Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Kesucian


__ADS_3

''Al ...! Axela ...!" Axel pun kembali mengejar kembaran'nya dengan setengah berlari, akhirnya El berhenti saat melihat Al, berjongkok dengan memeluk lututnya, seraya menangis sesenggukan, sendirian di belakang gedung sekolah yang sepi dan tidak ada seorang pun.


Axel berjalan pelan, mendekati lalu berdiri tepat di depan saudara kembarnya.


''Biarkan aku sendiri, hiks hiks hiks ...!''


''Aku minta maaf, Al. Jika kata-kata ku tadi menyinggung perasaan'mu, aku sungguh nggak bermaksud begitu ...''


''Lo jijik kan sama gue? gue kotor, gue udah gak suci, hiks hiks hiks ...'' Teriak Al dengan mata dan wajah yang basah dengan air mata.


''Nggak, Al ...! Sedikit pun gue gak ada pikiran seperti itu, sungguh ...! gue cuma gak ingin Lo pacaran sama cowok gak jelas asal-usulnya, apa lagi sampai menikah sama dia, Lo itu cantik, banyak cowok yang mau sama Lo, Lo jangan berkecil hati hanya gara-gara dia udah merenggut kesucian Lo ...!''


Plak ...


Al berdiri lalu melayangkan satu tamparan keras di pipi saudara kembarnya.


''Argh ...'' El meringis kesakitan.


''Apa Lo bilang, hanya ...? kesucian seorang wanita Lo bilang hanya ...? Lo gak tau gimana rasanya jadi gue, Lo juga gak tau betapa tersiksanya gue, apa Lo pikir gue cewek murahan yang bisa ngeikhlasin kesucian gue gitu aja? hah ...? apa Lo pikir gue seorang pelacur yang bisa bersikap biasa saja terus pacaran dengan orang lain seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa? hah ...?'' Axela semakin berteriak dan menangis sesenggukan.


''Nggak, Al ...! Lo salah paham,'' El meraih lengan Axela lalu menggenggamnya.


''Gue gak peduli kalau Lo sama sekali gak suka sama dia, gue juga gak peduli meski seluruh dunia dan seisinya menentang hubungan gue sama dia, gue akan mencari dia kemanapun dan meminta dia untuk mempertanggung jawabkan perbuatan dia sama gue, karena gue juga cinta sama dia ... hiks hiks hiks ...!''


Mendengar hal itu, hati El diliputi rasa bersalah, dia meraih tubuh langsing saudaranya dan memeluknya dengan begitu erat.


''Maafin gue, Al. Gue egois, gue sama sekali nggak mikirin perasaan Lo, kalau Lo mau nyari dia, gue bakalan bantu Lo, gue akan cari Laki-laki itu meski sampai ke ujung dunia sekali'pun, gue janji ...'' Ucap El sedikit terisak dan mengusap punggung Axela.


''Lo jahat, El ...! Lo jahat ...! hiks hiks hiks ...''


''Gue minta maaf, gue janji gak akan memberitahukan hal ini pada siapapun, hanya Lo dan gue yang tahu hal ini, tapi gue mohon Lo jangan sedih lagi seperti ini, kita saudara kembar, hati gue sakit ngelihat Lo sedih, Al ...?'' El melepaskan pelukannya, lalu mengusap buliran air mata yang berjatuhan semakin derasnya membasahi pipi Axela.


Sementara itu, Al menatap wajah Axel dengan tatapan sendu di sertai sorotan mata yang memancarkan kesedihan.


''Kalau hari ini Lo mau mengunjungi rumahnya, gue bakalan anterin Lo, gue yang nyetir, gue bakal temani Lo kemanapun Lo mau cari dia, meski sampai ke ujung dunia sekali'pun.''


''Beneran ...?'' lirih Al pelan.


Axel mengangguk, lalu kembali memeluk tubuh sang adik.

__ADS_1


''Sekali lagi maafin gue, Al ...!''


Al mengangguk, dan mengeratkan lingkaran tangannya.


''Kita ke sana sekarang, mudah-mudahan dia masih tinggal di sana, ya ...!''


Al melepaskan pelukannya, lalu mengangguk pelan.


***


Di kontrakan milik Gabriel.


