
Ceklek
Lucky membuka pintu kamar Kaka perempuannya, Leo sang ayah yang menggendong putri kesayangannya segera masuk ke dalam kamar, berjalan lalu membaringkan tubuh sang putri di atas ranjang.
Wajah Axela terlihat bahagia karena akhirnya bisa berada kembali di kamar kesayangannya.
"Makasih, pap," ucap Al sesaat setelah tubuhnya berbaring di atas ranjang empuk miliknya.
"Sama-sama sayang, sekarang kamu istirahat dulu ya, jangan terlalu banyak pikiran, pokus saja sama pemulihan badan kamu, oke...?"
"Baik, pap. Eu... hadiahnya gimana? tadi kita belum sempat meneruskan obrolan kita di Rumah Sakit...?
"O iya ...! Coba bilang sama papi, apa yang kamu inginkan, papi janji akan membelikannya, apapun itu, dan berapapun harganya.'' Leo duduk di tepi ranjang.
"Aku mau mobil baru, Pi. Boleh...?" Al sedikit cengengesan.
"Kaka...? jangan memanfaatkan situasi dong, masa mobil baru si? Pi... kalau Kaka di beliin mobil baru, aku juga mau ...!" Si bungsu Lucky.
"Dek...! Apaan si...?"
"Nggak... Pokoknya kalau Kaka beli mobil baru, aku juga mau. Titik..." Lucky mengerucutkan bibirnya.
"Iya... iya... kalian nanti papi belikan mobil baru, mobil yang lama papi jual dulu, oke...?"
"Beneran Pi...?"
Keduanya bertanya secara bersamaan.
__ADS_1
"Iya ...! Apa si yang nggak buat kalian...!" jawab Leo menatap kedua anaknya secara bergantian.
"Yeeey ...! Mobil baru..." Lucky bersorak senang.
"Aku juga mau, Pi..."
Terdengar suara si sulung dari balik pintu, berjalan masuk ke dalam kamar, dengan wajah yang terlihat girang, karena jika kedua adiknya dapat mobil baru, dia juga pasti dapat, karena selama ini ayahnya tidak pernah pilih kasih dalam membelikan sesuatu untuk ketiga putra-putrinya.
"Abang...! Nyamber aja kayak petasan..." Rengek si bungsu.
"Iya dong, kalau urusan hadiah Abang gak akan mau ketinggalan."
"Ikh dasar... mobil Abang kan masih bagus, baru juga satu tahun yang lalu di ganti, masa sekarang udah mau di ganti lagi?'' Rengek Lucky.
''Iya juga, lagian aku juga udah sangat banget sama mobil ini, eu... gimana kalau aku minta motor baru saja? selama ini aku gak pernah punya motor, boleh ya...?'' Axel merengek mengikuti gaya adik bungsu'nya.
''Ya... papi, aku kita hadiahnya sekarang juga,'' rengek Al mengerucutkan bibirnya.
''Iya, kalau buat kamu, spesial...! Sekarang juga papi akan pesankan kamu mobil yang kamu inginkan, sekarang kamu fikirkan dulu mobil tipe apa yang ingin kamu beli.''
''Serius, pi?'' Al tersenyum senang.
''Iya serius, sayang...!''
Tanpa di sangka, baik Lucky ataupun Axel tidak yang memprotes keputusan ayahnya tersebut, keduanya seolah mengalah dengan keputusan ayahnya, mereka pun berjanji akan bersabar menunggu sampai bulan depan untuk mendapatkan hadiah yang di inginkan.
Dan benar saja, hadiah yang di janjikan pun datang beberapa jam kemudian, mobil sport berwarna pink, seharga 2 Miliar, mata Al seolah berbinar saat mengetahui bahwa mobil barunya sudah datang, namun sayang, dia hanya bisa menatap mobil tersebut terparkir di halaman rumah dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua, karena tubuhnya masih merasa lemas untuk turun dan melihatnya secara langsung.
__ADS_1
Leo melambaikan tangan dari halaman rumahnya, dia bersama kedua putranya berada tepat di samping mobil tersebut, Al pun membalas lambaian tangan ayahnya dengan tersenyum senang.
'Papi emang pandai dalam menghibur, terima kasih, pap. I love you...' ( Batin Axela bergumam )
''Gimana, apa kamu senang?'' tanya sang ibu berdiri di samping Putri kesayangannya.
''Iya, mom aku senang sekali, terima kasih, ya...'' Al memeluk tubuh sang ibu, mendekapnya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca, merasa terharu dengan apa yang baru saja di dapatkannya.
***
Sementara itu di luar halaman, tepatnya di sebrang jalan tepat di depan rumah besar Leonardo, nampak seorang pria seperti sedang mengintai rumah tersebut.
Dia nampak sedang memperhatikan setiap sudut halaman, matanya pun memperhatikan pemilik rumah yang sedang bersenda gurau dengan kedua putra'nya.
Pria tersebut mengenakan jaket kulit berwarna hitam, bertopi dan juga memakai masker berwarna hitam, matanya nampak tidak luput dalam memandangi rumah tersebut.
Kini pria tersebut berjalan mengelilingi pagar rumah yang tinggi menjulang, dia seolah sedang menghapalkan setiap detail halaman rumah besar tersebut dengan mata yang sesekali-kali melihat ke sekitar, memantau situasi.
Setelah puas dalam memandangi rumah tersebut dan seolah menghapal setiap detail halaman rumah, kini pria tersebut pun kembali berjalan menghampiri motor yang terparkir di sebrang jalan, dia pun menaiki motor lalu menyalakan motornya tersebut, setelah itu, diapun melaju kencang meninggalkan kediaman keluarga Leonardo.
Siapakah sebenarnya pria itu? apakah ini ada hubungannya dengan Alex yang baru saja bertemu dengan Leo? ataukah, ada pihak lain yang menyimpan dendam dengan sang bos mafia yang kini telah hidup bahagia?
Yang penasaran, tunggu kelanjutannya besok pagi ya... ❤️ ❤️ ❤️
__________------___________
promosi
__ADS_1