
''Sebenarnya aku... aku...'' Adel berbicara dengan nada suara yang sedikit terbata-bata.
''Apa...? Aku apa?'' Leo di buat tidak mengerti, dan sedikit menaikan suaranya.
Bukankah seharusnya dia senang karena sebentar lagi akan di beri momongan kembali? batin Leo.
Sesungguhnya hati Leo saat ini sedang diliputi rasa bahagia, pertama, dia bahagia karena perusahaan milik dirinya sudah mulai stabil dan bahkan semakin berkembang pesat.
Kedua, orang yang selalu mengganggu kebahagiaan serta ketenangan hidupnya, musuh bebuyutan dirinya, sekarang sudah tidak ada lagi di negara ini, itu tandanya dia bisa menjalani hidup dengan tenang.
Dan kebahagiaan yang ketiga adalah, istrinya yang bernama Adelia, kini tengah hamil anak ketiga, sungguh pagi ini adalah pagi yang penuh dengan kabar bahagia, bagi dirinya.
Namun tiba-tiba saja perasaan'nya sedikit merasa tidak enak sekarang, entah apa yang akan di katakan oleh istrinya tersebut sehingga sedikit merusak perasaan bahagia yang saat ini sedang dia rasakan.
''Leonardo, suami ku...! Aku sama sekali tidak menginginkan anak ini mohon izinkan aku untuk menggugurkan kandungannya sekarang, aku mohon...!'' Adelia meratap penuh dengan deraian air mata.
''Hei...! Apa maksudmu, aku sama sekali tidak mengerti? kenapa harus di gugurkan? aku sangat bahagia mendengar kabar kehamilan'mu, kenapa kamu malah sebaliknya? aku sungguh kecewa padamu, Adelia...!"
"Aku minta maaf, tapi aku sungguh tidak bisa dan tidak ingin melahirkan anak ini? aku mohon padamu, aku minta izin kepada'mu sebagai suami'ku, hiks hiks hiks...''
''Tidak...! kalau kau mau mengugurkan kandungan ini, itu tandanya kamu membunuh anakku, darah daging'ku, bagiku itu seperti kau membunuh rasa cintamu kepada diriku, dan rasanya sakit, sakit, Del...'' Leo berbicara dengan nada suara yang penuh dengan penekanan.
'Tapi anak ini bukan anakmu, bukan darah daging'mu, Leo...'(Batin Adelia).
''Aku sungguh kecewa padamu, dan kamu tahu? ini kali pertamanya aku merasa kecewa kepada istriku sendiri, kamu bukan seperti dirimu yang dahulu, kamu sekarang lebih seperti orang lain,'' tambah Leo dengan mata yang terlihat berkaca-kaca menahan rasa kecewa.
Dia pun akhirnya pergi meninggalkan Adelia sendiri di dalam kamarnya, membawa kekecewaan yang sangat mendalam di dalam hatinya. Bagaimana mungkin seorang ibu tega menggugurkan kandungannya sendiri? Adelia yang dulu dia kenal tidak memiliki sifat kejam seperti itu, sungguh hati kecil Leo diliputi berbagai macam pertanyaan, apa yang sebenarnya telah terjadi kepada istrinya tersebut?
Sementara itu, Adel menatap kepergian suaminya dengan tatapan dan tangisan yang terlihat sesenggukan, dia bahkan sampai terduduk di atas lantai tidak kuasa menahan kesedihan, andai saja suaminya tersebut tahu apa yang telah menimpa dirinya. Apakah mungkin dia akan memaafkan perbuatannya meskipun itu berdalih untuk menolong suaminya sendiri?
Dia memegangi dadanya yang terasa sesak, kemudian dia pun meremas perutnya dengan kedua tangannya, meratapi kehamilan yang sama sekali tidak dia inginkan.
__ADS_1
Sebenarnya anak yang di kandung oleh Adelia bisa saja anak dari suaminya sendiri, toh dia melakukan hal itu bersama Alex hanya sekali, namun mengapa Adel begitu yakin bahwa anak yang di kandung'nya adalah anak dari baj*** yang bernama Alex?