Trok


Trok


Trok


Al mengetuk pintu kontrakan milik Gabriel, pintunya di tutup rapat dan tentu saja kunci, jendelanya pun tertutup gorden seolah tidak berpenghuni, Al pun terus mengetuknya selama berkali-kali namun hasilnya tetap sama, tak ada satu suara pun dari dalam sana. Al semakin putus asa saat pintu tak kunjung di buka.


El yang awalnya hanya akan menunggu di gang sempit yang berada tepat di depan kontrakan pun, kini berjalan menghampiri adiknya setelah melihat raut wajah kecewa terpancar dari wajah cantik Axela.


''Ada apa? kenapa kalian berisik sekali? gak tau apa kalau ada yang sedang istirahat?'' ucap seorang ibu-ibu merasa kesal.


''Maaf, bu. Kami tidak bermaksud menggangu waktu istirahat, ibu. Saya mencari pria yang tinggal di tempat ini, apa ibu tahu dia kemana?'' ucap Axela sedikit berkaca-kaca.


''Maksudnya, pria tampan yang tinggal di sini?''


''Iya, Bu. Apa ibu mengenal dia?''


''Sudah tiga hari seperti'nya dia tidak pulang, karena pintu kontrakan ini pun sudah tiga hari ini tidak di buka, kalau malam juga lampunya tidak nyala ...!''


''Apa ibu tahu dia kemana?'' Al semakin gelisah.


''Tidak ... saya tidak tahu dia kemana, sudah, mendingan kalian pulang, percuma teriak-teriak di sini,'' ibu itu pun kembali masuk kedalam kontrakan.


''Gimana ini, El. Gabriel gak ada? hiks hiks hiks ...'' lirih Al.


''Dasar kurang ajar, kemana dia?''

__ADS_1


''Apa mungkin dia sengaja kabur, El. Hiks hiks hiks ...''


''Gak mungkin, kata ibu tadi dia cuma nggak pulang, bukan berarti dia kabur.''


''Tapi dia kemana, Al ...?''


''Besok gue bakalan balik lagi ke sini, gue bakal cari dia kemanapun, Al. Gue yakin besok dia pasti sudah pulang,'' El mengusap pipi Axela seraya menenangkan.


''Janji ...! Lo bakal bantu gue cari dia ...?''


''Iya, gue janji, Al. Sekarang Lo tenang dulu, ya. Gue janji akan cari dia sampai ketemu, Lo gak usah khawatir, ya. Sekarang kita pulang dulu, Lo istirahat dulu, Lo kan baru sembuh, kalau Lo sampai sakit lagi gimana? kasian mommy kalau Lo sampai sakit dan harus di rawat lagi.''


Al mengangguk dengan wajah yang terlihat muram. mereka pun berjalan beriringan, dengan lengan El yang di letakan di bahu saudaranya, seraya mengusapnya pelan, memberikan dukungan.


***


Malam hari, Axela masih dalam keadaan bersedih, tekadnya untuk menunggu pria yang bernama Gabriel kini seolah goyah seketika, keraguan dalam hatinya tiba-tiba saja datang, meragukan janji manis yang sempat di ucapkan oleh kekasihnya tersebut


Al duduk di meja belajarnya, dengan hanya di temani lampu belajar yang menyorot tepat di atas meja, dia pun meraih buku diary berwarna ungu dengan bertuliskan inisial AL si sampul depannya.


Al membuka buku tersebut lalu mencurahkan isi hatinya.


Dear Diary...


Malam yang gelap ini terasa begitu dingin, angin yang berhembus seolah menusuk tiap helai kulitku, kesepian kini menemani jiwa ku yang rapuh.


Kemana sebenarnya kebahagiaan itu pergi? kemana sebenarnya keceriaan itu menghilang? hatiku kini diliputi kesedihan yang mendalam karena terus menunggu seseorang yang tak kunjung juga datang.


Wahai bulan, sampaikan padanya dimana pun dia berada, bahwa separuh jiwaku kini terasa menghilang, hatiku seolah membeku, merindukan dan menginginkan dia berada di sisiku sekarang.


Andai saja aku bisa terbang, ingin aku melayang mencarimu, dimana pun, kemanapun, akan ku susuri jalanan yang penuh dengan kegelapan.


Gabriel ...! Aku sungguh merindukanmu ...!


__________---------__________


Promosi


__ADS_1


__ADS_2