Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Hampir Menabrak Kucing


__ADS_3

Ryan menginjak rem secara mendadak, sehingga membuat mobil yang di kendarai'nya berhenti seketika dan hampir menabrak pembatas jalan. Ryan memutar kepala menoleh dan menatap wajah ibu Sarah lalu bertanya kepada.


''Apakah ibu baik-baik saja?'' tanya Ryan merasa khawatir.


''Iya, saya baik-baik saja, ada apa sebenarnya? kenapa mengerem mendadak?'' tanya ibu dengan wajah pucat.


''Tadi ada kucing lewat, untung saja saya segera mengerem, kalau tidak mungkin kucing itu sudah tertabrak,'' jelas Ryan.


''Oh, begitu... untung saja kamu tidak sampai menabraknya, kata orang tua jaman dulu, pamali kalau sampai menabrak kucing, apalagi jika kucing itu sampai mati,'' ibu menjelaskan.


''Begitu ya, Bu...! ya sudah, kita teruskan perjalanan kita ya, perjalanan kita masih lumayan panjang,'' Ryan menyalakan mobil lalu mulai menyetir kembali.


''Ryan... ibu mau bertanya, apakah Adelia Putri ibu baik-baik saja?''


''Iya, Bu. Nyonya Adelia baik-baik saja, bos saya juga memperlakukan Nyonya dengan sangat baik, dan penuh kasih sayang, Nyonya di perlakukan bak Ratu, karena bos Leo sangat mencintai dia,'' Ryan menjelaskan masih dengan menatap ke depan.


''Syukurlah, ibu merasa senang mendengarnya, setidaknya ibu tidak salah memilih menantu. Hmmm... Axel itu... eu... maksud ibu Leonardo itu pekerjaan apa ya? ko bisa mempunyai mobil mewah seperti ini?''


''Bos Leo, seorang CEO perusahaan besar, Bu. perusahan yang bergerak di bidang properti, kekayaannya cukup banyak, bahkan termasuk orang terkaya di Indonesia, karena beliau putra satu-satunya, maka seluruh kekayaan orang tuanya di wariskan kepada'nya,'' jelas Ryan.


''Waah... Adel sangat beruntung kalau begitu, ibu senang sekali mendengarnya, dari kecil dia sudah hidup sederhana, dan beranjak dewasa Adelia Putri ibu itu, sudah membantu ibu berjualan, sekarang mendengar dia seperti ini, ibu sungguh sang bahagia, meskipun ibu meninggal sekarang juga, rasanya ibu tidak akan menyesal,'' lirih ibu dengan mata yang berkaca-kaca.


''Ibu jangan berbicara seperti itu, apa ibu tidak ingin memiliki cucu terlebih dahulu? ibu harus berumur panjang agar bisa merasakan kebahagiaan yang sama seperti putri ibu, Nyonya Adelia pasti sedih mendengar ibu berbicara seperti itu,'' Ryan mengerutkan keningnya.


Ibu hanya tersenyum, wajahnya menatap keluar jendela, memandang jalanan yang padat dengan kendaraan.


''Apakah perjalanan kita masih jauh?'' tanya ibu yang sudah mulai bosan di dalam mobil.


''Iya, Bu. masih sekitar tiga jam lagi, kalau ibu jenuh, ibu tidur saja, nanti saya bangunkan jika sudah sampai,'' pinta Ryan.

__ADS_1


''Baiklah, aku akan mencoba untuk tidur, lagi pula ibu memang mengantuk,'' jawab Ibu Sarah, kemudian memejamkan mata dengan menyandarkan kepala di sandaran kursi mobil.


___----___


''Ha... ha... ha...! Akhirnya aku berhasil membuat si Leonardo itu kelabakan, dia pikir aku akan mengambil nyawanya begitu saja,'' Alex tertawa senang di dalam Apartemennya, dia duduk di kursi dengan kedua kakinya di angkat ke atas meja.


