Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Hamil


__ADS_3

Adel duduk lemas di depan toilet, kepalanya terasa sangat pusing, dengan mulut yang terasa begitu pahit, dia meraba perutnya yang serasa mengeras.


Otaknya mulai berfikir keras tentang, kapan terakhir kali dirinya datang bulan? Akh... rasanya dia lupa, akhir-akhir ini perasaan'nya sedang tidak stabil dan otaknya pun tidak bisa bekerja secara maksimal, alhasil dia pun tidak dapat mengingat sedikitpun tentang hal yang ingin dia ingat ini.


Apakah dia terakhir datang bulan sebelum kejadian itu? atau sesudah kejadian waktu itu? hatinya di buat gelisah, karena dia sama sekali tidak dapat mengingatnya dengan pasti.


Semenjak dirinya di jamah dan paksa melayani pria baji*** yang bernama Alex, hidupnya seolah tidak bersemangat lagi, jujur saja... kejadian satu bulan yang lalu itu masih menjadi kejadian yang membuat hidupnya menjadi tersiksa, sebagai wanita yang menjujung tinggi kesetiaan, tentu saja hal yang menimpanya waktu itu membuat hidupnya terasa tertekan.


Huek


Huek


Adelia kembali menundukkan kepalanya ke dalam Toilet duduk yang sudah dia buka, rasa mual yang di rasakan kini semakin tidak dapat lagi dia tahan.


Trok


Trok


''Adel sayang, istri'ku... kamu kenapa? apa kamu sakit?'' Leo mengetuk pintu kamar mandi.


''Iya, aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit mual. Buka saja, pintu'nya nggak aku kunci, ko,'' jawab Adel dengan sedikit menaikan suaranya.


Ceklek


Leo membuka pintu, dan berjalan menghampiri istrinya yang terlihat duduk di depan toilet, dengan wajah pucat dan mata sedikit berair.


''Apa kamu sakit, sayang? Wajahmu pucat sekali,'' Leo berjongkok meraba wajah istri dengan kedua tangannya.


''Sepertinya begitu, kepalaku pusing sekali.''


''Benarkah? mari aku gendong kamu ke dalam,'' Leo meraih tubuh Adel dan menggendongnya.


''Badan mu berat sekali, tidak seperti biasanya.''


''O ya? masa sih?''


Kemudian Leonardo segera membaringkan tubuh sang istri dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


''Tadi aku dengar, kamu seperti'nya muntah-muntah? apa perlu kita ke Dokter?''

__ADS_1


''Tidak usah, mungkin aku hanya masuk angin saja, nanti juga sembuh sendiri, ko...''


Leo termenung sejenak, kejadian yang saat ini sedang di alami'nya serasa tidak asing lagi di dalam ingatannya, mengingatkan dirinya pada kejadian dua tahun yang lalu saat istrinya tersebut pertama kali mengandung si kembar.


''Apa mungkin kamu hamil? sayang...?'' Leo berucap dengan raut wajah yang terlihat senang.


Adel terkejut mendengar ucapan suami, tidak ada rasa senang sama sekali saat mendengar ucapan suaminya tersebut, yang dia rasakan adalah, rasa sesak di dadanya.


''Kenapa kamu diam saja? sayang...''


''Heuh... apa...? hmm tadi kamu bilang apa?'' Adel memasang wajah polos, karena pikiran'nya sempat melayang.


''Apa mungkin si kembar akan segera memiliki adik? kamu hamil, kan?''


''Tidak... apa maksudmu? Eu...maaf maksud aku, jangan terlalu cepat mengambil keputusan, siapa tahu aku hanya masuk angin biasa,'' jawab Adel dengan sedikit terbata-bata.


''Tunggu... sepertinya kita masing menyimpan alat tes kehamilan yang waktu itu aku beli, kamu tunggu di sini sebentar, ya...!'' Leo berlari keluar dari dalam kamar.


'Apa yang akan terjadi, jika aku benar-benar hamil? mau aku apakan anak yang sama sekali tidak aku inginkan ini? ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?' (Batin Adel bergejolak).


Tidak lama kemudian Leo pun kembali dengan membawa beberapa alat tes kehamilan, dan meminta Adelia untuk segera menggunakan'nya.


