Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Direktur Utama


__ADS_3

Angel sengaja membisikan kata-kata tersebut untuk mengancam mantan kekasihnya, agar dia tidak di pecat dan bisa terus berdekatan dengan Laki-laki yang masih di cintai'nya itu.


Benar saja, Leo terlihat membulatkan bola matanya merasa terkejut dengan apa yang baru saja di bisikan oleh Angelina, dia memutar kepala dan menatap ke arah gadis itu dengan tatapan tajam.


''Kamu tahu kan aku seorang mafia berhati kejam? kamu juga tahu bahwa aku tidak segan membunuh siapapun yang mengusik ketenangan hidupku?'' tanya Leo merasa geram.


Angel bersikap setenang mungkin, meski sebenarnya hati nya merasakan ketakutan. Namun wajahnya terlihat biasa saja seolah bisa dengan lihainya menyembunyikan ketakutan yang saat ini menyelimuti hatinya.


''Apa...? kamu mau membunuh aku? hah...'' tanya Angel meninggalkan suaranya.


Leo mengetahui dengan jelas bahwa mantan kekasihnya itu memiliki sifat tempramental yang tinggi, dan apabila dia sudah marah seperti itu Angel akan hilang kendali.


Leo memijat pelipis kepalanya yang sebenarnya tidak merasa pusing sama sekali. Dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, mencoba untuk menahan diri meski hatinya sudah merasa kesal sekarang.


''Baiklah, kau tidak akan aku pecat, tapi ingat, kamu harus menjaga sikap dan memiliki batasan, karena kita bukan sepasang kekasih lagi sekarang, dan aku sudah memiliki istri, hubungan kita hanya sebatas pekerjaan, apa kamu mengerti?'' ucapnya menyerah, karena tidak ingin melihat Angel semakin marah.


Angel pun tersenyum senang, perasaannya yang semula ketakutan kini berangsur tenang, dia pun kembali duduk di kursi, tersenyum menatap wajah sang mantan.


''Satu lagi yang aku minta darimu, Angelina. Jangan sampai kau membocorkan tentang pekerjaan aku yang sebenarnya kepada istriku, jika kau melakukannya, maka kau akan tahu sendiri akibatnya, mengerti...?'' ucap Leo penuh penekanan.


''Iya, aku janji. Jadi benar dia belum tahu siapa kamu sebenarnya?'' tanya gadis itu penasaran.


Leo menatap wajah Angel dengan tatapan tajam, wajahnya pun terlihat datar.


''Mau aku pecat sekarang juga?'' ancam Leo.


''Baik, Leonardo,'' jawab Angel berdiri lalu hendak pergi.


''Jangan panggil namaku seperti itu, karena sekarang aku adalah atasanmu, maka panggil aku dengan sebutan 'BAPAK LEONARDO' ingat, harus ada kata 'Bapak' di depannya, jangan pernah memanggilku dengan panggilan yang biasa kamu ucapkan sewaktu kita masih pacaran, karena aku bukan siapa-siapa aku lagi,'' ujar Leo dengan penuh penekanan, dan hanya di jawab oleh Angel dengan anggukan serta mata yang sedikit di juling kan.

__ADS_1


Kemudian dia pun keluar dari dalam ruangan direktur dengan perasaan kesal, lalu duduk di kursi sekertaris yang terletak tepat di samping pintu ruangan tersebut.


____------____


Pukul empat sore Leonardo sudah bersiap untuk pulang, dia bangkit dari duduknya lalu merentangkan kedua lengannya, ternyata pekerjaan sebagai direktur tidaklah semudah yang di bayangkan, karena ini kali pertamanya bekerja, maka dia harus mempelajari satu-persatu proyek yang sedang di kerjakan oleh perusahaannya.


Tiba-tiba saja dia teringat akan mendiang sang ibu, tuduhnya terasa lemas dan kembali duduk di kursi direktur, mengingat sosok ibu membuatnya merasa kagum dengan sosok yang kini telah tiada.


Bagaiman tidak? sang ibu yang merupakan seorang perempuan, mampu memimpin perusahaan besar tanpa bantuan dari dirinya yang merupakan putra satu-satunya yang beliau punya, tanpa terasa matanya penuh dengan buliran air mata, dan satu-persatu mulai berjatuhan membasahi rahang lembarnya.


Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, ketika ketukan pintu tiba-tiba saja terdengar.


Trok


Trok


Trok


''Kamu kenapa? Eu... maksud saya Bapak kenapa menangis?'' tanya Angel menatap sayu ke arah Leo.


''Tidak ko. Apa kemari? bukankah sudah waktunya jam pulang?''


''Aku kemari sengaja ingin menunggu Bapak pulang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, mengenai mendiang ibumu,'' jawab Angel membuat alasan.


''Apa maksudmu?''


''Apakah kamu tidak penasaran bagaimana kondisi ibumu setelah kau hilang dan lama tidak pulang?''


Leonardo terdiam, hatinya yang sedang dalam keadaan galau semakin terasa menyakitkan, saat kembali mengingat mendiang sang ibu, dia bahkan tidak menemani saat-saat terakhir beliau, bahkan cenderung menghilang sampai nyawanya direnggut begitu saja secara kejam.

__ADS_1


Padahal andai saja dia langsung pulang saat ingatannya sudah kembali waktu itu, mungkin saja dia bisa melindungi sang ibu dan kejadian nahas tidak akan menimpa wanita yang sangat di sayangi'nya itu.


''Apakah kamu baik-baik saja?'' tanya Angel membuyarkan lamunan.


''Haaah... iya, maaf aku sedang benar-benar merindukan ibuku,'' jawabnya mengusap buliran air mata yang tanpa sadar terus berlinang.


''Bolehkah aku duduk?'' tanya Angel yang sedari tadi hanya berdiri.


''Ok... duduklah...''


''Sejujurnya, kondisi Tante Liana sangat menyedihkan saat kau menghilang waktu itu, dia menghabiskan waktunya di dalam kamar, melamun memikirkan dirimu, beliau bahkan jarang datang ke kantor dan menyerahkan urusan pekerjaannya kepadaku. Tanpa di sangka putranya malah sedang bersenang-senang dengan wanita kampung, sampai menikah pula,'' ujar Angel dengan nada suara penuh cibiran di akhir ucapannya.


Leo mematung seketika, sejenak hatinya berfikir bahwa, apa yang menimpa ibunya adalah kesalahan dirinya, seharusnya dia langsung pulang sewaktu ingatannya sudah kembali waktu itu.


Dia menangis sesenggukan seraya menunduk pilu serta merasakan sesak di dadanya.


''Maafkan aku, Bu. Semua ini gara-gara aku, ibu tiada karena salahku, hiks hiks hiks,'' ucapnya pelan di sela-sela tangisnya.


Angel hanya bisa menatap iba, dia tidak tahu harus berbuat apa, dan baru kali ini juga dia melihat serta menyaksikan seorang Leonardo yang selalu terlihat kuat, kini sedang menangis sesenggukan.


''Apa ada hal lain lagi yang sempat dia katakan, saat aku belum kembali ke sini?'' tanya Leo, mengangkat kepala dan menatap wajah sekretarisnya.


''Beliau tidak terlalu banyak bicara, hanya saja, setiap hari dia selalu menatap ponselnya, berharap jika kamu akan memberi kabar, meski hanya sekedar mengirim pesan, namun harapannya sia-sia sampai ajalnya datang, tanpa bertemu kembali dengan putra kesayangannya, apakah kamu tahu bagaimana sedihnya dia? hah...''


Leo tidak menjawab, dia memegangi dadanya yang mulai terasa sesak dengan air mata yang terus membasahi pipinya, dia pun kembali menangis tersedu-sedu dengan suara tangis yang terdengar pilu.


Angel bangkit dan menghampiri, dia berdiri tepat di samping Leo dan meraih kepalanya memeluknya mencoba menenangkan, tanpa sadar Leo yang sedang dalam keadaan terpuruk, seperti hanya terdiam saat kepalanya di sandarkan di perut ramping sekretarisnya tersebut dan menangis sejadi-jadinya.


Sampai akhirnya pintu pun di buka dan tanpa di sangka Adelia masuk ke dalam sana bersama Ryan yang merupakan supir pribadinya, menatap ke arah sang suam yang terlihat sedang memeluk seorang wanita.

__ADS_1


___________--------___________


__ADS_2