
Bruk ...
Revan melempar tubuh putrinya ke atas tempat tidur secara kasar, dan Ayu langsung beringsut ke pojokan ranjang, memeluk kedua lututnya seraya mengigit ujung kuku jari jempolnya, dengan wajah pucat dan lingkaran hitam dibawah mata yang semakin ketara, merasa ketakutan.
''DASAR ANAK KURANG AJAR, GAK TAU DIRI, SEDANG APA KAMU DI SANA, HAH? LIAT AJA, AYAH BAKALAN NGASIH KAMU PELAJARAN,'' teriak Revan mulai membuka gesper yang dikenakannya.
''Ayah mau apa? jangan sakiti aku, aku mohon, hiks hiks hiks ...'' lirih Ayu dengan bibir yang gemetar.
''Mau apa ...? ini hukuman yang cocok untuk anak nakal kayak kamu,'' jawab Revan, dengan gesper yang telah berada di tangannya, siap untuk dilayangkan ke udara.
''Ha ...!'' teriak Ayu benar-benar ketakutan, dia memeluk erat kedua lututnya, matanya nampak berair, dengan tubuh yang gemetar.
Revan benar-benar mengangkat tangannya ke udara, hendak memukul putrinya tersebut, namun, gerakan tangannya terhenti di udara saat dia mendengar suara ponsel milik putrinya itu berdering.
Revan pun segera naik ke atas ranjang dan meraba saku celana Ayu dengan kasar membuat Ayu seketika berontak dan berteriak histeris.
''Stop, yah. Stop ... ha ....'' teriak Ayu menggerakkan seluruh tubuhnya, namun, teriakannya tidak dihiraukan karena akhirnya sang ayah berhasil meraih ponsel yang masih berdering itu.
Revan nampak menatap layar ponsel yang bertulisan nama kekasih dari putrinya itu, mendengus kesal lalu memijit tombol hijau.
📞 '' Halo ... Untuk apa kamu nelpon Ayu, hah ...''
📞 '' Tenang Revan, ini aku Leonardo.''
Ayu yang berada di samping Revan berusaha meraih ponsel dari sang ayah kasar dan berteriak kencang.
''Kembalikan ponsel aku, ayah. Hiks hiks hiks ...'' teriak Ayu.
Plak ...
Satu tamparan keras mendarat di pipi Ayu hingga dia tersungkur di atas tempat tidur dengan darah segar yang terlihat menetes dari ujung bibirnya.
''Diam kamu, anak nakal ...''
📞 '' Hei, apa yang kamu lakukan sama putrimu itu, Revan?'' teriak Leo dari dalam telpon.
📞 '' Bukan urusan kamu, brengsek. Katakan saja apa tujuanmu menelpon putriku? jangan bilang kalau kamu merestui hubungan kedua anak kita? karena aku gak akan sudi putriku berpacaran dengan putramu, brengsek ...''
__ADS_1
📞 '' Aku tau kalau kamu memang bajingan, dan jahat. Tapi aku baru tau kalau ternyata kamu tidak memiliki hati juga, kamu tega menyiksa anak kamu sendiri yang seharusnya kamu jaga, dan kamu beri dukungan dia agar dia bisa sembuh.''
📞 '' Aku bilang itu bukan urusan kamu, mau aku apakan dia bahkan jika aku bunuh dia sekalipun itu bukan urusan kamu, Leonardo.''
📞 '' Oke ... Oke ... Itu memang bukan urusan aku. Baiklah, aku menelpon kamu karena ingin membuat janji denganmu.''
📞 '' Janji ...? apa maksudmu?''
📞 '' Aku ingin bertemu denganmu.''
📞 '' Dua Minggu lagi kita memang akan bertemu 'kan? apa jangan-jangan kamu sudah tidak sabar untuk segera aku habisi?''
📞 '' Aku ingin bertemu dengan kamu bukan untuk bertarung, ada sesuatu yang harus aku bicarakan, kalau kamu gak mau juga gak apa-apa, aku anggap kamu takut bertemu dengan aku, ha ... ha ... ha ...''
📞 '' Brengsek kamu, siapa bilang aku takut ketemu sama kamu, oke ... katakan dimana dan jam berapa kita akan bertemu.''
📞 '' Nanti malam, aku tunggu kamu jam 19.00 di klub malam, ada Alex juga nanti di sana?''
📞 '' Bang Alex ...?''
