Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Menyembunyikan


__ADS_3

''Kalian berpacaran ...?'' tanya Leo menatap ke arah putra bungsu dan gadis cantik yang berada di sebelahnya secara bergantian.


''Perkenalkan, Om. Nama saya Ayu,'' Ayu berjalan mendekat, menyalami tangan Leo dan juga istrinya secara bergantian.


'Pacar ...? jadi ini wanita yang terpaksa di terima cintanya oleh Lucky ...' ( Batin Adelia)


Leo dan Adelia pun kini nampak menatap wajah Emillia yang terlihat biasa saja, sungguh wanita itu pandai menyembunyikan rasa sakit di dalam hatinya.


Sementara itu, Alex masih berkutat dengan pikirannya, masih merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ayu, putri dari Revan kini berpacaran dengan putra bungsu dari sahabatnya, sedangkan orang tua mereka bermusuhan.


Apa yang harus dia lakukan sekarang? apa dia harus memberitahukan hal yang sebenarnya kepada sahabatnya itu? tapi mana mungkin dia mengatakan hal itu? sedangkan Leo masih dalam keadaan berduka.


Akh ... hati Alex benar-benar dilanda dilema.


''Dad ...? kenapa Daddy diam saja?'' tanya Amora menatap wajah sang ayah.


''Hah ... Apa ...? Eu ... Nggak ko, gak apa-apa,'' jawab Alex menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sebenarnya.


''Tapi, sepertinya Daddy mengenal dia?'' tanya Amora lagi menatap wajah Ayu dengan seksama.


''Iya, Daddy emang kenal sama Ayu, dia putri teman Daddy.''


''Siapa ...?''


''Eu ... Si-'' Alex tidak meneruskan ucapannya.


''Si-?'' Amora mengulangi ucapan sang ayah.


''Siapa ya? akh sudahlah Daddy lupa lagi,'' jawab Alex gugup.


''Sudah-sudah mari kita masuk, ko jadi berkumpul di luar semua? Dek, ajak pacar kamu masuk, suguhkan dia minuman, kasian dia pasti haus habis menempuh perjalanan jauh,'' pinta Adelia.


Lucky menganggukkan kepalanya.


''Menantu kesayangan Papi dimana? Gabriel, bantu Om Alex bawain belanjaan,'' teriak Leo.


Tidak lama kemudian, yang di panggil pun keluar dari dalam rumah, dia berjalan menghampiri Leo, namun, tatapan matanya tertuju kepada gadis yang saat ini masih berdiri di samping adik iparnya.


'Dia kan-' ( Batin Briel )


Gabriel pun memperlambat langkah kakinya, dengan mata yang menatap ke arah Ayu lalu mengalihkan pandangannya ke arah wajah Alex dan mengerutkan keningnya, seolah memberi isyarat.


Sebagai mantan anak buah Revan, tentu aja Gabriel dapat mengenali wajah Ayu sebagai putri dari mantan bosnya itu, meski dia sendiri tidak tahu nama gadis itu, namun, dia sempat beberapa kali bertemu dengan dia.

__ADS_1


Briel mendekati Alex, dan meraih belanjaan yang di pegang oleh pria itu, masih dengan tatapan heran, dia berdiri tepat di samping Alex.


''Ko masih berkumpul di sini si? Ayo masuk,'' pinta Adelia lagi.


Semua yang ada di sana pun akhirnya masuk ke dalam rumah, Lucky mempersilahkan Ayu untuk masuk, sementara Emil dan juga Amora berjalan beriringan dengan mata Amora yang menatap takjub wajah Emillia yang terlihat biasa saja mengetahui bahwa mantan pacar yang baru saja putus darinya beberapa hari yang lalu sudah memiliki pacar baru.


''Sayang, buatkan kami semua gorengan, ya. Aku rindu sekali memakan camilan itu,'' pinta Leo, meletakan tangannya di bahu sang istri.


''Iya, nanti aku buatkan yang banyak,'' jawab Adel dengan tersenyum.


Di saat yang lain sudah masuk kedalam rumah, Gabriel dan Alex kini masih berdiri di luar, Alex nampak meminta Gabriel melipir ke samping rumah dan berbicara berdua di sana.


''Kamu kenal sama gadis itu?'' tanya Alex setengah berbisik.


''Iya, Om. Bukankah dia putri si Revan? kenapa dia bisa ada di sini?'' jawab Briel merasa heran.


''Dia pacaran sama adik ipar mu,'' jawab Alex datar.


''Apa ...? pacaran sama Lucky? bukannya Lucky itu pacaran sama Emil ...?


''Entahlah, Om juga gak terlalu paham dengan urusan percintaan anak muda, yang jelas, masalahnya akan semakin rumit sekarang, apa yang akan terjadi jika Leo sampai tau bahwa putra bungsunya pacaran dengan anak dari musuhnya sendiri?''


''Apa perlu kita beritahu Papi masalah ini?''


''Eu ... Nggak ko, Pap. Kami lagi-'' Gabriel tidak meneruskan ucapannya, karena tidak tahu harus berkata apa.


