Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Tertarik


__ADS_3

Mata Alex masih saja menatap punggung Emillia meskipun wanita itu sudah memasuki rumah, dia bahkan mengangkat kepalanya dengan tatapan mata yang terus mengikuti kemana arah Emill melangkah.


Leo yang menyaksikan hal itu segera mengusap kasar wajah sahabatnya tersebut, hingga Alex kembali menurunkan kepalanya, lalu menggaruk rambutnya merasa malu.


''Matamu ini nanti aku colok baru tau rasa, ngeliatin-nya biasa aja dong, kayak gak pernah liat perempuan cantik aja,'' ledek Leo, membuat Alex terkekeh.


''Akh, entahlah? Dia seperti berbeda dari kebanyakan wanita yang pernah aku lihat, wajahnya anggun dan sederhana, tapi kecantikannya memancar begitu menyilaukan mata, hingga aku gak sadar kalau mataku gak berkedip sama sekali saat menatap wajahnya,'' ucap Alex sedikit tersenyum.


''Aduh ... Aduh ... Tua bangka ini, ingat umur, Alex. Kamu udah gak muda lagi, gak pantas kamu mengatakan hal romantis kayak gitu, telinga aku geli dengernya, tau ...'' ledek Leo memasukan jari kelingkingnya ke telinga.


''Ish ... Leonardo, apa kamu gak seneng melihat sahabatmu ini menyukai perempuan? apa kamu mau aku menyukai istrimu lagi? hah ...?''


''Hey ... Jangan berani-beraninya kamu melirik istriku, lagipula dia tidak akan mau sama kamu,'' jawab Leo semakin meledek.


''Tapi, Leo. Putramu itu benar-benar sudah putus sama dia 'kan?''


''Kalau kamu penasaran, kenapa gak kamu tanya saja langsung sama orangnya?''


''Kamu ini, tinggal jawab aja, iya, atau tidak. Gitu aja ko susah banget si?'' Alex kesal.


''Apa kamu beneran tertarik sama dia?''


''Ha ... ha ... ha ...'' Alex tertawa dengan sedikit dipaksakan, hanya untuk menutupi rasa malu sebenarnya.


''Sudah-sudah gak usah malu kayak gitu. Kalau kamu beneran suka sama dia, aku akan bantu kamu supaya kamu bisa ngedeketin si Emil, lagian sebagai sahabat sejati, tentu saja aku ingin melihat kamu bahagia, aku gak mau kamu mati masih dalam keadaan bujangan, ha ... ha ... ha ...'' Leo tertawa renyah.


''Dasar kurang ajar, aku sudah tersanjung mendengar ucapan kamu, eh ujung-ujungnya malah gak enak di denger. Tapi beneran ya, kamu bantu aku buat deketin dia?'' pinta Alex memasang wajah serius.


''Iya, nanti aku bantuin, tapi ingat, ada pajak-nya, ya.''


''Beres, yang penting aku bisa dekat sama dia, akan aku jadikan dia ibu sambung untuk Amora,'' jawab Alex bersungguh-sungguh.


''Tapi masalahnya, dia mau tidak sama tua bangka kayak kamu, ha ... ha ... ha ...''


''Hish ... Kurang ajar ...'' Jawab Alex merasa kesal, tapi akhirnya dia pun ikut tertawa bersama sahabatnya tersebut.


🌹🌹


Lucky kini telah berpakaian rapi, wajahnya terlihat begitu tampan mengenakan kaos oblong berwarna putih dengan celana jeans pendek, rambutnya pun terlihat basah tidak beraturan.


Ayu yang saat ini sedang duduk di dalam rumah, terkesima seketika melihat kekasihnya itu begitu tampan dimatanya.

__ADS_1


''Kamu mau kemana, udah rapi aja?'' tanya Ayu tersenyum menatap wajah sang kekasih.


''Nggak ko, aku gak akan kemana-mana. Emangnya kenapa? kamu mau kita jalan ke luar?'' tanya Lucky, duduk di samping Ayu.


''Apa boleh?''


''Tentu saja boleh, kalau kamu emang mau.''


''Hmmm ... tapi aku gak enak sama Bu Emil, gimana perasaan dia nanti kalau melihat kita pergi berdua?'' Ayu menunduk merasa bersalah.


''Kalau gak enak sama dia, kenapa kamu datang ke sini segala?'' tanya Lucky membuat Ayu menunduk seketika dengan wajah yang terlihat muram.


''Maaf, aku gak bermaksud menyakiti perasaan kamu, aku hanya-'' Lucky tidak meneruskan ucapannya.


''Nggak apa-apa, ko. Lagian emang aku yang salah telah jauh-jauh datang kemari, padahal kamu sama sekali tidak mengharapkan kedatangan aku, 'kan?''


