Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Bayangan Masa Lalu


__ADS_3

''Argh...'' Axel meringis menunduk memegangi kepala dengan kedua tangannya.


''Axel, kenapa?'' Adel panik dan duduk di sebelah Axel.


''Kepalaku terasa sangat sakit, Argh...''


''Ya, ampun Axel, apa perlu kita pergi ke Rumah Sakit?''


Axel tidak menjawab, dia terus meringis kesakitan, bahan kali ini ia tertelungkup di atas tempat tidur, kepalanya seperti di tusuk oleh sesuatu yang sangat tajam, seolah benda tersebut tepat mengenai otak kecilnya.


Lalu tiba-tiba saja bayangan aneh melintas di otaknya, seperti sebuah cuplikan kejadian yang entah dia sendiri tidak tahu apa, dimana, dan dengan siapa. Apakah ingatannya akan segera kembali? semakin bayangan itu hinggap di fikirannya, maka kepalanya akan terasa semakin sakit.


Adel terlihat sangat panik, sehingga dengan reflek dia meraih tubuh Axel dan memeluknya dengan sangat erat, Adel mendekap dengan erat tubuh kekar dengan dada bidang itu dengan kedua tangannya.


''Tenang Axel, ada aku di sini, kamu sebenarnya kenapa?'' Adel mengusap punggung lebar Axel.


Tanpa terasa buliran air mata membasahi pipinya Axel, rasa sakit dan gelisah yang datang bersamaan membuat jiwanya seolah terguncang, belum lagi mimpi buruk serta bayangan-bayangan aneh yang melintas di otaknya, sungguh meruntuhkan jiwanya sebagai laki-laki yang selama ini di kenal humoris, percaya diri, dan jago bela diri.


Namun saat ini, dekapan tangan Adel seolah memberinya ketenangan, rasa sakit di kepalanya berangsur-angsur hilang, dan jiwanya pun perlahan mulai tenang.


Adel melepaskan pelukannya, dia memegang wajah Adel dengan kedua tangannya, menatap bola mata Laki-laki itu yang saat ini terlihat penuh dengan air mata.


''Axel...! tenang...! lihat aku, sebenarnya kamu kenapa? coba cerita sama aku.'' Adel menatap bola mata Axel dengan sangat lekat, dan mereka pun saling menatap.


''Aku bermimpi buruk, Del, dalam mimpi itu mereka menyebut namaku dengan sebutan Leonardo, dan... dan... aku seperti memegang pistol di tanganku serta di kejar oleh 3 orang laki-laki bertubuh besar, setelah itu aku tertembak,'' Axel menjelaskan dengan lelehan air mata yang terus turun dari kelopak matanya, dan suara yang sedikit terbata-bata.


''Apa...? mimpi yang aneh, yang Apa mungkin Leonardo itu adalah nama aslimu?'' tanya Axel masih dengan menatap lekat wajah Axel.

__ADS_1


''Entahlah? tapi mimpi itu terasa sangat nyata.''


''Sekarang, kamu tenangkan diri terlebih dahulu, cobalah untuk tidak terlalu memikirkannya, mungkin saja itu hanya mimpi buruk semata,'' Adel mencoba menenangkan.


Axel terdiam, mencoba menata kembali perasaan nya dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.


Adel pun melepaskan lengannya yang sedari tadi memegang wajah tampan Axel, dia termenung memikirkan apa yang sedang menimpa Axel, Laki-laki tampan yang selalu terlihat ceria dengan penuh percaya diri, namun sekarang sedang menangis di hadapannya.


''Del...! sepertinya bayangan-bayangan masa lalu ku mulai sedikit demi sedikit singgah di otakku, bagaimana ini? apa yang akan aku lakukan jika sebenarnya aku bukanlah orang baik seperti yang selama ini kamu kenal, hiks hiks hiks...?'' ucap Axel kembali menangis sesenggukan.


''Aku takut, Del. Aku sungguh takut jika aku bukanlah Laki-laki baik, aku takut kalau aku sebenarnya adalah seorang penjahat atau semacamnya,hiks hiks hiks...'' tambahnya lagi masih dengan menangis sesenggukan.


