
Leo baru saja pulang dari kantornya, karena banyaknya pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini, membuatnya harus bekerja lembur, dan jam 9 malam baru bisa pulang.
Ceklek
Leonardo membuka pintu rumahnya, entah mengapa suasana hening dan sepi, lampu rumah pun di biarkan padam sehingga suasana rumah sedikit mencekam.
Dia melangkahkan kaki secara perlahan, dengan perasaan yang tidak enak sebenarnya, matanya menatap ke sekeliling rumah, mencari penghuninya di tengah kegelapan.
''Adelia... istriku!''
Leo memanggil seraya terus berjalan.
''Kembar, dimana kalian? Lucky...?''
Kakinya pun semakin masuk kedalam rumah, dengan perasaan yang berdebar dan jantung yang berdetak kencang, Leo memanggil ketiga anaknya.
''Axel, Axela, Lucky, kalian dimana?''
Leo terus mencari, dia bahkan membuka satu persatu kamar di rumahnya yang berada di lantai satu, namun bodohnya, karena perasaanya sedang dalam keadaan tidak enak dia pun sampai lupa menyalakan lampu di rumahnya. Alhasil, dia pun masih berjalan di kegelapan.
Setelah tidak dapat menemukan seluruh keluarganya di dalam rumah, dia pun berjalan ke halaman belakang, ke arah kolam berenang, dan di sana pun keadaan masih sama, sepi, hening, dan bahkan serasa lebih mencekam.
''Kemana semua orang?''
Ucap Leo pelan.
Lalu tidak lama kemudian.
Dor
Terdengar suara balon yang meledak tepat di depannya, dan terdengar seperti suara senapan, Leo pun terkejut seketika, dengan mata yang di bulatkan sempurna.
Setelah itu, lampu pun tiba-tiba menyala dan keluarganya keluar dari dalam persembunyian, semuanya berkumpul dan tersenyum, menatap dan berjalan ke arah Leonardo dengan kue tart di dalam genggaman Adelia sang istri.
''Happy anniversary papi...''
Ucap semua yang ada di sana.
__ADS_1
''Kalian...''
Leo manatap seluruh keluarganya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, merasa terharu. Dia pun berdiri mematung menatap, Istri dan ketiga anaknya yang berjalan dengan tersenyum semakin mendekat.
''Suami'ku, terima kasih telah menjadi suami yang baik dan setia, menemani hari-hari ku dengan perasaan bahagia, aku sungguh beruntung memiliki suami seperti dirimu, I love you, Leonardo."
Ucap Adelia berdiri tepat di samping sang suami bersama kue tart dengan lilin yang sudah menyala berada di atas telapak tangannya.
''Terima kasih, istri'ku, kamu masih mengingat hari dimana aku meminang'mu dahulu, hari dimana aku mengesahkan'mu menjadi istri'mu, aku juga berterima kasih karena kamu masih dengan setia menemani hari-hari'ku, dengan sabar dan memberiku kebahagiaan, terutama terima kasih karena telah melahirkan ketiga anak kita yang berharga ini,'' Leo mengecup kening istrinya.
''Tiup lilinnya... Tiup lilinnya... Tiup lilinnya sekarang juga... Sekarang juga... Sekarang juga...'' ketiga anaknya pun bernyanyi serentak.
Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, dan perasaan terharu yang kini memenuhi hatinya, Leo dan Adelia pun meniup lilin secara bersamaan, diiringi suara riuh tepuk tangan dari ketiga anaknya.
Adel menyerahkan kue tart kepada Axela putri'nya, dan dengan segera dia memeluk tubuh Leonardo, suami tercintanya, memeluk dengan begitu erat, seraya membisikan Berkali-kali ucapan rasa cinta dan rasa syukur yang tidak terhingga.
Begitupun dengan Leo, dia mengusap rambut istri'nya, seraya mengecup pucuk kepala'nya, dan mengucap kata cinta dengan mata yang di pejamkan.
Setelah mereka melepaskan pelukan masing-masing, satu kecupan pun mendarat di bibir masing-masing.
"Ikh, papi, gak sopan cium-cium mommy di depan anak kecil," ujar Axela menutup mata Lucky sang adik dengan telapak tangan'nya.
