
Leo berjalan semakin mendekat, dengan raut wajahnya memendam rasa kesal, rahangnya terlihat mengeras dengan mata yang sedikit memerah, menahan amarah.
''Dengan. siapa kamu di sini?'' tanya Leo sesaat setelah dirinya sampai.
''Kami hanya bertiga, berlima sama si kembar, ada apa denganmu? kenapa wajahmu seperti itu?'' Adel mengerutkan keningnya.
''Beneran hanya sama mereka saja? tidak ada orang lain lagi?''
''Maksud kamu apa?'' Adel semakin merasa heran.
Leo duduk di kursi kosong, dia meneguk air putih yang memang sudah tersedia di atas meja, meneguk'nya sampai gelas itu terlihat kosong, membuat Adel semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya tersebut.
''Leonardo...! ada apa denganmu? kamu benar-benar membuatku bingung,'' Adel sedikit menaikan suaranya.
''Apa kamu bertemu dengan seseorang? terus kamu di Poto segala oleh dia, tersenyum lagi.''
Adelia termenung, dia mencoba mencerna perkataan yang lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan baginya.
''Maksud kamu bertemu dengan Alex? bukankah dia sahabat'mu?'' Adelia bertanya dengan alis yang saling ditautkan.
''Benarkan...?''
''Iya, memang benar, tapi kami tidak melakukan apapun, kami hanya saling menyapa, tidak lebih dari itu, aku bahkan tidak tahu dia memotret'ku.''
Leo menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, mencoba menenangkan perasaan'nya, menata kembali hatinya yang sempat terasa terbakar. Raut wajah sang istri yang sudah terlihat seperti menahan emosi membuat Leo sedikit tersadar bahwa dia harus sedikit menekan kemarahan.
''Maaf, karena aku sudah bersikap seperti tadi,'' Leo menunduk merasa menyesal.
Adelia menggeser kursi ke tempat yang lebih dekat dengan suaminya, dia menatap wajah suaminya, masih dengan tatapan heran dan rasa tidak mengerti.
''Ada apa? jujur sama aku?'' tanya Adelia, menatap dengan tatapan tajam.
''Aku minta maaf.''
''Aku tidak butuh permintaan maaf'mu, aku hanya ingin kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu?''
''Tidak, ko. Aku tidak apa-apa, kalian sudah pesan apa? ko makanan'nya belum ada?'' tanya Leo mencoba mengalihkan pembicaraan.
''Jangan mengalihkan pembicaraan. Mirna, Wina... bisakah kalian tinggalkan kami sebentar,'' pinta Adel kepada kedua baby sitter'nya.
''Baik, Nyonya...'' jawab keduanya secara bersamaan.
Namun, ketika Wina hendak melangkah, tiba-tiba saja Baby Al menangis entah mengapa.
__ADS_1
''Sini, biarkan baby Al bersamaku,'' Adel meraih putrinya, dan menggendongnya.
''Sayang, ini mommy, cup cup...''
Tidak lama kemudian baby Al pun tenang di dalam pangkuan Adelia.
''Cepat, ceritakan padaku, ya...'' Adel kembali duduk di kursi semula.
''Sebenarnya...! Eu... aku malu menceritakannya,'' Leo menunduk lesu.
''Apa...? kamu mau, aku marah?''
''Tidak, jangan marah, aku lebih baik bertarung melawan penjahat daripada melihatmu marah.''
''Ya sudah, cepat katakan, jangan bertele-tele.''
''Sebenarnya Alex itu bukan sahabat'ku, melainkan musuh terbesar'ku.''
''Apa...? jadi selama ini kamu punya musuh? kamu bilang bahwa kamu akan meninggalkan dunia mafia? kamu berbohong?''
''Tidak, aku memang sudah lama meninggalkan dunia itu, tapi Alex masih menyimpan dendam yang sangat mendalam kepada'ku, dia bahkan berkata terang-terangan bahwa dia menyukai dirimu, dan berniat akan merebut kamu, istriku, dari aku,'' jelas Leo menatap wajah istrinya.