Dengan ragu-ragu serta perasaan yang berkecamuk dan bergejolak di dalam hatinya, Adel pun memaksakan diri untuk mengikuti kemauan suaminya, dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan enggan.


Adel mulai menempelkan alat tersebut ke dalam wadah kecil yang sudah terisi dengan urine miliknya...


Jantung Adelia berdetak dengan begitu kencang, menanti garis apa yang akan muncul di permukaan alat tes kehamilan, dia pun mengigit ujung kuku jempol'nya, serta mata yang sedikit memerah.


Dan akhirnya, hasilnya pun keluar...


Jantung Adelia terasa akan meledak...


Dua garis merah


Gumamnya pelan, buliran air mata pun serentak turun, dengan begitu saja, lengannya nampak sedikit bergetar, memegangi alat tersebut, sementara, tangan satunya masih dalam keadaan yang sama, yaitu, di gigit bagian ujung kuku jempolnya.


Trok


Trok

__ADS_1


''Sayang... bagaimana hasilnya? apakah kamu beneran hamil, atau tidak?''


Ceklek


Leo hendak membuka pintu kamar mandi, namun pintu kamar di kunci dari dalam.


''Kenapa pintunya di kunci? kamu baik-baik saja kan?'' Leo berteriak-teriak dari depan kamar mandi.


''Iya... aku baik-baik saja, tunggu sebentar, aku sedang buang air besar,'' Adel menjawab dengan nada suara yang sedikit di naikkan, dan berbohong pula.


'Aku harus bagaimana sekarang? apa aku harus jujur saja? atau mengubur masalah ini selamanya sampai aku mati? tapi aku sama sekali tidak menginginkan bayi ini,' (batin Adelia bergumam)


''Sayang...!''


Ceklek...


Akhirnya Adelia membuka pintu kamar mandi, dia keluar dan menunjukan alat tersebut kepada suaminya.


''Kamu hamil? si kembar akan segera punya adik, yeeey... terima kasih, sayang. Rumah kita akan semakin ramai sekarang... Aku sungguh senang...'' Leo memeluk tubuh istrinya, erat dan memancarkan aura kebahagiaan.


Sementara sang istri merasakan hal yang sebaliknya, dia terisak di dalam pelukan suaminya, membuat sang suami merasa heran.


''Kamu ko menangis?'' Leo melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Adelia.


''Tidak ko, aku tidak apa-apa, aku hanya merasa terharu, sekaligus terkejut karena si kembar bisa secepat ini memiliki seorang adik, padahal umurnya belum juga menginjak dua tahun, aku takut kasih sayang kita tidak bisa terbagi rata, aku juga takut kalau aku akan kewalahan jika harus mengurus tiga anak secara bersamaan,'' Adel menunduk tidak kuasa menahan kesedihan, akibat masalah yang sedang dia sembunyikan.


''Hey... kenapa kamu bicara seperti itu? kamu tidak sendirian, ada aku, dan kalau perlu kita bisa menambah baby lagi, tiga orang sekaligus kalau perlu, ya...!'' Leo mengusap buliran air mata yang mengalir dengan begitu derasnya.


Adel memeluk tubuh suaminya dan kembali menangis di dalam pelukan sang suami.


'Maafkan aku suami'ku, sungguh aku minta maaf, dengan segenap jiwa ku ragaku...' (batin Adelia)


''Sayang...! aku ingin mengatakan sesuatu padamu, sesuatu yang sangat serius, sesuatu yang akan membuat'mu marah saat mendengar'nya, namun aku pasrah, jika kamu akan benar-benar marah dan bahkan jika berniat meninggalkan aku pun, aku ikhlas... sungguh...'' Adelia menatap lekat wajah suaminya.


''Apa maksudmu, sayang? aku sungguh tidak mengerti, ada apa ini?'' Leo mengerutkan keningnya, kebahagiaan yang sedang dirasakannya pun mendadak hilang, yang ada hanya rasa penasaran.


''Sebenarnya aku... aku...'' Adelia berbicara dengan sedikit terbata-bata.


__________----------___________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️❤️💓


__ADS_2