Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Positif


__ADS_3

Adelia keluar dari dalam kamar mandi, dengan wajah yang terlihat muram serta bibir yang di kerucutkan, Leo pun segera berlari menghampiri.


''Bagaimana hasilnya? apa kamu positif?'' tanya Leo dengan hati yang berdebar, dan jantung yang berdetak kencang.


Adelia menyerahkan alat tes itu kepada suaminya.


''Ada dua garis merahmya, artinya apa, bu?'' Leo menoleh ke arah ibu, melayangkan tatapan polos.


Ibu tersenyum bahagia, menghpiri Adelia dan memeluknya.


''Selamat ya, nak. Kamu positif hamil.''


''Apa...?'' Leo terkejut membulatkan bola matanya seketika, hatinya merasa sangat senang, sementara ibu melepaskan pelukan Adelia dan tertawa melihat ekspresi menantunya, yang kegirangan seolah baru saja mendapatkan undian.


''Kamu hamil, del? aku akan segera mempunyai anak?'' Leo meraih tubuh sang istri dan memeluknya, matanya bahkan sampai berkaca-kaca menahan haru dan rasa gembira.


''Kamu hamil, istriku. Aku sungguh bersyukur,'' ucapnya lagi dengan sedikit terisak-isak.


Adelia melingkarkan lengannya di pinggang sang suami, dia pun sama terharunya, dan sedikit menitikkan air mata, keduanya tidak pernah berfikir atau pun banyak berharap akan segera mempunyai momongan, dan apa yang baru saja mereka ketahui sekarang sungguh seperti sebuah kejutan dan hadiah yang tidak ternilai.


''Aku hamil, suamiku. Aku sungguh bahagia,'' jawab Adelia masih di dalam pelukan sang suami.


Keduanya melepaskan pelukan, lalu saling pandang, menatap wajah masing-masing dengan lengan yang masih di lingkarkan, Leo mengusap pipi lalu merapihkan rambut Adel dengan penuh kasih sayang, matanya masih penuh dengan buliran air mata merasa terharu.


''Kita akan segera mempunyai bayi, dan kamu tidak akan kesepian lagi di rumah ini, aku sungguh sangat bahagia, terima kasih, sayang,'' lirih Leo.


''Selamat ya buat kalian berdua, ibu juga sangat senang mendengarnya, datang kemari di beri kejutan seperti ini,'' ibu Sarah memeluk keduanya, dan mereka bertiga pun saling berpelukan merasakan kebahagiaan, beberapa saat kemudian ketiganya melepaskan pelukan masing-masing, dan tersenyum bersama.


''Bu, ibu pasti capek, mari Adel antar ke kamar ibu, untuk beristirahat,'' ujar Adelia yang langsung di jawab dengan anggukan oleh ibu.


Leo membawakan tas besar milik ibu, dan ketiganya berjalan menuju kamar tamu, masih dengan senyum yang mengembang di kedua sisi bibir ketiganya.


_____-----_____


Keesokan harinya.

__ADS_1


Leonardo berjalan memasuki kantornya, aura bahagia terpancar dari wajahnya, dia bahkan menyapa setiap karyawan yang berpapasan dengan dirinya dengan tersenyum, membuat semua karyawannya itu terheran-heran di buatnya, salah satu karyawan bahkan saling berbisik.


''Bos kita kenapa ya? pagi ini auranya sangat berbeda, senyumannya itu benar-benar membuat jantungku berdebar,'' ucap karyawan wanita seraya mengusap dada kirinya.


''Hus, dia itu sudah punya istri tau,'' jawab salah satu temannya.


''Biarpun beristri, tapi aku rela jadi madu pria tampan dan gagah seperti bos Leo,'' dengan mata berbinar.


''Akh, ngaco kamu.''


Angel pun mendengar ucapan keduanya, dia melayangkan tatapan sinis lalu berdehem keras.


''Apa yang sedang kalian bicarakan? cepat kerja, apa kalian pikir perusahaan ini menggaji kalian untuk bermalas-malasan seperti ini, hah...'' ucap Angel ketus.


Kedua karyawan wanita itu pun langsung berlari ke meja kerjanya masing-masing, dengan wajah yang sedikit ketakutan, sementara Angel meneruskan langkahnya berjalan menuju ruangan Leo.


Setelah Angel berjalan menjauh, kedua karyawan yang tadi pun kembali saling menghampiri.