Adel meraih tubuh Axel dan kembali memeluknya, ia tidak mengucapkan satu patah pun, otaknya seperti sedang berpikir, bagaimana jika yang dikatakan Axel adalah benar, bahwa laki-laki itu bukan laki-laki baik?


''Bagaimana ini, Adel? kenapa kamu diam saja? hiks hiks hiks...'' Axel kembali berucap setelah dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Adelia.


Adelia, masih tak bergeming, tangannya tampak mengusap punggung Axel, dan naik ke rambutnya, lalu menahan jemarinya di sana sembari mengelus secara pelan.


''Apa yang akan kamu lakukan jika terbukti bahwa aku bukanlah orang yang baik?'' tanya Axel melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Adel dengan pandangan sayu.


''Tidak mungkin, aku sangat yakin bahwa kamu adalah orang yang baik, mana mungkin laki-laki sepertimu adalah seorang penjahat,'' jawab Adel bertentangan dengan isi hati yang sebenarnya.


''Benarkah?'' Axel mulai dapat bernapas lega, perkataan yang baru saja diucapkan oleh Adel dapat sedikit menghibur keresahan di dalam hatinya.


Adelia mengangguk lalu tersenyum. Dia tidak ingin membuat perasaan Axel yang sedang gundah menjadi semakin resah apabila dia mengucapkan sesuatu yang salah.


''Sekarang kamu tidur lagi ya. Lagi pula ini masih malam,'' Adel menatap jam diding yang masih menunjukan pukul.02.00 dini hari.

__ADS_1


''Bisakah kau menemaniku di sini? sebentar saja, sampai aku benar-benar tertidur, setelah itu kau boleh pergi meninggalkanku,'' pinta Axel dengan nada yang sedikit memohon.


Adel terdiam, mencoba berfikir sejenak baru mulai menjawab.


''Baiklah, aku akan menemanimu di sini sebentar,'' ucapnya, yang akhirnya mengiyakan permintaan Axel.


Axel tersenyum lalu berbaring, dia menutup sebagian tubuhnya dengan selimut tebal berwarna putih. Tangannya meraih jemari Adel dan mendekap di dadanya seolah tak ingin di tinggalkan.


Sementara itu, Adelia menatap wajah Axel dengan penuh perasaan, dia tak tahu akan berbuat apa, apabila sampai terbukti bahwa Axel Laki-laki yang saat ini mulai di sukai nya ternyata seorang mafia, penjahat, atau semacamnya.


Sedangkan Adelia sudah mulai mencoba membuka hatinya untuk Axel, dan sedang memikirkan bahwa Axel akan benar-benar menjadi suaminya. Hatinya sungguh di rundung gelisah.


Setelah melihat Axel benar-benar terpejam Adel pun bangun dan hendak berjalan keluar, namun langkahnya terhenti, karena jemarinya masih di genggam dengan sangat erat oleh Axel, dan ia pun mengurungkan niatnya untuk pergi lalu kembali duduk di samping tubuh Axel.


___---___


Pagi menjelang, tanpa sadar Adel pun tertidur di samping Axel, masih dengan keadaan duduk namun kepalanya di sandarkan di perut datar Axel.---


Axel membuka mata dan menatap wajah Adelia, gadis yang semalaman menjaga dirinya di sana, ia memandang satu persatu Indra yang ada di wajah Adel. Mata, hidung, dan bibirnya, jika di lihat secara mendalam, seperti tidak ada yang spesial dari wajah gadis ini, namun entah mengapa dirinya seperti sudah sangat mencintainya dengan sepenuh jiwanya.


Sesaat kemudian, tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dari luar rumahnya, beberapa orang sedang berkerumun di halaman rumah, dengan saling berbisik, dan bahkan ada yang berteriak memanggil nama mereka berdua.


Adel pun seketika terbangun mendengar kegaduhan itu, ia mengusap kedua matanya, menguap lalu bertanya.


''Ada apa? kenapa di luar gaduh sekali,'' tanya Adelia, masih dengan mengusap kedua matanya.


''ADELIA... KELUAR KAMU, AXEL... KELUAR?''

__ADS_1


Terdengar suara keras dan juga nyaring dari luar rumah.


______________----------______________


__ADS_2