''Lepasin, aku bukan anak kecil lagi, kenapa Kaka selalu bilang aku ini anak kecil? aku udah gede, umur aku udah 15 tahun, tau...?'' Lucky mengerucutkan bibir sensualnya.
''Apaan, emang kamu masih kecil ko, bagi Kaka kamu masih tetap anak kecil yang harus Kaka jaga, oke ...'' jawab Axela tidak mau mengalah.
''Sudah, Lucky, Al... kalian merusak kebahagiaan papi sama mommy, kalau bertengkar kayak gitu,'' Axel turun tangan melerai.
''Weee...!''
Lucky menjulurkan lidahnya meledek sang Kaka, membuat Axela kesal lalu mengejar adiknya tersebut.
''Sini kejar anak kecil ini sekarang,'' ujar Lucky seraya berlari mengelilingi kolam renang.
''Sini kamu, anak kecil, awas aja kalau dapat.''
Keduanya pun saling berkejaran, membuat Leo dan juga Adelia tertawa bahagia melihatnya, begitu pun dengan Axel, sang anak sulung, hanya bisa menggelengkan kepala, melihat kedua adiknya saling berlari dan tertawa mengejar satu sama lain.
__ADS_1
Sepertinya, hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi Leo dan juga Adelia, di Anniversary pernikahan yang ke 20 tahun ini, keduanya di kelilingi oleh anak-anak yang sangat mereka sayangi.
***
Keesokan harinya.
Axel, tertidur di kelasnya, karena semalam mereka merayakan pesta bersama kedua orang tuanya dan juga adik-adiknya sampai larut malam, membuatnya masih merasakan ngantuk yang teramat sangat.
Remaja berusia 17 tahun itu, memejamkan mata di atas meja di dalam kelasnya, rambutnya terlihat sedikit berantakan dan seragam putihnya sedikit terbuka kancing atasnya.
Aldo salah satu sahabat sekaligus teman sebangku nya menghampiri dan mengejutkan dirinya hingga dia pun terbangun seketika.
''El...! bangun... udah saat'nya jam belajar.''
Axel mengangkat kepalanya, matanya masih sedikit terpejam, dia pun merentangkan kedua tangannya, seraya menguap lalu mengusap kedua matanya.
''Selamat pagi anak-anak...''
Terdengar samar-samar di telinga Axel suara lembut wali kelas yang saat ini sudah berdiri di depan kelas, berdiri dengan seorang siswi yang seperti'nya siswi baru di kelas 11 menengah atas tersebut.
''Hari ini kita kedatangan siswi baru, pindahan dari Amerika serikat, silahkan perkenalkan diri kamu.''
Wali kelas yang bernama ibu Lisa itu mempersilahkan siswi cantik berambut pirang tersebut untuk memperkenalkan diri.
''Selamat pagi kawan-kawan, perkenalkan nama saya, Amora Patricia, pindahan dari salah satu sekolah ternama di Amerika serikat.''
Semua siswa dan siswi menatap dengan seksama, wajah cantik Amora yang terlihat bak Barbie hidup dengan rambut panjang pirang serta bola mata berwarna abu-abu layaknya wanita bule, kulitnya yang putih seolah menyempurnakan kecantikan Amora, siswi pindahan dari Amerika tersebut.
Axel, menyipitkan matanya, dirinya yang baru saja terbangun dari tidur mencoba menjernihkan pandangannya, dengan terus mengusap kedua mata bulatnya, dengan menatap wajah siswi baru yang masih terlihat samar-samar di matanya.
''Saya harap kita semua bisa akur dan berteman baik, apabila ada yang ingin di tanyakan, silahkan bertanya langsung kepada saya,'' Amora kembali berucap.
Salah satu siswa pun mengangkat tangannya ke atas, berniat bertanya.
''Amora, kamu cantik sekali, siapa nama orang tua'mu? apakah mereka asli orang Amerika, apakah dari Indonesia juga?''
''Pertanyaan yang bagus kawan, ayah saya asli Indonesia, bernama Alex Will, dan kami hanya hanya tinggal berdua.''
__ADS_1
____________----------______________