Semua itu terjadi karena, semenjak kejadian malam itu, Leonardo, suaminya sendiri, tidak pernah menyentuh dirinya, sebagai seorang suami yang baik hati, pengertian, dan juga sangat mencintai istrinya, Leo tidak pernah memaksa istrinya untuk melayani birahinya, dia akan meminta ijin terlebih dahulu dan apabila istrinya setuju baru dia akan melakukan hal tersebut.
'Maafkan aku, suamiku, sungguh aku minta maaf, dari lubuk hatiku yang paling dalam...' (batin Adel bergejolak)
Adelia terus menangis, hingga tangisannya terdengar begitu pilu bagi siapapun yang mendengarnya, namun sedikitpun dia tidak merasa menyesal sama sekali, karena berkat hal itu, Adel berhasil mengendalikan keadaan, justru yang dia sesali saat ini adalah, mengapa dirinya harus hamil segala? apa yang akan dia lakukan dengan bayi yang sekarang berada di kandungannya ini?
Jika sampai dia mengugurkan kandungan'nya, maka suami'nya tersebut pasti akan sangat membenci dirinya, karena berfikir bahwa dia telah melenyapkan darah dagingnya sendiri, namun dia pun tak kuasa untuk mengatakan hal yang sebenarnya, sungguh Adelia di landa sebuah dilema.
***
Semenjak percakapan terakhir mereka, Leo terlihat masih merasa kesal kepada Adelia, istrinya. Permintaan Adel yang meminta izin untuk mengugurkan kandungan'nya masih terasa menyakitkan baginya.
Hari-hari yang di lewati oleh sepasang suami-istri itu tidak seromantis dahulu, tidak seindah hari-hari yang lalu, keduanya nampak lebih sering saling mendiamkan satu sama lain.
Di atas ranjang pun keduanya tidak terlalu banyak bercakap sebelum tertidur, bahkan si kembar sekarang lebih banyak menghabiskan waktu bersama kedua baby sister'nya, tidurpun lebih sering bersama mereka.
Sepertinya yang sedang terjadi malam ini, Leo dan Adel berbaring di atas tempat tidurnya, dengan posisi yang saling memunggungi, keduanya tampak memejamkan mata, namun sebenarnya masing-masing dari mereka masih terjaga.
Sepasang suami-istri itu larut dalam lamunannya masing-masing, entah apa yang sedang mereka pikirkan, namun untuk sesaat, keduanya terlihat seperti orang asing.
Adel, mencoba memejamkan matanya, namun pikirannya melayang kemana-mana, sampai akhirnya, tiba-tiba saja rasa mual itu kembali datang, dan perutnya terasa sangat sakit sekarang, alhasil, dia pun berlari kedalam kamar mandi, menutup pintu dan menguncinya.
Leo yang menyadari keadaan istrinya, ingin mengabaikan sebenarnya, namun rasa cintanya yang begitu besar kepada Adelia mengalahkan keegoisan yang sudah selama beberapa hari ini menguasai batinnya.
Akhirnya, dia pun bangkit dan turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Trok
Trok
__ADS_1
Trok
''Adel...! apakah kamu baik-baik saja?''
Leo mengetuk lalu bertanya, namun sama sekali tidak ada jawaban dari dalam sana.
Cemas dan khawatir pun menyelimuti hatinya, dan dia kembali mengetuk pintu tidak mau menyerah.
''Adelia... Istriku... aku minta maaf karena telah mendiamkan'mu selama beberapa hari ini, aku mohon buka pintunya, sayang...!'' lirih Leo semakin merasa cemas.
Karena dari dalam kamar mandi terasa begitu hening tanpa suara, suara gemericik air pun sama sekali tidak terdengar.
Akhirnya Leonardo memutuskan untuk kembali mendobrak pintu kamar mandi yang baru saja di perbaiki beberapa Minggu yang lalu.
Bruk
Bruk
Bruk
Pintu pun di buka secara paksa, dan tidak lama kemudian pintu pun dapat di buka. Leo masuk kedalam kamar mandi dan terkejut seketika, mendapati tubuh istrinya terbaring di lantai kamar mandi seperti tidak bernyawa, dari kakinya pun nampak darah segar yang seperti mengalir membasahi ************ hingga turun ke lantai kamar mandi.
_______________---------_______________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️❤️💓
_________
Rekomendasi novel hari ini...
__ADS_1