
Bruk...
Terdengar suara tubuh Leo yang terjatuh dari atas pohon, tubuhnya tersungkur di atas tanah dengan kaki yang menyentuh tanah terlebih dahulu, dia pun meringis kesakitan.
''Arhg...''
''Bos...!'' anak buahnya segera berlari menghampiri, mereka semua tampak terkejut seketika.
''Aww... kakiku... kakiku sakit, sakit sekali... Argh...'' Leo berteriak kencang.
''Ya ampun, bos. Bagaimana ini...?'' tanya Ryan wajahnya terlihat pucat seketika.
''Cepat papah aku kembali ke rumah, kakiku sakit sekali... Argh...''
''Baik, Bos.''
Ryan dan tiga orang lainnya membantu bos mereka berdiri, sementara yang lainnya hanya menatap dengan tatapan khawatir.
Leo pun berjalan dengan di bantu oleh anak buah'nya, dengan kaki yang terlihat pincang.
''Kalian lagi ngapain? cepat bawa kantong plastik itu,'' Leo memutar kepalanya ke belakang, menatap lalu menunjuk kantong plastik berisi buah mangga yang baru saja di petiknya, tergeletak begitu saja di atas tanah.
''Baik, bos.''
Anak buahnya yang lain segera meraihnya, dan membawanya bersama mereka.
Sesampainya di rumah, Adelia segera menyambut kedatangan sang suami yang sedang dalam keadaan terluka, dia pun melihat kejadian'nya sewaktu sang suami terjatuh tadi.
''Ya ampun, suamiku. Kasian sekali kamu, apakah sakit sekali? aku minta maaf gara-gara aku, kamu jadi terluka seperti ini,'' lirih Adelia merasa menyesal.
''Aku tidak apa-apa ko, kamu nggak usah khawatir,'' jawab Leo duduk di kursi masih dengan di bantu oleh anak buahnya.
''Apa kita perlu ke rumah sakit?'' tanya Ryan berdiri di depan kursi.
''Tidak usah, nanti juga sembuh sendiri,'' jawab Leo dengan wajah yang sedikit meringis.
__ADS_1
''Tapi, tadi kamu jatuh dari ketinggian, aku takut kamu kenapa-napa,'' lirih Adelia merasa khawatir.
''Sudah-sudah, aku baik-baik saja,'' Leo berbohong, nyatanya, kaki kirinya terasa sangat sakit, dan bahkan kini terlihat bengkak, dengan luka lecet yang mengeluarkan darah segar.
Tidak lama kemudian Dokter kandungan yang tadi di panggil oleh Ryan pun datang, seorang Dokter Laki-laki bernama Dokter Alvian.
''Permisi...! selamat sore, apakah benar ini rumah Tuan Leonardo?" sang Dokter berdiri di depan pintu yang memang masih terbuka.
"Iya betul," Adelia segera menghampiri Dokter tersebut, dan memberitahukan keadaan Leo.
Adelia sendiri tidak tahu bahwa Dokter yang datang adalah Dokter kandungan yang secara khusus di panggil untuk memeriksa dirinya. Namun dengan polosnya Dokter tersebut di hadapkan kepada Leo yang sedang berbaring di atas kursi dengan wajah yang masih meringis menahan Sakit.
"Begini, Dok. Tadi suami saya terjatuh dari pohon mangga, tolong periksa keadaan dia, sepertinya kakinya terkilir juga," pinta Adelia.
Dokter tersebut hanya terdiam seraya termangu, merasa tidak mengerti dengan apa yang di maksudkan oleh Nyonya rumah tersebut, dia pun menatap Leonardo dengan tatapan heran.
"Maaf, tapi saya Dokter kandungan, saya di panggil ke sini untuk memeriksa seorang ibu yang sedang hamil muda, apakah itu anda?" jawab sang Dokter, menatap wajah Adelia.
Adel yang berdiri tepat berhadapan dengan Dokter tersebut merasa malu seketika, wajahnya terlihat memerah.
Leonardo membulatkan bola matanya, menatap kearah Ryan seolah berkata mengapa dokternya harus laki-laki, Ryan mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh bosnya tersebut.
"Maaf, Dok. Tapi istri saya tidak jadi di periksa," ucap Leo secara tiba-tiba.