📞 '' Kurang ajar, siapa bilang aku takut. Baiklah, aku ke sana nanti malam.''
Revan langsung menutup telpon begitu saja.
''Kembalikan ponsel aku, Ayah.'' Rengek Ayu dengan tubuh gemetar.
''Ponsel kamu ayah sita, dan kamu akan ayah kurung di sini agar kamu gak bisa bertemu lagi sama si Lucky itu,'' teriak Revan hendak pergi.
Ayu pun segera turun dari atas ranjang, bersimpuh dengan dengan memeluk kaki ayahnya itu, memohon.
''Tolong biarkan aku keluar dari sini, Yah. Aku gak mau di kurung di sini, hiks hiks hiks ...'' tangis Ayu, memeluk erat kedua kaki Revan.
Buk ...
Revan menghentakkan keras kakinya, membuat lingkaran tangan Ayu terlepas dari kedua kakinya. Kemudian dia berjongkok tepat di depan tubuh Ayu, meletakan tangannya di kedua sisi pipi tirus putrinya itu, dengan tatapan tajam mengarah tepat di wajahnya.
''Dengarkan ayah, jangan pernah bermimpi untuk bisa keluar dari rumah ini, apalagi menemui pacar kamu itu, lebih baik kamu mati membusuk di sini daripada ayah harus melihat kamu berpacaran dengan putra dari si Leonardo, musuh ayah itu.'' Tegas Revan, lalu menghempaskan wajah Ayu kasar.
__ADS_1
Revan segera berdiri dan berjalan ke arah pintu, keluar dari dalam kamar, lalu benar-benar mengunci pintu dari luar.
Ayu pasrah, kini dia duduk dengan memeluk kedua lututnya, ucapan sang ayah benar-benar membuat Ayu semakin frustasi, Ayu pun terdiam sejenak, lalu dia merangkak menuju lemari pakaian, dan mengobrak-abrik seisi lemari seperti sedang mencari sesuatu.
🍀🍀
''Kalian dengar, Papi sudah membuat janji dengan si Revan nanti malam,'' ucap Leo sesaat setelah dia menutup telpon.
Dia duduk di kursi ruang kerjanya, dengan Gabriel, Axel, dan Lucky berdiri tepat di depan meja.
''Apa rencana Papi?'' tanya Lucky.
''Gabriel, aku serahkan misi penyelamatan ini padamu, Papi percaya karena kamu memang ahli dalam melakukan hal ini, selain itu kemampuannya beladiri kamu juga baik, jadi Papi yakin kamu akan berhasil masuk kedalam rumah si Revan.'' Tegas Leo, menatap menantunya.
''Baik, Pap. Aku janji gak akan mengecewakan Papi dan juga kamu, Dek.''
''Bolehkah aku ikut, Pap. Aku mohon, aku ingin ikut dalam misi ini,'' mohon Lucky mengiba.
''Tidak, Dek. Misi ini berbahaya, biarkan Briel yang melakukannya, kamu jangan khawatir, Briel ini seorang yang ahli dalam melakukan misi seperti itu, kita tunggu saja di rumah, Oke ...?'' ucap Axel mengelus punggung adik bungsunya.
''Tapi aku mau ikut, bang. Aku juga ingin melihat keadaan pacar aku, please Pap, izinin aku ikut,'' rengek Lucky dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
Leo menghela napas panjang, rengekan putra kesayangannya itu, membuat hatinya luluh dan merasa iba.
''Baiklah, kalau kamu ikut, maka Axel pun harus ikut, dan kamu El, tugasmu adalah menjaga adikmu ini, bantu dia mengeluarkan Ayu dari rumah Revan, sementara Briel melawan para penjaga yang pastinya menjaga rumah itu dengan ketat.'' Tegas Leo akhirnya.
''Baik, Pap. Kami janji akan membawa Ayu dengan selamat,'' jawab Briel.
''Bukan hanya membawa Ayu dengan selamat, tapi kalian juga harus pulang dengan selamat, Papi tidak mau kalau kalian sampai ada yang terluka, Papi akan mengulur waktu selama mungkin agar Revan bisa tertahan di klub malam itu sampai larut, agar dia tidak sadar bahwa kita sedang menjalankan misi ini,'' tegas Leo menatap satu persatu wajah menantu, serta kedua putra kesayangannya
''Baik, Pap ..'' jawab ketiganya serempak.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Promosi Novel lagi ya Reader, jangan Lupa mampir ya ...♥️
__ADS_1