Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Berdamai part 2


__ADS_3

Alex dan Axel menghampiri Revan yang saat ini masih duduk bersama Lucky di luar ruangan ICU. Revan pun nampak langsung mengusap wajahnya secara kasar, membersihkan sisa air mata yang saat ini masih terlihat membasahinya rahangnya.


''Apa kalian sudah selesai bicara?'' tanya Alex menghampiri.


''Iya, bang Alex. Kami sudah selesai. Aku mau mengucapkan terima kasih karena kamu sudah mengantar aku ke sini,'' jawab Revan berdiri.


''Kalau begitu aku pamit, ya? sudah malam. Istriku pasti sedang menungguku di rumah.''


''O iya, bang Alex. Aku sampai lupa mengucapkan selamat atas pernikahanmu, sayang sekali aku gak di undang ...'' ucap Revan sedikit kecewa.


''Ha ... ha ... ha ... Maaf Revan, aku pikir kalau aku undang pun, kamu gak akan datang.''


''Kenapa begitu? kalau kamu undang, aku pasti datang ko.''


''Ha ... ha ... ha ...! ya sudah aku minta maaf, jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Aku pulang sekarang ya.''


''Tunggu, bang. Besok, bisakah kamu mengaturkan waktu agar aku bisa bertemu dengan Leonardo? aku ingin menyelesaikan urusan aku sama dia.''


''Kenapa harus meminta aku? Kamu saja yang telpon dia, janjian langsung sama dia.''


''Oh ... Ya sudah kalau begitu, aku akan menelpon dia nanti.'' jawab Revan.


Alex hanya mengangguk pelan.


''Dek, Abang juga pulang ya, sekarang 'kan sudah ada Om Revan. Apa kamu juga mau pulang, kamu harus beristirahat lho, jangan sampai kamu sakit.'' Ucap Axel.


''Iya, Luck. Sebaikanya kamu juga pulang, Ayu biar Om yang jaga, lagipula nanti Om akan menelpon ibunya, biar dia menemani Om di sini,'' pinta Revan, menoleh menatap Lucky yang memang sudah terlihat kelelahan.


''Hmm ... Gimana ya? sebenarnya aku masih ingin di sini, tapi-'' jawab Lucky sedikit ragu-ragu.


''Kamu pulang saja, percaya sama Om. Om akan menjaga putri Om dengan baik. Kamu percaya sama Om 'kan?''


''Hmm ... Baiklah, aku pulang. Besok pagi aku balik lagi ke sini,'' jawab Lucky akhirnya.


''Ya sudah, kami pulang dulu, ya. Jangan lupa telpon istrimu, walau bagaimanapun dia berhak tau keadaan putrinya,'' pinta Alex, mengingatkan.


''Kalian hati-hati. Dan kamu Lucky, sekali lagi Om ucapkan terima kasih.''


''Sama-sama, Om. Aku titip Ayu. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku.'' Jawab Lucky hendak pergi. Namun, dia menghentikan langkahnya seketika.

__ADS_1


''Tunggu, Abang, Om Alex. Aku mau ke dalam dulu sebentar,'' ucap Lucky masuk ke dalam ruangan ICU.


Di dalam sana. Lucky nampak mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Ayu, berbicara kepadanya seolah kekasihnya itu dapat mendengar suaranya.


''Sayang, aku pulang dulu, ya. Besok aku janji akan balik lagi ke sini, istirahat yang baik di sana, dimanapun jiwamu berada, dan kalau kamu sudah puas beristirahat, jangan lupa bangun, aku selalu menanti kamu di sini, sayang ...'' lirih Lucky, mengecup kening Ayu dengan mata yang dipejamkan.


Setelah itu, dia pun kembali keluar dari dalam ruangan tersebut.


''Sudah ...?'' tanya El.


''Iya, bang. Mari kita pulang sekarang.''


El menganggukkan kepalanya.


''Kami pamit, Om.''


Revan mengangguk seraya tersenyum, menatap kepergian ketiga orang yang sudah menyelamatkan putrinya, dia pun tersenyum penuh rasa syukur karena putrinya masih bisa diselamatkan, dan penyesalan pun kembali menggerogoti hati seorang Revan.