"Lho, kenapa? bukankah tadi kamu yang meminta aku untuk segera diperiksa oleh Dokter kandungan, kenapa sekarang mendadak berubah pikiran?" tanya Adelia mengerutkan keningnya.
''Pokoknya tidak jadi, tidak ada alasan, sekarang lebih baik Dokter memeriksa saya saja, kaki saya sakit sekali, Argh...''
''Tapi saya bukan Dokter umum, saya Dokter kandungan,'' jawab Dokter tersebut mengerutkan keningnya.
''Sudah, mau Dokter kandungan ataupun Dokter umum, tetap saja, sama-sama Dokter kan?'' jawab Leo tidak mau mengalah.
''Baiklah, saya akan memeriksa kondisi umumnya saja, untuk keadaan lebih lanjutnya, silahkan Tuan dan Nyonya pergi ke Rumah Sakit,'' sang Dokter akhirnya mengalah dan memeriksa kondisi Leo.
Dokter Alvian pun memeriksa pergelangan kaki Leo, lalu membersihkan luka nya dan membalut'nya dengan perban. Dia memberikan resep obat untuk pereda nyeri agar bisa di beli di Apotek terdekat.
__ADS_1
''Bagaimana, Dokter? apakah perlu ke Rumah Sakit?'' tanya Adelia.
''Iya betul. Tuan Leonardo harus pergi ke Rumah Sakit, sepertinya pergelangan kakinya ada yang patah, namun itu hanya dugaan saja, untuk lebih jelasnya, harus di lakukan Rontgen, dan pemeriksaan lebih lanjut lagi,'' jawab Dokter tersebut.
Leo masih meringis, kini kakinya serasa semakin terasa sakit, bahkan kali ini dia sudah tidak bisa menahannya lagi, alhasil matanya pun terlihat berair.
''Cepat bawa aku ke Rumah Sakit sekarang, aku sudah tidak tahan, rasanya sakit sekali, Argh...'' Leo sedikit menaikan suaranya.
''Baik, bos. Cepat gendong bos Leo ke dalam mobil,'' Ryan memerintahkan rekannya.
''Ibu ikut ya,'' ucap Ibu yang sedari tadi hanya terdiam.
''Iya, Bu. Mari kita pergi sekarang,'' Adelia dan ibu berjalan di belakang para penjaga yang menggendong Leo, Leo tampak di bopong oleh empat orang sekaligus, mereka semua berjalan menuju mobil yang akan di kendarai oleh Ryan.
Di Rumah Sakit.
Sesampainya di sana Leo segera di larikan ke UGD, dengan sigap Dokter dan para perawat di sana segera menghampiri dan membawa Leo ke ruang perawatan, sementara Adel, ibu dan juga Ryan hanya menunggu di luar dengan perasaan cemas.
''Ini semua gara-gara aku kan, Bu,'' Adelia sedikit terisak.
''Tidak, bukan gara-gara kamu, sayang. Semua ini sudah Takdirnya Leo untuk terluka seperti itu,'' jawab Ibu menenangkan.
''Tapi aku yang memaksa dia untuk manjat pohon mangga yang tinggi itu, hiks hiks hiks...'' Adelia semakin terisak.
Mungkin karena dia sedang dalam keadaan mengandung, perasaannya jadi sedikit lebih sensitif, Adelia yang biasanya tangguh dan kuat dalam menghadapi segala cobaan, kini terlihat menangis sesenggukan mendapati sang suami yang harus terluka karena dirinya.
''Tidak usah terlalu bersedih, Nyonya. Saya yakin Bos Leo akan baik-baik saja, beliau adalah laki-laki kuat, jadi saya yakin luka seperti itu tidak akan mempengaruhi kesehatan dirinya,'' Ryan mencoba menenangkan.
''Iya, nak. Sudah jangan menangis lagi, kasian bayi yang berada di dalam kandungan'mu ini lho, kamu harus menjaga perasaan'mu, jangan terlalu stres,'' lirih ibu mengusap perut sang putri.
Adel pun mengangguk tanda mengerti.
Suasana pun hening seketika, Adel, ibu dan juga Ryan tampak menunduk, mereka seperti sedang berdoa di dalam hati masing-masing, berharap semoga Leonardo tidak apa-apa.
Sampai akhirnya, terdengar suara perempuan memecah keheningan, memanggil nama Ryan dan berjalan menghampiri mereka bertiga.
__ADS_1
*****