
''Jimmy,'' Angel bergumam pelan.
Matanya terlihat berkaca-kaca, bibirnya tampak menggigit ujung kuku jari jempolnya, dengan lengan lain sedikit bergetar memegang secarik poto, yang di dalam Poto tersebut terdapat Poto dirinya yang sedang diapit oleh dua orang Laki-laki tampan, yaitu Leonardo dan Jimmy yang merupakan adik dari musuh bebuyutan Leo yaitu Alex.
Flash back
Satu tahun yang lalu.
Kring
Kring
Kring
Terdengar suara ponsel yang tergeletak begitu saja di atas ranjang, Angel mengeluarkan satu lengannya dari balik selimut tebal berwarna putih dengan mata yang masih terpejam.
Lengannya tampak meraba-raba mencari posisi ponsel yang saat ini tidak berhenti berdering itu, dia pun membuka mata dan sedikit mengangkat kepalanya, dengan mata yang disipitkan seolah menahan kantuk, akhirnya dia pun menemukan ponsel miliknya, dan menatap layar ponsel terlebih dahulu sebelum mengangkatnya.
Matanya terbuka lebar dengan mulut yang sedikit menganga, terkejut seketika melihat nama yang di layar ponselnya.
'Kekasihku'
Nama itulah yang muncul, sang kekasih yang bernama Leonardo menelpon dirinya. Dia pun bangkit dan duduk di atas ranjang, dengan tubuh yang di tutup rapat dengan selimut.
''Halo... sayang...''
Angel mengangkat telpon dan berucap dengan nada suara yang terbata-bata.
''Iya, sayang. Kamu dimana?''
''Eu... anu... aku di rumah, ada apa? tumben pagi-pagi begini nelpon aku?'' jawabnya dengan suara seperti tersenyum yang di paksakan.
''Benar kamu di rumah? tidak bohong?'' Leo bertanya seperti sudah tahu jawabnya.
''Ya, iya benar lah, mana berani aku berbohong sama kamu, eu... aku mandi dulu ya, baru bangun tidur soalnya, nanti aku telpon kamu lagi,'' Angel segera menutup telpon, dan meletakan kembali ponselnya di atas ranjang.
Dia mengusap wajah dengan kasar dengan kedua lengannya, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, hatinya serasa berdebar karena sang kekasih yang tiba-tiba saja menanyakan keberadaan dirinya, dan dengan terpaksa dia pun berbohong karena sekarang dia sedang berselingkuh dengan seseorang.
''Siapa yang menelpon?'' terdengar suara Laki-laki dari balik selimut yang sama dengan dirinya.
__ADS_1
''Leo menelpon aku, menanyakan aku sedang dimana? untung saja aku pandai berbohong, kalau tidak kita mungkin sudah ketahuan,'' jawab Angel merasa ketakutan.
''Sayang ku ini memang pintar,'' Laki-laki tersebut menarik lengan Angel dan memasukan tubuhnya ke dalam selimut, keduanya pun bergulat di dalam sana.
Brak
Tiba-tiba saja pintu pun di buka secara paksa, dan kedua orang yang berada di dalam sana terkejut dan membuka selimut secara bersamaan.
''Angelina....'' terdengar suara Leo terlihat geram dengan suara yang menggelegar.
''Leo...'' Angel membelalakan bola matanya dengan tubuh bergetar.
Sementara Laki-laki yang tidak lain dan tidak bukan adalah Jimmy yang merupakan sahabat baik Leo, yang kini berada di sampingnya pun merasakan hal yang sama, dia membuka lebar bola matanya.
''Leo, aku bisa menjelaskan?'' Angel turun dan meraih baju dirinya yang tergeletak di samping ranjang, lalu memakainya dengan tergesa-gesa.
''Brengsek kalian berdua,'' Leo mengepalkan kedua tangannya, matanya tampak sedikit berair, menahan rasa sakit karena di khianati oleh orang yang dicintainya sekaligus sahabat baiknya.
''Tunggu, Leo... aku minta maaf, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengkhianatimu, aku sungguh mencintaimu, namun dia terus menggodaku hingga akhirnya aku pun tergoda oleh rayuannya,'' Angel mencoba melindungi diri dan menumpahkan semua kesalahannya kepada Jimmy.
''Jika kamu mencintaiku, seharusnya kamu tidak tergoda oleh Laki-laki lain, apalagi, Laki-laki itu adalah sahabatku sendiri,'' Leo berjalan menghampiri Angel dengan mata yang terlihat di bulatkan sempurna.
