
Ayu yang saat ini sedang memeluk Tante Adelia seketika terkejut mendengar suara sang ayah yang menggelegar keras hingga suaranya memantul di dinding ruangan luas itu.
Semua yang ada di sana pun berdiri serempak menatap ke arah Revan yang saat ini sedang berjalan mendekat dengan tatapan mengarah tajam ke arah putrinya.
''A-yah ...?'' lirih Ayu.
Dia mengigit ujung kuku jari jempolnya, dengan tangan lain yang menggenggam erat pergelangan tangan ibu dari kekasihnya itu, ayu bahkan bersembunyi di balik tubuh Adelia, benar-benar merasa ketakutan.
''Om Revan ...?''
Lucky berjalan dan berdiri di depan memasang badan untuk melindungi ketiga wanita yang sangat disayanginya itu.
''AYU ... APA KAMU TIDAK DENGAR, CEPAT PULANG SEKARANG JUGA, ANAK NAKAL ...'' teriak Revan semakin mendekat.
Wajah Ayu terlihat pucat pasi, tubuhnya bergetar hebat, gemeletuk gigi pun terdengar seperti orang yang kedinginan. Adelia yang berada di samping Ayu pun, mengusap lembut punggung tangan Ayu, mencoba menenangkan, seolah berkata 'jangan takut'.
''Tenang, Om. Om bisa bicarakan ini baik-baik, jangan sakiti Ayu, aku mohon ...'' pinta Lucky.
''Kamu ...? jangan berani ikut campur sama urusan keluarga Om, ya. Mau Om apakan dia, terserah Om karena dia putri Om, menyingkir kamu, jangan halangi jalan Om ...'' geram Revan yang saat ini sudah berada tepat di depan Lucky.
''Nggak, aku gak akan biarkan Om menyiksa Ayu,'' Lucky merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
''Berani kamu sama Om, hah ...''
Revan melayangkannya tangannya ke udara hendak menghantam. Namun, tiba-tiba saja terdengar suara Leonardo menggelegar geram berjalan dari arah pintu.
''HENTIKAN BRENGSEK, SEDANG APA KAMU DI RUMAHKU? APA KAMU SENGAJA MENGANTARKAN NYAWAMU PADAKU, HAH ...?'' teriak Leo, berjalan dengan Gabriel di belakangnya.
''Heuh ...'' Revan mendengus kesal, lalu berbalik menatap wajah pemilik rumah, dan menghempaskan tangannya kesal.
''Akhirnya kamu datang juga Leonardo. Kamu sudah merebut anak buah terbaik aku dan menjadikan dia menantu-mu, apa sekarang kamu juga ingin mengambil satu-satunya putriku dan menjadikan dia menantu-mu juga, hah ...'' teriak Revan geram.
''Siapa maksud kamu?'' Leo mengerutkan keningnya.
''Siapa lagi, gadis yang di sana itu adalah putriku. Cuih ... aku gak Sudi berbesanan denganmu.''
__ADS_1
''Maksud kamu si Ayu itu? dia putrimu?'' Leo semakin mengerutkan kening, karena dia memang benar-benar baru tahu hal ini.
''Betul ... Dia putriku, dan aku ke sini untuk membawa dia pulang, aku akan memasukan dia ke pasti rehabilitasi sekarang juga.''
''Panti Rehabilitasi ...?'' Leo semakin terkejut.
''Kenapa? apa kamu kaget? putriku benar-benar luar biasa 'kan? dia seorang pecandu berat, dia sama sekali gak cocok berpacaran dengan putramu, jadi suruh putramu ini untuk menyingkir, dan jangan halangi jalan aku,'' jawab Revan, menatap tajam ke arah Lucky yang saat ini sudah terlihat pucat pasi.
''Nggak, Yah. Aku gak mau ke sana ... hiks hiks hiks ...'' teriak Ayu menangis sesenggukan.
''DASAR ANAK TIDAK TAU DIRI, CEPAT IKUT AYAH SEKARANG JUGA ...'' Revan berjalan mendekat dan menghempaskan tubuh Lucky kasar, membuat pemuda itu hampir saya tersungkur.
Dengan kasar, Revan meraih pergelangan tangan Ayu, dan menariknya, Adelia yang saat ini berada di samping Ayu pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena dirinya sama sekali tidak memiliki kuasa apapun untuk melarang Revan membawa putrinya.
Lucky yang menyaksikan hal itu, segera berdiri dan hendak menolong kekasihnya itu dari cengkeraman kasar tangan Revan, namun, Gabriel menahan dan memegangi tubuh Lucky erat.
