Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Berbohong


__ADS_3

Sementara itu, di kediaman Leonardo.


Leo mengumpulkan anak-anak'nya si ruang keluarga, Lucky dan juga Axel, semua yang ada di sana terlihat panik karena Axela sampai saat ini masih belum juga pulang, sementara malam sudah semakin larut.


Khawatir dan cemas itulah yang di rasakan oleh semua'nya, terutama Adelia, sang ibu. Dia bahkan menangis sesenggukan mengingat putri kesayangannya tersebut tidak pernah pulang sampai larut malam apalagi sampai menginap di luar.


''Cepat katakan apa yang terjadi, mengapa adikmu sampai hilang Axel? bukankah biasanya kalian selalu bersama?'' tanya Leo.


''Tadi kami memang pulang bareng, Pih... mobil dia berada tepat di belakang mobil aku, tapi dia tiba-tiba saja hilang, aku telpon juga gak di angkat,'' jawab El, lirih merasa sedih.


''Kok bisa begitu?''


''Aku juga tidak tahu, maaf karena tidak bisa menjaga saudara aku dengan baik, sebagai anak paling besar aku sungguh merasa bersalah dan tidak ada gunanya.''


''Jangan menyalahkan diri seperti itu, Abang. Kita positif tingking saja, siapa tahu dia lagi nginep di rumah temannya, terus ponselnya low bet, atau mungkin saja sekarang dia sedang dalam perjalanan pulang, kita tunggu saja sebentar lagi,'' Lucky, anak paling cerdas mencoba menenangkan keluarga'nya.


''Baiklah, kita tunggu sampai dia pulang, El, coba kamu telpon dia lagi.''


''Baik, Pih...!''


Baru saja El hendak menelpon, tiba-tiba saja ponselnya berdering, dia menatap layar ponsel miliknya lalu tersenyum senang karena orang yang sedang di bicarakan akhirnya menelpon juga.


''Halo... Al...! kamu dimana?'' El mengangkat telpon.


''Maaf, karena aku baru bisa memberi kabar, tadi ponselku low bet, El, bisakah aku bicara sama mommy dan papi?''


''Sebentar, aku berikan ponselnya ke mommy, kebetulan beliau memang sedang berada di sini, kita semua cemas, Al...''


Axel pun segera memberikan ponsel miliknya kepada sang ibu.


''Halo sayang, kamu dimana? mommy cemas sekali, mengapa sudah larut malam begini kamu belum juga pulang?'' tanya sang ibu, terdengar lirih merasa sedih.


''Maaf, mom. Sudah membuat kalian semua cemas, malam ini sepertinya aku akan menginap di rumah teman, di luar kota.''


''Hah...! luar kota? dimana? mengapa mendadak sekali?''


''Tadi teman aku ada yang meminta tolong untuk di antar'kan ke rumah neneknya, karena merasa kasihan aku terpaksa mengantarkan dia, sebenarnya aku tidak berniat untuk menginap dan akan segera pulang setelahnya, namun tiba-tiba saja di sini hujan besar sekali, sudah malam pula, jadi daripada nanti terjadi apa-apa di jalan, lebih baik aku menginap, kan?'' Jawab Al berbohong.


''Kamu baik-baik saja kan, nak? kamu tidak berbohong sama mommy, kan?''


''Tidak mom...''


''Sini berikan ponselnya padaku,'' Leo mengambil ponsel yang di pegang istrinya.


''Halo, sayang. Kamu dimana? papi jemput kamu sekarang, ya?''


''Nggak usah, Pih. Sudah malam, kasian papi pasti cape habis bekerja seharian di kantor.''

__ADS_1


''Tapi kamu benar-benar baik-baik saja kan?''


''Iya, aku baik-baik saja, sungguh. Kalian nggak usah khawatir, aku janji aku akan segera pulang.''


''Baiklah kalau begitu? kamu jaga diri baik-baik, ya. Jangan berbuat yang macam-macam, oke.''


''Iya, papi. Aku janji tidak akan macam-macam.''


Keduanya pun menutup telpon.


***


''Gimana? apa keluarga kamu mengijinkan kamu menginap di luar?'' tanya Gabriel, sesaat setelah Axela menutup telpon.