''Leo... Jimmy menjebak aku, dia memasukan obat perangsang kedalam minuman ya aku minum, itu sebabnya aku berada disini, hiks hiks hiks...'' Angel menangis sesenggukan.
''Tidak...! itu semua tidak benar,'' Belum sempat Jimmy menjelaskan tiba-tiba saja...
Dor
Leo menembakkan pistol, dan peluru itu tepat mengenai kepala Jimmy, hingga dia tewas seketika dengan mata yang masih terbuka dan mulut yang sedikit menganga.
''Haaaaa...'' Angel berteriak keras seketika, dia berlari menghampiri Jimmy yang tewas bersimbah darah di atas ranjang. Dia pun menangis sesenggukan, sampai dadanya terasa sesak dengan memanggil nama pria itu dengan terbata-bata.
''Ji-ji-mmy...bangun, maafkan aku, hiks hiks hiks...'' dia memeluk kepala pria itu disertai dengan suara tangis yang terdengar pilu dan menggelar.
''Kamu jahat, tidak punya hati, kenapa kamu membunuh dia, hiks hiks hiks,'' Angel menatap tajam ke arah Leo.
''Tidak ada kata maaf untuk seorang pengkhianat,'' jawab Leo berbalik dan keluar dari dalam kamar.
***
__ADS_1
Alex memasuki kamar mayat, langkahnya terlihat gontai dengan mata yang penuh dengan air mata, menatap seonggok tubuh yang sudah tidak bernyawa yang tertutup rapat oleh kain berwarna putih.
Dia pun menyibakkan kain yang menutupi bagian wajah Jimmy, dan tangisnya pun pecah, melihat wajah pucat dari adik kesayangannya dengan dahi yang berlubang.
''Jimmy...? Adikku, bangun, nak. Ya ampun adikku... hiks hiks hiks...'' dia pun memeluk kepala adiknya, tangisnya menggelegar di seisi ruangan.
''Siapa yang melakukan hal ini padamu, nak...? SIAPA? hiks hiks hiks...''
Kemudian salah satu anak buahnya menghampiri dan berbisik si telinga Alex, mata Alex terbelalak seketika, dia mengepalkan kedua tangannya, lalu berteriak kencang.
''LEONARDO... BRENGSEK KAMU... HAAAAA...'' wajah Alex terlihat garang.
''Lihat saja, aku akan membalas dendam, dan aku akan membuat hidup mu menderita dan membalas rasa sakit ini 10 x lipat,'' ucapnya kemudian, dengan tekad yang sudah
di bulatkan.
Flash back and.
Angelina terlihat sedikit terisak, mengingat kembali kejadian satu tahun yang lalu, di saat pria yang berada di Poto itu tewas di depan mata, karena ulah dirinya yang terus memprovokasi dan berbohong kepada Leo untuk membela diri dan menutupi perselingkuhan dirinya.
Andai saja waktu itu dia tidak berbohong, mungkin saja saat ini Jimmy masih hidup, jika saja waktu itu dia tidak menumpahkan kesalahan kepada Jimmy, mungkin saja saat ini dia masih bisa melihat pria itu.
Angel mengusap lelehan air mata yang membasahi pipinya, mengusap dengan satu tangannya sembari terus terisak, dia pun memasukan Poto tersebut ke dalam saku bajunya lalu keluar dari dalam ruangan itu dengan mata yang sembab.
***
Ibu dan Ryan akhirnya tiba di ibu kota, dan sekejap lagi mereka akan segera tiba di kediaman Leo dan juga Adelia.
''Bu, bangun. Sebentar lagi kita sampai,'' Ryan mencoba membangunkan ibu saat mobilnya sudah mulai memasuki komplek perumahan.
Ibu pun membuka mata, dan melihat ke arah luar, dia tersenyum senang, akhirnya perjalanan panjangnya berakhir dan sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan putri kesayangan.
Mobil pun hendak memasuki halaman namun Ryan menghentikan laju mobilnya seketika, karena ada satu orang berpakaian hitam serat memakai topeng, berdiri tepat di depan. Menatap lurus ke arah mobil, lalu mengacungkan senjata tajam.
*****
Rekomendasi novel yang bagus kalian, di jamin tidak akan menyesal membacanya, Karena tak kalah menarik dengan novel saya ini.
__ADS_1
*****