''Iya, bos. Kita buat Bos mafia sialan dan sombong itu tersiksa terlebih dahulu, baru kita akan membunuh dia, jika perlu, habisi terlebih dahulu, istri tercintanya itu,'' anak buahnya yang merupakan orang kepercayaan Alex.


''Ha... ha... ha...! aku juga sedang berfikir seperti itu, tidak mudah untuk dia menjalani hidup, dia harus merasakan kepedihan yang pernah aku rasakan, bahkan aku akan membalasnya 10x lipat, dia memang sahabatku, tapi itu dulu, sekarang dia adalah musuh terbesarku,'' celoteh Alex mengepalkan tangannya, menatap ke depan melayangkan tatapan tajam.


''Baik bos, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membantumu membalaskan dendam kepada Laki-laki itu, karena Jimmy, adikmu yang merupakan sahabat baikku, telah di bunuh begitu saja oleh si Leonardo brengsek itu,'' jawab orang kepercayaan Alex, yang bernama Lucky itu.


Tidak lama kemudian ponsel Alex pun berbunyi, salah satu anak buahnya yang dia tugaskan untuk mengintai kediaman Leo pun menelpon.


''Halo... Ada kabar apa?'' Alex mengangkat telpon berjalan menuju jendela dan terlihat berbincang dengan anak buahnya di telpon.


''Nantikan kejutan aku selanjutnya Leonardo, ha... ha... ha... !" ucap Alex dengan merentangkan lengannya dan bersandar di sandaran kursi di belakang punggungnya.


***


Leo duduk di kursi direktur, dia menutup laptop dan meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja. Dirinya hendak menelpon Ryan yang saat ini sedang dalam perjalanan menjemput ibu mertuanya.


Tut


Tut


Tut


Suara telpon yang belum di angkat, lalu tidak lama kemudian Ryan pun mengangkat dan berbicara di telpon, bahwa dirinya dengan sang ibu mertua hampir sampai di ibu kota.

__ADS_1


Leo pun menutup telpon lalu tersenyum, dirinya sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.


Namun senyumnya seketika pudar dan raut wajahnya berubah garang, dengan tatapan yang terlihat tajam, menatap ke arah jendela seolah melayangkan tatapan kosong.


'Sepertinya aku harus waspada, dan aku harus memberikan pengawalan yang ketat untuk menjaga kedatangan ibu ke Jakarta, aku tidak mau kalau Alex sampai mengetahui kedatangan ibu mertuaku dan berusaha menyakiti dia.'


Leo bergumam di dalam hatinya.


Dia pun bangkit dan berdiri lalu keluar dari dalam ruangan, berbarengan dengan Angel yang baru saja akan masuk ke dalam ruangan bosnya itu dengan membawa map berwarna merah.


''Bos mau kemana? ada sesuatu yang harus saya laporkan,'' tanya Angel menatap wajah Leo yang terlihat seperti sedang terburu-buru.


''Simpan saja di meja, aku ada keperluan penting,'' jawab Leo tanpa menoleh sama sekali.


''Tapi, Leo...?" Angel berusaha menghentikan, namun langkah bosnya sekaligus mantan kekasihnya itu sangatlah cepat sehingga membuat dirinya hanya pasrah dan menatap dengan pandangan sayu ke arah punggung lebarnya yang perlahan menjauh sampai akhirnya tidak terlihat lagi itu.


Angel pun masuk ke ruangan Leonardo, dia meletakan map berwarna merah yang di bawanya di atas meja, dirinya pun hendak berbalik dan keluar dari dalam ruangan, namun langkahnya terhenti seketika, saat menemukan secarik Poto yang tergeletak begitu saja di bawah meja.


Dirinya pun berjongkok dan meraih Poto tersebut, matanya di buat terkesima seketika, saat melihat wajah yang berada di dalam Poto, mulutnya nampak di tutup dengan satu tangannya dengan mata yang berkaca-kaca.


''Jimmy...''


Ucapnya pelan.


______________---------______________



*****

__ADS_1


__ADS_2