ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu

ISTRIKU Betapa Aku Mencintaimu
S3. Pukulan Sindy


__ADS_3

Sindy badannya tersungkur saat ada orang yang dengan sengaja menjegal dirinya, tapi saat ia memutar kepalanya ke tempat tersebut tapi anehnya tidak ada siapa-siapa, bulu kuduk Sindy merinding mendadak apakah hotel yang berdiri megah puluhan tahun ini ada sesuatunya, yang jelas Sindy sedikit aneh dengan lorong hotel padahal tempat ini ramai banyak orang yang berlalu lalang.


Sampai suara kaki mengejutkan Sindy dan ia pun menengok ke belakang siapa gerangan orang itu dan ternyata suaminya, Cheval mengulurkan tangan dan menolong sang istri.


"Sayang, kenapa kelosotan di lantai? apa AC ruangan mati sampai kelosotan di lantai koridor?" Cheval bercanda dan berhasil membuat Sindy ngambek sebentar.


"Iya, AC mati dadakan tadi makanya aku kelosotan. Aa ... hotel sekarang jadi serem gini ya?" menatap tubuh tegap Cheval.


"Hah ..., serem kamu bilang sayang. Serem dari mana perasaan memang dari dulu deh ... hotel itu sedikit mistis bahkan sejak kita kecil saja Aa sering lihat bahkan!" jawaban Cheval langsung mendapatkan pelukan terhangat Sindy apalagi Sindy sudah ketakutan, nyalinya mendadak menciut.


"Aa ..., jangan bilang gitu lagi aku takut Aa." Sindy menenggelamkan wajahnya di dada Cheval.


Cheval senang sekali, ia menang banyak sekarang. Sedikit heran juga kenapa Sindy yang sekarang itu sering takut, padahal Sindy gadis yang luar biasa tidak takut apa-apa. Tapi ya sudahlah mungkin hormon emosi yang berada pada dirinya masih terbayang-bayang akan kehilangan anak yang belum sempat melihat dunia.


"Sayang, pelukannya sudah ya aku sudah tenang ko sekarang." Menengadahkan wajahnya ke atas menatap netra suaminya yang begitu teduh dan menenagkan.


"Aku masih belum sayang, sebentar lagi oke," Cheval posesif.


"Aa .... Itunya meronta-ronta." Menatap ke bawah, memang sedari tadi sengatan listrik terus saja mengalir di seluruh penjuru badannya di tambah lagi bada Sindy yang tidak dapat di pungkiri sangat molek bak gitar spanyol.

__ADS_1


"Terus ini gimana dong, di tambah sebentar lagi harus ketemu tamu penting lagi. Mau ada yang boking hall room sayang untuk acara pesta anak pemilik salah satu pemilik hotel terbesar juga di Indonesia lagi, ia mau mengadakan acara pertunangan lagi di hotel kita," Cheval panik lah, di tambah jika sudah seperti ini.


Sindy juga tidak mau membuat masalah, apa di bantu saja menyelesaikan ritual yang biasanya lama jadi sebentar tapi. Sindy berpikir keras dan mencari cara.


Sudah di putuskan.


Bugh


"Aw ...." Cheval memegang perutnya yang sakit.


"Maaf Aa, terpaksa dari pada nanti telat ketemu tamunya," Sindy memapah sang suami yang kesakitan perutnya.


Suara ketukan pintu membuat Cheval mendesis kesal, bagaimana tidak perutnya masih sakit dan belum sembuh akibat dari pukulan maut Sindy beberapa detik yang lalu.


"Masuk." Nada kesal Cheval terpancar dari seluruh wajahnya sambil menahan perutnya


"Pak Cheval, maaf menganggu. Apa jadi hari ini bertemu tamu penting?" tanyanya saat sudah masuk ruangan, ia sedikit gemeteran saat melihat Cheval demikian takut di pecat juga di tambah lagi sekarang yang kondisi Negara yang sulit cari pekerjaan.


"Iya jadi, ayo segera menuju ruangan VVIP!" jawabnya tertatih-tatih menahan sakit di perutnya, ternyata pukulan dari Sindy sangat kuat entah makan apa dia pagi tadi kenapa tenaganya seperti tenaga kuda yang kuat.

__ADS_1


Sindy menatap nanar kepergian suamiku, pejuang rupiah sayang sekali jika tidak di bantu dengan menghabiskannya, sudah lama Sindy tidak berbelanja ini itu dulu sih sering belanja dan tidak takut jika ada orang yang tidak menyukainya tapi rasa keberanian itu musnah secara perlahan semenjak kehamilan yang gagal beberapa waktu yang lalu.


"Maaf Aa, bukannya aku berani seperti ini pada Aa. Tapi, ini demi keselamatan mental aku juga. Aku belum siap jika harus kehilangan anak lagi." Gumam lirih menuju sofa dan menjatuhkan pantatnya di atas sofa tersebut lalu ia mulai mengetik beberapa pesan singkat di ponselnya, ingin keluar tapi dengan siapa lagian selama ini dunianya gak punya sahabat karib.


Paling-paling cuma Momo dan Nadia tapi mereka sedang memiliki anak yang satunya anak kembar dan satunya lagi hamil besar pula, rasanya tidak mungkin yang ada dalam diri ini merasa tambah sedih kenapa mempertahankan bayinya saja tidak bisa, sementara wanita di luaran sana saja bisa. Sesekali terkadang ia kecewa, mengapa hanya dirinya yang merasa selalu gagal.


Cheval sedang membahas konsep apa yang nanti akan di pakai, sebenarnya bukan kewajibannya menangani hal ini sebab pihak Wedding organizer yang berhak namun entah maunya apa, padahal jelas-jelas orang tuanya wanita ini juga punya hotel besar di Indonesia. Apa jangan-jangan mau menguji kualitas hotel Royal Malik.


"Bagaimana, dengan konsep yang saya sarankan untuk anda?" Cheval memberikan proposal yang sudah lama ia pegang selama ini, sebenarnya konsep ini untuk putrinya nanti tapi sepertinya tidak sebab mana mungkin anak-anak muda jaman sekarang mau memakai saran dari orang tua yang katanya kurang update dan ketinggalan jaman konsepnya.


"Saya setuju dengan saran bapak, oh ... ya pak gimana kalau kita bicarakan masalah ini sambil makan malam." Mencoba menggoda Cheval, namun naluri Sindy terasa resah dan tidak baik-baik saja.


Sindy segera menuju ruangan dimana sang suami bertemu dengan anak yang katanya juga pemilik salah satu hotel terbesar di Indonesia, laki-laki atau perempuan ya orangnya ia jadi penasaran seperti apa parasnya jangan-jangan suaminya di goda lagi.


"Ehem ..., maaf Nona yang cantik. Jangan sentuh suami saya, dia sudah beristri dan memiliki putri yang cantik." Sindy tiba-tiba memamerkan body goalnya pada wanita yang hanya memiliki pakaian seksi tanpa adanya lekukan yang luar biasa seperti miliknya.


"Saya juga tau, saya hanya mengajak makan malam saja. Jangan berprasangka buruk mbak, lagian calon suami saya tak kalah tampan ko dari suami kamu," kembali duduk di tempat.


Sindy mengepalkan tangannya ingin sekali tangan lentiknya ini menjitak kepala wanita ini, sudah tau punya calon masih juga berani-beraninya menggoda suami orang, mau terkenal jadi pelakor apa. Cheval langsung menggenggam erat tangan Sindy dan mencium punggung tangannya dengan penuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2