ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
9 Diam-diam hawatir


__ADS_3

Daysi sudah terlelap dalam mimpi, tetapi tidak untuk Ksatria, ia masih menatap langit-langit kamarnya.


"Gara-gara permintaan konyolmu, membuat aku harus menikahi temanmu. Apa unggulnya sih kamu sampai bela-belain dia untuk aku nikahi?" gumam Ksatria menatap layar ponsel, yang ada gambar adik tersayangnya ini.


Ksatria sebenarnya laki-laki yang mudah rapuh perasaannya, apalagi jika menyangkut orang yang ia sayangi dan cintai. Tapi untuk menutupinya ia menjadi orang kejam, untuk melindungi orang yang paling penting dalam hidupnya.


Ksatria menoleh ke tempat Daysi tertidur. Ia terlihat menggigil kedinginan. Ksatria mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Daysi. Ksatria yang masih bertengkar dengan pikiran dan hatinya merasa lelah dan akhirnya tertidur.


Daysi yang merasakan kehangatan melanjutkan tidurnya dengan tenang. Merasa punggungnya sakit ia merubah posisinya namu malah ia terjatuh di lantai. Suara Daysi terjatuh terdengar keras, tetapi untungnya tidak membangunkan Ksatria.


"Aawww..., pinggang dan lenganku sakit." Mengusap dan memijat pinggangnya. "Untung dia tidak terbangun." Ucap lirih Daysi dan segera kembali berbaring di sofa.


"Siapa yang menyelimuti ku? atau jangan-jangan Ksatria. Tapi tidak mungkin." Gumam Daysi membetulkan tidurnya.


Pagi hari.


Daysi bangun lebih pagi dari biasanya, ia segera mandi dan menyiapkan keperluan Ksatria entah nanti ia kenakan atau tidak. Daysi membantu Mbok Yati menyiapkan sarapan. Mbok Yati memberikan beberapa resep ke Daysi dan memperingatkan Daysi makanan yang tidak disukai Ksatria semua.


"Nak semua sudah siap di meja, kenapa nak Daysi memasak lagi?" tanya Mbok Yati.


"Aku akan membawa bekal Mbok, hari ini aku mulai berkerja lagi!" dengan tersenyum.


"Kenapa nak Daysi berkerja, apa Aden yang menyuruhnya?" tanya Mbok Yati.


"Eehhhh... tidak Mbok, aku berkerja mencari kesibukan Mbok!" jawab Daysi gembira. "Aku ingin melawan Ksatria Mbok, makanya aku berkerja. Kalau aku tidak berkerja aku tidak memiliki biaya hidup." Ucapnya dalam hati.


Ksatria yang baru bangun dari tidurnya langsung menatap ke arah Daysi tidur, tetapi ia tidak melihat keberadaan Daysi.


"Awas saja kalau kamu berani kabur Daysi, panti asuhan itu akan aku robohkan, tanpa tanggung-tanggung lagi." Ksatria bergegas ke kamar mandi.


Selesai dari kamar mandi ia melihat baju tertata rapi di ruang ganti baju. Lebih tepatnya di meja kecil. Ksatria tidak mengenakan pakaian itu, ia lebih memilih pakaian yang ia sukai hari ini, setelah rapi dengan pakaian dan setelan jasnya ia segera turun dan menuju ruang makan.

__ADS_1


Para asisten rumahnya yang melihat Ksatria menuruni anak tangga, segera memberi salam pagi hari.


Daysi yang berada di dapur segera merapikan bekalnya dan memasukkannya di tas kecil. Dan bersiap-siap untuk mandi dan makan pagi. Daysi hanya berdandan tipis seperti biasanya yang tampak natural. Seragam yang ia kenakan saat ini di tutupi dengan jaket, takut orang yang ada di rumah bertanya-tanya dan juga tidak ingin membuat masalah untuk Ksatria.


Ksatria yang sedang menikmati sarapan paginya tersedak, saat mendengar tawa Daysi yang sedang bersenda gurau dengan para asistennya. "UUHUUKK...," Ksatria langsung meminum air putih.


Daysi yang menuju ruang makan langsung menemui Ksatria. Daysi melangkah dan sampailah di sebelah Ksatria duduk.


"Pak Ksatria saya mau izin berkerja hari ini, apa boleh?" Daysi meremas ujung lengan jaketnya.


"Eemmm..., ingat tidak saling kenal!" jawab singkat Ksatria, melanjutkan makannya.


