akan aku pecahkan kepalanya, biar dia gak bisa ketemu sama putrinya itu,''jawab Alex penuh percaya diri.


''Baiklah kalau begitu, aku juga lelah sekali, kamu hati-hati di jalan,'' ucap Leo, menatap Alex dan Revan yang mulai berjalan memasuki mobil.


Mobil mereka pun perlahan berjalan meninggalkan tempat itu, sampai akhirnya melesat semakin menjauh.


''Haaaah ...'' Leo menghela napas panjang, lalu berjongkok, sebenarnya sedari tadi kakinya terasa gemetar.


Bagaimana tidak, di saat pistol di letakan tepat di depan keningnya tentu saja pria tangguh seperti Leo pun akan merasa gemetar, namun, dia berusaha menyembunyikan semua itu sebisa mungkin.


Ceklek ...


Tiba-tiba terdengar suara pintu pagar yang buka, membuat Leo sontak menoleh dan Adelia sang istri beserta putrinya berhamburan keluar memeluk dirinya erat diiringi dengan suara tangisan, membuat Leo terkejut.


''Sejak kapan kalian di sana?'' tanya Leo mendekap erat tubuh sang istri.


''Hisk ... hiks ... hiks ...'' bukannya menjawab, kini Adelia menangis sesenggukan di dalam pelukan suaminya.


''Hey ... Sayang ... Sudah-sudah ... Aku gak apa-apa ko ...'' Leo mengecup pucuk kepala istrinya.


Adelia mengurai pelukan, memukul dada sang suami secara berkali-kali diiringi dengan suara isakan yang terdengar menggemaskan di telinga Leo.


''Kurang ajar kamu, kurang ajar, kata siapa kamu boleh menyerahkan nyawamu gitu aja sama dia? dan kenapa kamu diam saja saat pistol berada di kepala kamu ini, hah? hiks hiks hiks ...'' teriak Adelia, terus memukul dada sang suami.


''Argh ... Sakit sayang ...'' ringis Leo berpura-pura.


Adelia pun panik seketika, dia kembali memeluk tubuh suaminya, mendekap erat tubuhnya dengan suara isakan yang masih terdengar lirih.


''Aku minta maaf karena telah membuatmu cemas, istriku ...'' lirih Leo membenamkan kepalanya di leher sang istri.


Adelia mengangguk pelan.


''Kita masuk sekarang, ya. Aku ingin berendam di air hangat, seluruh otot aku terasa menegang,'' ucap Leo mengurai pelukan.


''Aku akan membantumu melemaskan otot-otot kamu ini, sayang ...'' lirih sang istri menatap wajah Leo penuh kasih sayang.


''Benarkah ...?''


Adel kembali menganggukkan kepalanya.


''Ya udah, ayo masuk. Aku sudah tidak sabar untuk di belai sama kamu sayang ...''


Leo meletakan tangannya di pinggang sang istri, mulai berjalan bersama memasuki pagar, begitupun dengan Al yang saat ini memeluk erat suaminya.

__ADS_1


Mereka semua berjalan meninggalkan tempat itu dengan perasaan lega. Karena akhirnya masalah yang mereka hadapi selesai tanpa harus terjadi pertumpahan darah.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2