
''Tapi aku harus mencari baby sister kemana?'' tanya Leo kepada Angelina yang masih berdiri di depan meja kerjanya.
''Gampang, apa kamu mau aku mencari'kan baby sister untuk'mu?''
''Boleh, tapi nanti aku mau diskusikan dulu masalah ini dengan istri'ku, ya.''
''Oke, kayaknya sekarang kamu sudah berubah menjadi SSTI...'' Angel tersenyum sedikit mengejek.
''Apa itu SSTI? apakah itu nama tempat untuk mencari baby sister?'' tanya Leo dengan wajah polosnya.
''Suami-Suami Takut Istri...'' celetuk Angel seraya berjalan keluar dari dalam ruangan.
Leo terperangah mendengar ucapan sekertaris'nya yang terdengar seperti mengejek dirinya. Dia pun membulatkan bola mata sambil menatap wajah Angel yang perlahan keluar dari sana.
'Apakah aku terlihat seperti itu? Akh masa sih? Tapi emang benar sih, aku lebih takut sama istriku di bandingkan sama penjahat, lebih baik aku di terkam harimau dari pada di terkam Adelia, bisa-bisa nanti aku tidak dapat jatah, lagi.' (Leo bergumam pelan)
Angel cengengesan sendiri setelah dia keluar dari dalam ruangan bosnya, dia tidak menyangka bahwa mantan pacarnya tersebut telah berubah menjadi sosok suami yang lembut dan penuh perhatian kepada istrinya.
Sungguh jauh berbeda dengan Leonardo yang dahulu saat dia masih menjadi pacarnya, sungguh dia merasa kagum dengan sosok perempuan yang bernama Adelia, mampu menaklukan hati seorang bos mafia seperti Leonardo.
Tidak lama kemudian, Ryan tampak berjalan menghampiri Angelina, dia hendak mengunjungi kantor bos Leo, Ryan menatap wajah Angel dengan tatapan yang terlihat gugup.
''Selamat pagi Nona Angel,'' Ryan menyapa setelah dirinya berada dekat dengan Angel.
''Pagi juga,'' Angel menjawab dengan suara ketus dan datar.
''Apakah kamu sibuk?''
''Lumayan...''
__ADS_1
''Kalau begitu selamat bekerja kembali, nona Angelina...'' Ryan menatap wajah Angel, setelah itu dia mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.
'Dih dasar cowok, dulu nolak, sekarang sok Sokan bersikap ramah, katanya sudah punya istri dan ingin setia,' (Angel bergumam pelan)
Dia pun duduk di kursi kerjanya, dan menatap laptop meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Tidak lama kemudian Ryan pun keluar dari dalam ruangan, dia berdiri di depan pintu menatap wajah sekertaris bos'nya tersebut.
Ryan tampak ragu-ragu ingin menyapa, melihat Angel yang seperti sedang sibuk berkutat dengan pekerjanya.
Akhirnya dia pun berjalan tanpa menyapa.
''Ryan...''
Angel berdiri berjalan dan memanggil Ryan, Ryan pun tersenyum dengan masih dalam keadaan memunggungi Angelina. Merasa senang karena akhirnya Angel memanggil dirinya.
''Eu... Dompet'mu jatuh,'' Angel menunjuk ke atas lantai, menatap dan meraih dompet berwarna hitam yang tergeletak begitu saja.
''Oh, benarkah?'' Ryan menunduk dan menatap dompetnya yang memang tergeletak di bawah sana.
Dan tangan mereka pun bersentuhan dengan sama-sama memegang dompet tersebut, pandangan keduanya bertemu seketika, dan Ryan pun merasakan getaran yang berbeda, tatapan Angel bagaikan busur panah yang melesat tepat mengenai jantungnya, membuat denyut jantung dirinya berdetak begitu kencangnya.
Angel melepaskan pegangan tangannya, mereka pun berdiri secara bersamaan dengan tatapan yang terlihat di paling'kan sama-sama merasakan getaran.
''Terima kasih, Nona.'' Ryan sedikit terbata-bata.
Dompet yang di pegang'nya pun sedikit terbuka, membuat Angel dapat melihat apa yang terdapat di dalam'nya, matanya pun terlihat membulat sempurna, tatkala melihat secarik Poto yang menghias di dalam dompet hitam milik Ryan.
''Itu, Poto siapa? sepertinya aku kenal?'' Angel memberanikan diri bertanya karena merasa penasaran.
__ADS_1
''Eu... apa maksud Nona? ini bukan Poto siapa-siapa ko, beneran...''
Raut wajah Ryan terlihat memerah seketika dan merasa terkejut, tidak menyangka bahwa wanita yang saat ini berdiri sangat dekat dengan dirinya dapat melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.
''Bohong...! Tadi jelas-jelas aku melihat Poto seseorang, sini aku ingin melihatnya.''
''Tidak, jangan Nona...'' Ryan menyembunyikan dompet tersebut di balik punggung'nya.
Angel merasa geram dan dia pun berjalan ke belakang punggung Ryan dan meraih dengan paksa dompet tersebut lalu membukanya.
Dia pun benar-benar terkejut, matanya di bulatkan sempurna, mulutnya bahkan di tutup dengan satu tangan'nya, lalu dia menatap wajah Ryan, melayangkan tatapan tajam, seperti siap untuk menerkam.
.____________---------_____________
*Jangan lupa
Like
komen
vote
Hadiah
Agar Author semangat dalam berkarya.
Terima kasih Reader tercinta ❤️❤️*
____________--------_______________
__ADS_1