''Kamu tahu nggak? aku pernah dengar kabar, kalau si Angel itu pacaran sama bos Leo, tapi entah mengapa bos kita itu menikahnya dengan wanita lain,'' ucap'nya kemudian dengan suara yang terdengar pelan.


''Tapi nggak heran sih, bos memilih wanita lain, lihat saja, wajahnya judes seperti itu,'' memandang sinis ke arah Angel yang sudah berjalan menjauh.


___---___


Angel mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan Leo, dia berjalan dengan berlenggak lenggok dengan mata yang menatap genit memandang wajah bos'nya.


''Bos, ini laporan keuangan bulan lalu, syukurlah pendapatan kita mengalami peningkatan,'' ucap Angel berdiri di depan meja dan meletakan map berwarna biru si atas meja.


''Terima kasih,'' jawab'nya meraih amplop tersebut dengan tanpa menoleh sama sekali.


Angel masih berdiri di sana, menatap wajah mantan kekasihnya yang terlihat datar dan tidak menghiraukan kehadiran dirinya, bahkan melirik pun tidak.


''Kamu boleh keluar,'' pinta Leo yang masih mendapati Angel seperti tidak kunjung beranjak dari hadapan'nya.


Leo pun mengangkat kepalanya, memandang wajah Angel yang sedari tadi menatap dirinya, masih dengan raut wajah yang datar.

__ADS_1


''Ada apa lagi?'' tanya Leo kemudian.


''Aku menemukan ini kemarin,'' Angel meletakan secarik Poto yang kemarin dia temukan di bawah meja.


''Apa ini?'' Leo meraihnya.


''Jimmy...! apa kamu masih ingat dengan dia?'' tanya Angel menahan getir.


Leo menatap lekat wajah yang berada di dalam Poto, hatinya di rundung rasa gelisah, perasaannya diliputi rasa penyesalan. Dia pun mengusap wajahnya dengan kasar.


''Silahkan kembali ke tempat kerja kamu,'' ucap Leo menahan dan menyembunyikan gejolak di dalam jiwanya.


''Apa kamu tidak menyesal sama sekali telah menghabisi Jimmy dengan sangat kejamnya?''


''Karena siapa aku melakukan itu? gara-gara kamu, andai saja waktu itu kamu tidak berselingkuh dan memprovokasi aku, mungkin saja aku tidak akan melakukan hal seperti itu, semuanya salahmu, tau..." Leo menaikan suaranya.


Angel terdiam sejenak.


"Apa kamu tahu bagaimana perasaan aku waktu itu? melihat dan menyaksikan sendiri, kamu yang masih jadi pacar aku, berada di atas ranjang dengan seorang Laki-laki, untung waktu itu aku masih bisa menahan diri terhadap'mu, jika tidak, kamu juga sudah aku tembak,'' Leo semakin menaikan nada suaranya.


''Iya, aku minta maaf, waktu itu memang aku yang salah, berselingkuh darimu dengan sahabat baikmu sendiri, aku sungguh menyesalinya sekarang,'' Angel menunduk.


''Tidak ada gunanya menyesal, semua itu tidak akan merubah keadaan,'' jawab Leo datar.


''Apa kita masih bisa memperbaiki semuanya? aku rela jadi yang kedua, karena aku sungguh mencintaimu, aku rela jadi madu asalkan bisa tetap bersamamu,'' lirih Angel dengan mata yang penuh harap.


Leo terperangah seketika, dia tidak menyangka Angel akan mengucapkan hal yang konyol seperti itu, bagi'nya saat ini, Istrinya adalah satu-satunya wanita yang ada di dalam hatinya, apalagi sekarang sang istri sedang dalam keadaan berbadan dua, mengandung benih cintanya, mana mungkin dia bisa menduakan cinta istrinya itu.


''Kalau kamu berani mengatakan hal itu lagi, aku tidak akan segan memecat mu, aku bukan kamu yang bisa dengan begitu saja menduakan cinta seseorang, asal kamu tahu, aku sangat mencintai Istri'ku, dan rasa cintaku padamu sudah menghilang seperti buih di lautan, menghilang tak bersisa,'' jawab Leo lalu berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan.


_____________--------______________


Hai reader semuanya, author mau merekomendasikan novel yang sangat bagus untuk kalian semua, untuk mengisi waktu luang kalian.


__ADS_1


__ADS_2