Daysi segera pergi dan menaiki ojek yang ia pesan. Tanpa Daysi sadari sepasang mata menatapnya dengan tajam. Ksatria segera memalingkan wajahnya dan mengambil sesuatu dari laci kecilnya.


Ksatria segera berangkat menuju hotelnya. Sesampainya di hotel, Ksatria sama sekali tidak menemukan keberadaan Daysi membuat ia merasa aneh.


Okta yang melihat keanehan pada CEOnya ini dan segera Okta mengalihkan perhatian Ksatria.


"Kopi pahit!" Ksatria segera duduk di sofa lobby.


Okta mengangguk dan menyuruh bawahannya membuatkan kopi, dan ternyata yang membuat kopi adalah Daysi. Sebenarnya ini bukan tugas Daysi, namun karena semua sedang sibuk Daysi terpaksa membuatkan kopi tersebut.


Daysi menghantarkan kopi sesuai pesanan. Daysi dengan sopan memberikan cangkir kopi tersebut. Ksatria merasa lega melihat Daysi berada di dalam hotelnya.


Sebenarnya kehawatiran Ksatria kepada Daysi karena adik tersayangnya, takut jika adiknya mendiaminya lebih lama lagi.


Sesudah meletakkan cangkirnya, Daysi berpamitan kepada Ksatria namun hanya di angguki saja oleh Ksatria. Daysi merasa lega dengan acuhan Ksatria. Dengan cara seperti ini Daysi tidak akan ada rasa pada Ksatria Malik. Daysi segera melakukan pekerjaannya lagi, dan sekarang ia membersihkan taman di halaman depan dengan Abang.


Abang orangnya baik dan mudah di ajak berteman dan berbicara, itu membuat Daysi nyaman di dekat Abang. Abang sesekali melempar senyum kepada Daysi begitu juga dengan Daysi.


Ksatria yang baru saja berjalan keluar menuju parkiran mobil merasa tidak nyaman dan segera masuk mobil dan menuju tempat lain.

__ADS_1


Di sebuah Mall ternama ia bersama rekan bisnisnya mengadakan pertemuan, para bodyguard Ksatria berjaga-jaga di sekelilingnya.


Tiba-tiba ada seorang perempuan muda dan cantik yang menghampiri Ksatria setelah selesai pertemuan dengan rekan bisnisnya.


Para bodyguard yang tadinya akan mencegah tidak bisa berbuat apa-apa saat Ksatria memberi kode.


"Semoga mbak Daysi tidak sakit hati melihat si boss seperti ini. Semoga saja mbak Daysi tidak tahu." Gumam dalam hati para body guard Ksatria.


Para bodyguard Ksatria menggunakan pakaian santai, tetapi masih tetap terlihat tegas dengan otot-otot tubuh yang terlihat.


"Kenapa tidak menelponku Faya?" tanya Ksatria.


"Jika aku menelponmu, apa kamu mau menemuiku?" Faya berbicara dengan manja.


"Kenapa semua yang dekat denganku, seperti ini. Kenapa tidak ada satu pun yang membuat aku penasaran?" dalam batin Ksatria.


"Aku sibuk!" jawab Ksatria.


"Sibuk apa, sibuk dengan kekasihmu yang lain?" memancing pembicaraan.


"Kamu kan tahu sendiri aku dari dulu seperti apa. Semua yang menurutku cocok aku ajak berkencan, begitu juga dengan kamu!" ucap Ksatria apa adanya.


Ksatria memang playboy tapi bukan fuckboy. Yang mampir sana sini. Memang banyak wanita yang mengelilinginya dan beberapa adalah kekasihnya. Ksatria mencari sosok wanita yang membuat penasaran di dalam hatinya, dan tentunya hanya Ksatria yang tahu tipe seperti apa yang membuat penasaran.


"Eeemmm aku tahu, tetapi apa kamu tidak ingin menikahi salah satu dari kami untuk menjadi pendampingmu?" Faya memastikan.


"Entahlah, sepertinya tidak kalau menikahi salah satu dari kalian." Ksatria berdiri dan meninggalkan Faya.


Ksatria memang tidak suka ketika ada wanita seperti itu yang menanyai pernikahan. Kecuali adiknya tersayang.


Para bodyguard mengikuti Ksatria dengan menggunakan mobil yang lain dari belakang.

__ADS_1


Ksatria menyetir mobilnya menuju hotelnya. Ksatria keluar dengan elegant dari mobilnya. Saat berjalan Ksatria menabrak seseorang. Dan BBRRUGGHH..., orang tersebut terjatuh.


__ADS_2