
Axela masih terkulai lemas di ruang perawatan, kamar VVIP yang khusus di pesan sang ayah, agar putrinya tersebut bisa beristirahat dengan tenang setelah melahirkan tiga bayi kembar.
Tubuh Al benar-benar terasa lemas, seluruh tulangnya bagai remuk dengan bagian inti tubuhnya di bawah sana masih terasa sakit akibat robekan sisa persalinan.
Kedua kaki ibu muda itu bahkan terasa sulit untuk digerakan, membuatnya hanya bisa berbaring lemah tanpa bisa bergerak sedikitpun.
''Sayang ... Aku lapar sekali,'' ucap Axela lemah, perutnya terasa kosong.
''Kamu mau makan apa, sayang?'' jawab Briel yang selalu setia berada di sisinya.
''Hmm ... Makan apa saja, perutku benar-benar terasa kosong.''
''Hmm ... Kalau gitu aku pesanin makanan kesukaan kamu ya. Nasi Padang, mau?'' tawar Briel meraih ponsel hendak memesan makanan secara Online.
''Mau, sayang. Aku juga ingin makan roti bakar, pizza, ayam bakar sama eu ... apa lagi ya ... Minumannya aku ingin yang dingin-dingin manis,'' pinta Al tersenyum.
''Oke ... Kamu bebas pesan makanan sebanyak apapun yang kamu mau, sayang.'' Jawab Gabriel tersenyum.
Tidak lama kemudian, Leo, Adelia, dan kedua saudaranya pun masuk ke dalam kamar dengan membawa tiga bayi di dalam gendongan mereka masing-masing.
''Sayang ... Lihat bayi kamu sudah boleh berada di sini bersama kita ...'' ucap Adelia berjalan mendekati.
''Bayiku ...'' lirih Al dengan mata yang berkaca-kaca.
Betapa hati seorang Axela benar-benar merasa haru, menatap ketiga buah hati yang baru dua hari yang lalu dia lahir'kan secara normal, bahkan sisa melahirkan pun masih terasa sakit di sekujur tubuhnya.
Al menatap satu-persatu bayi cantik yang masih berada di dalam gendongan ayah, ibu serta kakaknya tersebut, dan tiba-tiba saja dia menangis sesenggukan membuat semua yang ada di sana merasa heran.
''Kamu kenapa, sayang? Ko nangis?'' tanya sang ibu mengerutkan keningnya.
''Hiks hiks hiks ... Aku bingung, aku ingin gendong mereka semua, tapi badan aku masih gak bisa di gerakan, hiks hiks hiks ...'' rengek Al.
''Pelan-pelan, sayang. Nanti juga badan kamu pulih dengan sendirinya, memang seperti itu kalau habis melahirkan, dulu Mommy juga kayak gini,'' jawab sang ibu menenangkan.
''O ya ...?''
''Iya, sayang. Yang penting sekarang, kamu makan yang banyak biar kondisi kamu cepat pulih, si kembar biar Mommy sama Daddy yang jagain, Oke ...''
Al mengangguk lemah.
''Kak ... Kaka udah siapin nama yang cocok buat keponakan aku ini belum?'' tanya Lucky.
__ADS_1
''Hmm ... Kayaknya, masih belum ada nama yang cocok buat mereka, kalau cuma kembar dua masih gampang nyarinya, tapi kalau tiga sekaligus, Kaka agak sulit nyari nama yang cocok.'' Jawab Axela.
''Lala ... Lili ... Lulu ...'' celetuk Leo, seketika langsung mendapatkan tatapan tajam dari semua yang ada di sana.
''Kenapa kalian ngeliatin Papi kayak gitu? itu saran nama dari Mommy kamu tuh ...'' ucap Leo, salah tingkah.
''Bukan maksud aku harus menyematkan nama itu sama mereka, itu 'kan hanya contoh. Contoh ...'' jawab Adelia penuh penekanan.
''Iya-iya sayang, hanya contoh. Gitu aja ko marah si ...?''
''Boleh juga mam. Layla ... Laily ... Laylu ...'' ucap Al, tersenyum senang.
''Kamu serius mau ngasih nama itu? kedengarannya kampungan lho ...'' celetuk Leo dan kembali mendapatkan sambaran tatapan mata tajam dari semuanya, terutama Adelia sang istri.
''Apa lagi ...? Papi salah lagi ...? heuh ...?''
''Pap ...'' lirih El si anak sulung.
''Ya udah kalau kamu benar-benar suka dengan nama itu, kita beri nama mereka, Layla untuk si sulung, Laily untuk anak tengah dan Laylu untuk si bayi bungsu, kita panggil mereka triple L, Lala ... Lili ... Lulu ...!'' tegas Leo akhirnya.