''Ha... ha... ha...! Apa kamu pikir cintaku se'dangkal itu? hah...?''
''Leonardo... ! suami tampan'ku, mana mungkin aku tertarik kepada pria lain, apalagi pria seperti Alex, dari penampilannya saja dia kalah dari kamu, kecuali...'' Adel tidak meneruskan ucapannya, membuat Alex mengerutkan keningnya.
''Kecuali apa ...?'' Leo sedikit kesal.
''Kecuali kalau ada pria yang ketampanan'nya seperti song Jong Ki Oppa...!'' Adelia dengan sedikit bercanda.
''Siapa itu, song Jong Ki oppa? dimana rumahnya? biar aku datangi rumah'nya dan berbicara dengannya agar dia tidak mendekati kamu, hah...''
''Ha... ha... ha...! kamu nggak akan tahu, karena rumahnya jauh banget.''
''Gak apa-apa, biarpun jauh akan aku datangi,'' Leo memasang wajah serius, membuat Adelia merasa geli saat melihat'nya.
''Di Korea... sanggup kamu pergi ke sana?''
''Korea...? kamu bercanda?''
''Tidak, aku memang ngefans ko sama dia, wajahnya tampan, kulitnya putih seputih susu, jago berakting pula,'' jawab Adelia dengan tersenyum dan membayangkan wajah artis Korea idolanya.
''Hmmm...! Dasar, dia kan artis Korea, lagipula ketampanan aku juga nggak kalahnya dengan artis Korea, kan... kan...'' Leo dengan sikap narsisnya.
__ADS_1
''Iya... iya... Oppa, kamu juga tampan, meski tidak setampan song Jong Ki Oppa, tapi kamu tetap Leo Oppa, suami mafia tampan ku...'' Adelia meletakan satu telapak tangannya di pipi sang suami.
''I love you, honey..''
"I love you to, Oppa..."
Keduanya pun melayangkan kecupan kecil di bibir masing-masing, tidak menghiraukan sama sekali ketika kedua baby sister'nya saat ini sedang memandang dua majikan'nya dengan tatapan iri, dan saling berbisik satu sama lain.
''Mereka romantis sekali, ya? baru saja terlihat bertengkar, eh sekarang udah bermesraan lagi, pake cium-cium tipis gitu, lagi... Duh... bikin gemes deh...'' ucap Mirna, menatap majikannya dengan tatapan iri.
''Bener sih, tapi kamu jangan terlalu iri sama mereka, bisa-bisa nanti kamu menginginkan hal yang seharusnya bukan milik kamu,'' jawab Wina.
''Nggak, aku malah suka melihat mereka seperti itu, dan seperti'nya aku akan merasa sangat sedih jika mereka berantem atau pun berpisah, sungguh...''
''Beneran...?''
Mirna menganggukkan kepalanya.
''Mudah-mudahan mereka langgeng sampe kakek nenek ya, dan sampai maut memisahkan mereka.''
''Amin...!''
***
Makanan pun tiba, Adel memanggil kedua baby sister'nya untuk makan di meja yang sama.
''Wina, Mirna, mari makan di sini?''
''Tidak Nyonya, kami makan di sini saja, mari baby Al saya gendong, biar Nyonya bisa makan dengan tenang.''
Mirna berjalan menghampiri, dan meraih baby Al ke dalam gendongannya.
''Terima kasih ya, Mir...'' ucap Adel berterima kasih.
''Sama-sama Nyonya...''
Leo dan Adelia pun menyantap makanan yang masih terlihat hangat, sementara Mirna dan Wina mereka makan di meja yang berbeda.
Tanpa mereka sadari bahwa ada sepasang mata yang sedang menatap keduanya dari kejauhan, menatap dengan pandangan yang penuh rasa iri, dengan kedua tangan yang di kepalkan menahan rasa geram.
__________----------__________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya reader agar Author semangat update.
__ADS_1