''Nggak, bukan begitu maksud aku, Ayu.''


Lucky terdiam menunduk, karena emang sebenarnya dia sama sekali tidak mengharapkan kehadiran pacarnya itu di sana, namun, dia pun tidak ingin menyakiti perasaan Ayu dengan ucapan yang menyakitkan, mengingat bahwa, gadis itu sedang dalam keadaan labil.


Lucky pun meraih telapak tangan kekasihnya itu lalu mengusapnya pelan.


''Maaf, kalau perkataan aku menyinggung perasaan kamu. Kita jalan-jalan yu, kita berkendara mencari mencari sesuatu yang menarik, gimana?'' ajak Lucky yang langsung di jawab dengan anggukan oleh gadis itu.


''Mom ...?'' panggil Lucky sedikit menaikan suaranya.


''Ada apa, sayang. Mommy di sini,'' jawab Adelia dari arah dapur.


Lucky menghampiri sang ibu.


''Mom, aku izin keluar sama Ayu, ya?'' Ucap Lucky tidak menyadari bahwa Emillia juga berada di sana.


''Emangnya kalian mau ke mana?''


''Entahlah, cuma jalan-jalan aja nyari udara segar.''


''Ya sudah, tapi jangan pulang terlalu sore, ya. Nanti malam 'kan ada pengajian.''


''Iya, Mom. Aku gak akan lama, ko.'' Jawab Lucky langsung berbalik dan kembali ke dalam untuk menghampiri Ayu.


Amora yang juga berada di sana, mengusap punggung Emillia, dia tau pasti bahwa wanita itu semakin merasa terluka.

__ADS_1


Emill menoleh ke arah Amora lalu mencoba tersenyum, namun, senyuman yang mengembang dari bibir seorang Emil terlihat begitu hambar.


"Tante, aku boleh beristirahat sebentar, ya? Aku lelah sekali," pinta Emill.


"Tentu saja, sayang. Lagian pekerjaan sudah selesai, ko. Kamu istirahat saja," jawab Adelia tersenyum ramah.


"Kalau begitu aku masuk dulu, ya.''


Adelia mengangguk pelan.


🌹🌹


Ternyata Emillia tidak'lah beristirahat di kamarnya, dia melangkah keluar dari dalam rumah, ingin berjalan-jalan sendiri untuk mencari udara segar dan menenangkan pikiran.


Emill nampak memakai sepatu berwarna putih, lalu perlahan mulai keluar dari halaman dan berjalan pelan menyusuri gang, langkahnya terlihat gontai dan dengan kepala yang sedikit menunjuk menatap jalanan gang yang hanya beralaskan aspal tipis.


Akhirnya dia pun sampai di jalan raya, dimana sawah hijau membentang berada tepat di sebrang jalannya, tanpa berpikir panjang Emill pun melanjutkan langkahnya menyeberangi jalan hingga sampai di tepi sawah.


Baru saja dia hendak melangkahkan kakinya menuju jalan setapak yang mengarah ke sawah tersebut, tiba-tiba saja terdengar suara seorang laki-laki memanggil namanya dengan suara serak-serak basah.


''Emillia ...''


Refleks, Emil pun menoleh dan menatap laki-laki yang saat ini sedang berjalan tertatih-tatih menyebrangi jalan raya, hingga dia pun terjatuh tepat di tangah jalan.


Emil yang terkejut segera menghampiri pria itu.


"Om, Alex ...?" teriak Emill segera berlari menghampiri.


Alex yang memang memakai kaki palsu agak kesulitan untuk kembali berdiri, sampai akhirnya Emillia mengulurkan tangannya agar Alex bisa memegang tangannya itu untuk bisa berdiri.


"Makasih, Emillia," ucap Alex sesaat setelah dirinya berhasil berdiri, namun tangannya masih menggenggam erat telapak tangan Emillia.


"Sama-sama, Om. Tapi maaf, tangan saya bisa di lepaskan dulu tidak?" pinta Emillia berjalan ke tepi jalan beriringan dengan Alex.


"O iya, Maaf," jawab Alex gugup dan segera melepas genggaman tangannya.


"Om, mau kemana?" tanya Emil setelah keduanya sampai di tepi jalan raya.


"Mau ngikutin kamu," jawab Alex merasa gugup sebenarnya.


"Apa ...?"

__ADS_1


"Eu ... Maksud Om begini, karena melihat pemandangan sawah yang indah dengan udaranya yang begitu segar, Om jadi ingin pergi di ke sana, apa kamu juga hendak ke sana? Gimana kalau kita ke sana barengan? itu juga kalau kamu mau."


____________-------------_____________


__ADS_2