''Iya, aku merasa bersalah karena telah berbohong kepada mereka,'' Al menunduk merasa sedih.


''Apa kamu mau pulang saja? aku antar ya.''


''Nggak usah, aku tidak mau membuat mommy sama papi sedih melihat aku dalam keadaan terluka seperti ini.''


Gabriel terdiam, menatap wajah Axela yang terlihat muram, ada rasa bersalah yang terselip di dalam relung hatinya, andai saja mereka tidak bertemu hari ini, mungkin saja gadis remaja cantik ini tidak akan terluka.


''Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat saja di kamar, biar aku tidur si sini, ya...!''


Al menggelengkan kepalanya.


''Lho, kenapa? apa kamu ingin tetap tidur di sini, sementara aku yang di kamar?''


''Atau kamu mau kita tidur berdua di kamar?''


Al pun menggelengkan kepalanya untuk ketiga kalinya.


''Lalu...?''


''Aku lapar...'' lirih Al memegangi perutnya.


Gabriel pun tertawa renyah, dengan mata uang sedikit di sipit'kan dan bibir yang mengembang begitu lebar.


''Ha... ha... ha...! Kenapa tidak bilang dari tadi?''


''Kamu nggak nanya...''


''Ya sudah, kamu mau makan apa? nasi goreng? nasi Padang? Ayam goreng atau apapun yang kamu mau akan aku belikan...''


''Hmmm... Aku mau pizza...''


''Pizza...? malam-malam begini mana ada pizza, semua Restoran pasti sudah tutup.''

__ADS_1


''Terus apa dong? aku gak pernah makan makanan yang tadi kamu sebutkan itu.''


''Serius...?''


Al menganggukan kepalanya.


''Nasi Padang belum pernah makan?''


''Belum...''


''Wah... memangnya makanan orang kaya biasanya apa?''


Al terdiam dengan sedikit cengengesan.


''Coba makan nasi Padang deh, kebetulan di sekitar sini ada Restoran Padang yang buka 24 jam, aku beliin sebentar ya.''


Al mengangguk pelan, meski tidak yakin bahwa dia akan suka dengan makanan tersebut.


Gabriel pun bangkit lalu berdiri dan berjalan.


''Tunggu...! apa kamu punya uang?"


"Tentu saja."


"Aku tidak mau menyusahkan kamu, kamu bisa pakai uang aku, aku punya banyak uang ko..."


"Emangnya pelajar seperti kamu punya uang berapa?"


"Banyak deh pokoknya, tiap bulan papi aku selalu memberikan jatah bulanan buat aku."


Al meraih tas sekolah'nya, lalu mengeluarkan dompet dan mengintip isinya, dia mengambil beberapa lembar 50 ribuan lalu memberikannya kepada Gabriel.


''Tidak usah, kamu simpan saja uang ini untuk jajan kamu di sekolah, ya. Asal kamu tahu, aku juga punya banyak uang, jangan mentang-mentang aku tinggal si kontrakan sempit seperti ini, bukan berarti aku miskin dan tidak punya uang.''


Briel menolak pemberian Al.


''Baiklah, kalau begitu. Aku berjanji akan mentraktir'mu nanti.''


Al tersenyum memasukan kembali uang miliknya ke dalam dompet.


''Kamu tunggu sebentar di sini, aku tidak akan lama. Oke...''


Al mengangguk lalu tersenyum.


Gabriel pun berjalan keluar dari dalam kontrakan, meninggalkan Axela sendiri di dalamnya.


Sejujurnya, ini baru pertama kali bagi gadis cantik putri dari Leonardo tersebut, menginap di luar rumah bersama seorang Pria, entah apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya hingga dia dengan beraninya melakukan hal seperti ini, dia juga sampai berani berbohong kepada keluarga'nya, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

__ADS_1


Apakah mungkin sebenarnya dia sedang jatuh cinta? Entahlah, hanya tuhan yang tahu, yang jelas seperti'nya dua malam ke depan akan menjadi malam yang panjang bagi Axela dan juga Gabriel.


___________---------_____________


__ADS_2