''Om ... Aku mohon, jangan perlakukan Ayu seperti itu, jangan sakiti dia, Om ... hiks hiks hiks ...'' pinta Lucky gak bisa menahan lagi tangisnya.
Revan tidak menjawab, kini tangannya menyeret tubuh Ayu secara paksa, tidak menghiraukan teriakan Ayu bahkan tangisan pilu yang keluar dari bibir mungil putrinya tersebut.
''Diam kamu anak nakal,'' jawab Revan semakin menguatkan cengkraman tangannya.
Leo yang juga ada di sana sama sekali tidak melakukan apapun, karena sebenarnya dia pun tidak Sudi kalau putranya harus berpacaran dengan anak dari musuhnya itu, meski merasa iba melihat Ayu diperlakukan dengan kasar, hatinya tetap menolak untuk menerima Ayu yang juga merupakan seorang pecandu berpacaran dengan Lucky, putra bungsunya.
''Pap ... Kenapa Papi diam saja, tolong Ayu, Pap. Dia bisa mati di tangan Om Revan ...'' teriak Lucky menatap iba wajah Ayahnya.
''Bukan urusan kamu, jangan ikut campur dengan urusan mereka, mau mati atau apapun, kamu gak ada hubungannya dengan dia,'' teriak Leo, untuk pertama kalinya dia membentak sang putra.
Lucky tidak terima, dia berontak dari dekapan Gabriel, tubuhnya di gerakkan sedemikan rupa agar dia bisa terlepas dari cengkraman tangan kakak iparnya tersebut, namun, usahanya sia-sia karena tenaga yang dia punya sama sekali tidak ada apa-apanya dengan kekuatan yang di miliki Gabriel.
''Cepat bawa dia ke kamarnya,'' pinta Leo kepada Gabriel.
''Baik, Pap ...'' jawab Briel, hendak membawa Lucky.
''Sayang, kamu gak punya perasaan banget si? apa kamu gak kasian sama putra kita ini?'' teriak Adelia kesal.
__ADS_1
''Bukan seperti itu maksud aku, sayang, aku hanya-'' Leo tidak meneruskan ucapannya.
Lucky yang akhirnya memiliki celah untuk melarikan diri akhirnya menghantam keras perut Gabriel, hingga lingkaran tangannya sedikit melonggar dan Lucky langsung menghempaskan kasar kedua tangan kakak iparnya itu.
Lucky segera berlari ke arah luar, berlari kencang hendak mengejar Revan yang masih menyeret Ayu dengan kasar.
''OM REVAN, AKU MOHON JANGAN BAWA AYU, OM. AKU JANJI AKAN MEMBANTU DIA UNTUK SEMBUH ...'' teriak Lucky diiringi dengan suara tangisan yang terdengar pilu.
''Tolong aku, Luck ... Tolong ... hiks hiks hiks ...'' teriak Ayu mengiba, dengan bening kristal yang terus berjatuhan membasahi pipinya tirusnya.
Gabriel dan Leo segera berlari ke arah Lucky, keduanya memegang tangan Lucky kuat, yang saat ini hampir saja sampai di tempat dimana Ayu di seret.
''Lepaskan aku, Pap ... Kak ... LEPASKAN ... hiks hiks hiks ...'' teriak Lucky berontak.
''Ayu ... hiks hiks hiks ...''
Tangis Lucky benar-benar menggelegar dan terdengar pilu, membuat Leo dan juga Gabriel merasa iba sebenarnya, karena baru kali ini mereka melihat Lucky yang merupakan anak paling pintar, menangis sesenggukan benar-benar terlihat begitu terpuruk.
Sampai akhirnya, tanpa ampun atau melonggarkan cengkraman tangannya, Revan membuka pintu mobil dan membanting tubuh Ayu ke dalam mobil, rintihan dan tangisan Ayu pun dia abaikan.
''Jangan sakiti Ayu, Om. Kasian dia ... hiks hiks hiks ...'' rengek Lucky, tubuhnya terasa lemas.
Tanpa sepatah katapun, Revan masuk ke dalam mobil, DNA segera menyalakan mobil lalu melaju kencang, meninggalkan halaman luas kediaman musuhnya tersebut.
Bruk ...
Lucky pun ambruk di atas teras seketika, tubuhnya benar-benar terasa lemas, dengan air mata yang terus saja bergulir membasahi wajahnya.
''Untuk pertama kalinya, aku kecewa sama Papi, Papi benar-benar tidak punya perasaan, kenapa Papi gak nolongin dia, Hah ... hiks hiks hiks ...'' lirih Lucky menunduk, merasakan kesedihan yang teramat dalam.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Promosi Novel
__ADS_1