''Sudah cepat bawa belanjaan itu ke dalam, Mommy kamu nungguin tuh,'' Leo berjalan mendekat.


''Baik, Pap.''


Briel pun berjalan masuk ke dalam rumah, namun, sebelumnya dia melirik ke arah Alex yang langsung di jawab dengan anggukan oleh pria itu.


''Ayo masuk, kamu pasti capek udah nemenin kami belanja di pasar,'' pinta Leo yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Alex.


'Sorry, Leo. Sepertinya aku harus menyembunyikan masalah ini untuk sementara waktu, nanti kalau hatimu sudah tenang, aku akan mengatakan yang sebenarnya kalau putramu ternyata berpacaran dengan musuh bebuyutan kamu sendiri,' ( Batin Alex )


''Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?'' tanya Leo heran.


''Diih ... GR banget jadi orang, siapa lagi yang ngeliatin kamu?''


''Itu tadi apa?''


''Ya suka-suka aku dong, mata-mata aku, ko kamu yang repot ...'' jawab Alex berjalan beriringan dengan Leo.

__ADS_1


''Ha ... ha ... ha ... Bilang saja kamu iri dengan ketampanan aku 'kan? walaupun sudah tua aku masih terlihat tampan, gak kayak kamu kamu, keriput dimana-mana,'' jawab Leo meledak.


''Dasar Leonardo pria sombong, makan tuh tampan ...!'' jawab Alex sedikit terkekeh.


Keduanya pun masuk ke dalam rumah.


🌹🌹


Emillia nampak sedang membantu Adelia memotong sayuran di dapur, wajahnya terlihat datar, menunduk menatap sayuran yang sedang di potongnya, Amora juga terlihat berada di sana, meskipun tidak ikut membantu karena dirinya memang tidak terlalu mengerti cara memegang pisau. Ketiganya duduk di lantai dengan sayuran yang diletakan sembarang di atas nampan.


Adel nampak menatap wajah Emill yang terlihat seperti mencoba bersikap setenang mungkin, namun, dia tau betul bahwa hati wanita yang berprofesi sebagai guru pengajar itu pasti sedang terluka saat ini.


''Apa kamu baik-baik saja?'' tanya Adelia menghentikan gerakan pisaunya.


''Heuh ...? Tante bicara sama saya?'' jawab Emil sedikit gugup.


''Tentu saja, mana mungkin Tante nanya sama Amora, dia 'kan memang tidak sedang ada masalah apapun ...''


Amora tersenyum menatap wajah Adelia yang saat ini sudah mulai bersiap hangat tidak seperti sebelumnya, yang selalu terlihat cuek dan terkesan jutek setiap kali mereka bertemu.


''Aku baik-baik aja Tante, emangnya aku kenapa?'' jawab Emill masih menyembunyikan rasa sakit di hatinya.


''Bohong ...! Tante tau kamu pasti terluka, mengetahui bahwa putra Tante sudah memiliki pacar baru,'' Adel semakin menatap lekat wajah Emillia, dan kagum melihat ketegaran wanita itu.


''Nggak, Tan. Aku sudah tau sejak dulu, karena aku juga ada si sana saat Ayu mengutarakan cinta kepada Lucky, di atas panggung di hadapan siswa-siswi yang saat itu sedang berkumpul merayakan kelulusan mereka,'' jawab Emill, menghentikan gerakan tangannya.


''Jadi itu sebabnya mengapa Lucky terpaksa menerima cinta Ayu, karena dia menyatakan cintanya di depan para siswa?'' tanya Adelia baru mengetahui hal itu.


Emill mengangguk, dan mencoba tersenyum, meski senyumnya terlihat hambar.


''Wah, sungguh luar biasa, keberanian gadis itu di luar dugaan,'' ucap Amora tersenyum.


''Terpaksa atau tidak Lucky menerima cinta Ayu, aku tetap ikut merasa bahagia, dan berharap bahwa dia bisa benar-benar move on secepatnya dari aku, Tan. Karena obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan patah hati, ya ... dengan jatuh cinta lagi,'' lirih Emillia menahan rasa getir.


''Tante kagum sama kamu, kamu bisa bersikap dewasa seperti ini, Tante janji, meskipun kamu gak bisa menjadi menantu Tante, kamu akan tetap Tante anggap seperti putri Tante sendiri, dan kamu bisa tinggal di sini, bahkan setelah kamu menikah dengan laki-laki lain,'' ucap Adelia tulus.


''Aku juga mau, Tan. Di anggap putri sama Tante ...'' rengek Amora menatap wajah ibu dari kekasihnya itu.


''Amora ... kamu 'kan emang calon menantu Tante ...'' jawab Adelia tanpa menoleh, tangannya kembali memotong sayuran.


Meski ucapan yang keluar dari mulut Adelia terdengar datar, namun, mendengar hal itu membuat hati Amora merasa senang, karena akhirnya ibu dari kekasihnya itu bisa bersikap seperti dahulu lagi, Amora kini bahkan tersenyum begitu lebar menatap wajah teduh calon ibu mertuanya tersebut.


______________----------_______________

__ADS_1


__ADS_2