''Bagus, aku setuju, Pap.'' Ucap Gabriel setuju.
Briel meraih bayi yang di gendong oleh kakak iparnya, membawanya di dalam pelukan dan menatap wajah imut sang bayi yang begitu cantik berbalut kain bedong.
''Mom, tidurkan bayi itu di samping aku. Aku ingin melihat wajahnya dengan jelas,'' pinta Axela kepada ibunya.
Adelia pun mengikuti keinginan putrinya, dia membaringkan bayi yang digendongnya tepat di samping Axela.
''Sayang ... Wajah kamu cantik sekali,'' ucap Al menatap wajah putrinya.
''Cantik kayak Neneknya 'kan?'' celetuk Leo membuat mereka tertawa.
''Papi ini, ya cantik kayak ibunya lah, masa kayak Neneknya ...'' ucap El tertawa.
''Memangnya kenapa kalau cantik kayak Neneknya? Apa Mommy gak cantik, El?''
''Iya-iya, Mommy cantik ko, cantik banget malah, apalagi aku sempat lihat Poto Mommy waktu masih muda, beuh ... Kecantikan Mommy gak tertandingi, pantesan aja pria bernama Leonardo itu tergila-gila sama Mommy.'' Jawab Axel cengengesan.
''Lho, dimana kamu lihat Poto Mommy waktu masih muda?''
''Di rumah Nenek ...''
__ADS_1
''Hmm ... Begitu ...! Mommy emang cantik, Papi kamu aja sampai benar-benar tergila-gila sama Mommy,'' jawab Adelia penuh percaya diri.
''Dih, Mommy. Kok Mommy jadi ketularan kayak Papi si, ha ... ha ... ha ...'' tawa Lucky terdengar renyah.
''Ketularan gimana maksud kamu, hah ...'' tanya Leo tidak mengerti.
''Ketularan percaya diri yang tingginya selangit,'' celutuk Lucky dan semua yang ada di sana pun tertawa seketika secara bersamaan.
Setelah melewati perjalan panjang hidup bersama keluarga besarnya, penuh liku di tambah serangakaian masalah dan cobaan yang berhasil mereka lalui bersama, kini kehidupan keluarga besar Leonardo benar-benar lengkap di tambah dengan kehadiran tiga cucu sekaligus, membuat kebahagiaan mereka terasa begitu lengkap.
🍀🍀🍀
''Huek ... Huek ... Huek ...'' Emillia nampak sedang berjongkok di depan toilet, kepalanya terasa begitu pusing bahkan mulutnya tidak berhenti merasa mual, membuatnya terus memuntahkan seluruh makanan yang sempat dimakannya hingga perutnya terasa kosong.
Amora sang putri yang mendengar suara ibu sambungnya itu segera masuk ke dalam kamar mandi.
''Mom ...? Mommy kenapa? Apa Mommy sakit?'' tanya Amora menatap wajah Emill dengan tatapan khawatir.
''Nggak tau, Ra. Dari pagi Mommy mual-mual terus. Bahkan waktu Mommy mengajar di sekolah pun, Mommy seperti ini, sampai-sampai Mommy harus bolak-balik kamar mandi,'' jawab Emillia mengusap perutnya.
''Sebaiknya kita masuk ke dalam dulu, kasian di sini dingin ...'' pinta Amora, membantu tubuh sang ibu untuk bangkit lalu memapahnya ke dalam kamar.
''Tunggu, Mom. Apa bulan ini Mommy sudah datang bulan?'' tanya Amora membuat Emil terkejut.
''O iya, Mommy sampai lupa. Udah dua bulan ini Mommy sama sekali belum datang bulan.''
''Mom ...?''
Ibu dan putrinya itu sekarang saling menatap satu sama lain, kemudian keduanya tersenyum bahagia.
''Apa jangan-jangan Mommy hamil?'' ucap Amora tersenyum senang.
''Ra ... Apa mungkin yang kamu katakan itu benar? Mommy hamil ...?'' Emil tersenyum begitu bahagia.
Amora dan Emillia pun saling berpelukan merasa senang. Keduanya pun tertawa bersama dan berharap bahwa tebakan mereka tidak salah.
''Tapi, sayang. Kita gak bisa asal menembak kalau belum membuktikannya sendiri,'' Emil mengurai pelukan.
''Caranya ...? apa kita periksa langsung ke Dokter aja?''
''Kayaknya nanti dulu deh. Hmm ... Beliin Mommy tersfek. Mommy bakalan tes urin dulu. Kalau hasilnya positif, baru kita periksa ke Dokter, Oke ...'' ucap Emillia yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Amora.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