'Ayah janji akan berubah, jadi cepatlah bangun, sayang ...' ( Batin Revan )


Dia pun masuk kembali ke dalam ruangan ICU.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


''Jangan melamun kayak gitu, Dek,'' ucap Axel yang sedang menyetir mobil.


Yang di tanya pun hanya terdiam seolah tidak mendengar ucapan kakaknya tersebut.


''Dek ...'' panggil El sedikit menaikan suaranya, membuat Lucky sontak menoleh dan menyudahi lamunannya.


''Heuh ... Ada apa, bang ...?''


''Abang bilang, jangan melamun, nanti kesambet lho ...''


''Hmm ... Aku hanya sedang berfikir.''


''Berfikir apa?''


''Kalau Ayu bangun, aku akan langsung melamar dan bertunangan dengan dia secara resmi.''

__ADS_1


''Hah ... Kamu serius?''


''Iya, bang. Aku serius?''


''Hmm ... Kamu itu masih muda lho, Dek. Tunangan, sama aja dengan mengikat dia, dan itu berarti hubungan kalian bukan sekedar hubungan biasa,'' jawab El sedikit melirik wajah adiknya.


''Iya aku tau. Justru karena itu, aku ingin menjalani hubungan yang serius sama dia.''


''Hmm ... Nanti kita bisa bicarakan kepada Papi dan juga Mommy, minta pendapat mereka mengenai hal ini. Tapi, lebih baik sekarang kamu fokus saja dulu sama kesehatan kamu, karena sepertinya wajah kamu pucat, kamu butuh banyak istirahat, Abang takut kamu jatuh sakit.''


''Baiklah, tubuhku memang lelah sekali.'' Jawab Lucky kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil, lalu memejamkan mata seketika.


Axel, nampak menoleh lalu mengulurkan satu tangannya dan mengusap kepala adik kesayangannya itu.


🍀🍀


Keesokan harinya, Revan benar-benar membuat janji dengan Leonardo. Dirinya sudah bertekad untuk mengakhiri dendam dan kebencian di dalam hatinya yang selama ini telah membuat hidupnya tersiksa.


Mereka pun sudah membuat janji untuk bertemu di sebuah Restoran, di ruangan khusus yang memang sengaja di pesan agar mereka bisa leluasa mengobrol, tidak lupa Alex pun hadir di sana untuk menjadi penengah di antara mereka berdua.


Leo nampak duduk bersama Alex, menunggu kehadiran Revan yang masih belum juga datang.


''Ini orang kemana si? dia yang membuat janji, dia juga yang belum datang. Hadeuh, tau gini mendingan aku gak usah datang sekalian,'' gerutu Leo kesal.


''Sabar Leo, mungkin dia masih di Rumah Sakit, lagian kamu ini gak sabaran banget si?'' jawab Alex.


''Bukan masalah sabar tidak sabarnya, tapi pekerjaan aku di kantor lagi numpuk-numpuknya, karena kemarin aku sibuk ngurusin anaknya si Revan, pekerjaan aku jadi banyak yang terbengkalai.''


''Ya sudah, aku akan mencoba menelpon dia kalau begitu,'' Alex pun mengeluarkan ponsel, lalu hendak menelpon Revan.


Baru saja Alex hendak menekan tombol dial, orang yang mau di telpon pun datang, membuat Alex mengurungkan niatnya seketika.


''Nah, akhirnya datang juga,'' ucap Alex berdiri menyambut kedatangan Revan.


''Maaf karena aku datang terlambat, tadi aku harus mengantar istriku ke Rumah Sakit, agar dia bisa menggantikan aku untuk menjaga putriku di sana,'' jawab Revan, berjalan menghampiri.


''Hmm ... Begitu. Oke ... sekarang kamu duduk dan kita mulai ikrar perdamainya,'' pinta Alex sedikit bercanda, membuat Leo sontak menoleh dan membulatkan bola matanya menatap wajah Alex dengan tatapan tajam.


''Kenapa ...? apa ada yang salah dengan ucapan aku, hah ...? matamu itu, kayak mau melompat dari tempatnya aja si,'' ucap Alex kembali sedikit bercanda.

__ADS_1


''Hmm ... Kata siapa aku bersedia datang kemari karena ingin berdamai sama dia?'' jawab Leo membuat Alex terkejut seketika.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2