
Setiap hari semakin banyak suara canda dan tawa dari mulut Sindy, Daysi sangat bahagia dengan apa yang di lihat. Beberapa kali Daysi menepuk-nepuk pipi nya bahkan mencubit lengan nya sendiri apakah ini nyata atau hayalan saja namun ini benar-benar nyata ada nya.
"Sindy." Sapa Daysi langsung memeluk dan menciumi wajah sang putri.
"Ada apa ma, kenapa mama tiba-tiba memeluk ku?" menatap Daysi.
"Maaf kan mama yang kurang perhatian dengan kamu selama ini. Apa kamu mau memaaf kan mama nak, maaf mama belum bisa menjadi ibu yang baik dan adil untukmu maaf kan mama sayang."
Sindy mengangguk kan kepala nya dan meneteskan air mata, hal yang paling ia nanti selama ini akhir nya ia dapat kan. Meskipun dalam hati ia masih ada kecewa dengan kedua orang tua nya.
"Mama janji, tidak akan membuat kamu merasa orang asing di rumah ini. Percayalah," terus menghujani ciuman.
Cheval melihat pemandangan ini sangat terharu. Ksatria yang sedari tadi melihat langsung memeluk putri dan istri nya sambil mengucap beribu maaf pada putri kecil yang sudah remaja. Cheval hanya diam tidak berani mendekati keluarga bahagia ini ia takut momen indah rusak lagi oleh dirinya.
"Boy... mendekatlah," Ksatria merentang kan tangan kiri nya, Cheval segera berlari dan membalas pelukan sang papa.
***
Seiring berjalan nya waktu kedekatan Cheval dan Sindy semakin terlihat bahkan beberapa kali ia mencium bibir Sindy yang di sengaja oleh Cheval. Seperti saat ini Cheval dan Sindy sedang berada di sebuah taman rumah ini untung nya saat ini malam hari jadi sedikit aman, namun tetap ada beberapa cahaya lampu di taman ini.
"Aa... apa-apaan sih malu tau." Sindy memukul lengan Cheval. Walaupun cuma sekilas saja wajah Sindy sudah bersemu merah.
"Lagian kamu kan pacar aku sekarang, apa tidak boleh hem?" langsung meraih tengkuk Sindy dan mencium dalam bibir Sindy dan menautkan antara lidah nya dengan milik Sindy, Sindy yang sudah kehabisan nafas langsung mencubit perut Cheval yang sensitif tersebut.
Cheval kesal sekali kenapa Sindy sangat hobi mencubit perut nya.
"Sakit tau."
"Rasain, makanya jadi orang jangan nafsuan apa Aa tidak bisa menahan nya," mengusap bibir nya yang baru saja di habisi oleh Cheval. Sindy berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Ksatria yang sedari tadi melihat sang putra dan putri seperti itu sangat geram. Ingin sekali menikah kan mereka berdua secepat nya.
"Cheval masuk." Teriak Ksatria saat Cheval dengan santai nya berjalan tanpa basa basi lagi Cheval langsung di tarik telinga nya oleh Ksatria.
"Aduh... pa sakit ampun," mengeluh sakit di bagian telinga kiri.
Ruang keluarga.
Sindy yang baru datang langsung duduk di dekat Cheval. Cheval langsung menggengam erat tangan Sindy sudah tidak ada urat malu pada Cheval sementara Sindy berusaha menarik tangan nya dari Cheval.
"Kalian menikah saja, seperti nya jika ini di biarkan kalian akan segera menjadi papa mama muda, bagaimana ma?" menatap Daysi sang istri.
"Kalau aku terserah anak-anak pa, jika mereka siap ayo kita nikahkan secepat nya!" jawab santai Daysi.
"Kalian menikah saja minggu depan papa sudah urus semuanya barusan. Dari pada putri cantik papa hamil duluan lebih baik nikah saja sekarang." Ksatria menatap tajam Cheval sang putra kemudian ia pergi begitu juga dengan Daysi.
"Kita menikah Sindy, apa kamu siap." Cheval begitu sangat antusias sekali. Sindy yang malu-malu hanya mengangguk kan kepala bertanda ia setuju dengan ini.
"Lagian tidak ada rugi nya menikah dengan Aa, sudah ganteng plus paket komplit," dalam hati Sindy kegirangan.
1 minggu kemudian.
Pernikahan dadakan ini sangat mengejut kan untuk Aurellia dan Sacha begitu juga dengan Momo yang awal nya marah sekarang malah setuju dan mendukung penuh hubungan Cheval dan Sindy.
Setelah terdengar ucapan SAH Cheval bersama keluarga lain nya bersyukur ijab qabul berjalan lancar, kini Sindy sudah sah di mata Agama dan Negara secara hukum.
"Selamat ya sayang." Daysi dan Ksatria mencium puncak kepala Sindy yang berbalut hijab.
Semua orang mengucap kan selamat kepada sepasang pengantin yang tengah berbahagia ini. Meski acara hanya sederhana tidak ada acara resepsi mengingat kedua pasang pengantin ini masih sekolah dan perlu melanjut kan cita-cita mereka.
__ADS_1
Malam hari.
Ruang makan kini serasa hidup setelah sekian tahun lama nya hanya ada kesunyian. Sindy dengan telaten melayani sang suami meski ia belum pandai memasak.
"Pengantin baru seperti nya tidak tahan ingin segera ke kamar nya." Ledek Ksatria saat memergoki anak-anak nya yang sedang saling menatap dan tersenyum.
"Semoga ini akan menjadi awal yang bagus, kamu berhak bahagia Sindy meski bukan papa mu yang membahagia kan kamu." Dalam hati Ksatria merasakan amat pedih tidak bisa membuat putri semata wayang nya bahagia.
Di dalam kamar.
Saat ini kamar Cheval menjadi kamar pengantin, meski tidak ada hiasan bunga satu pun kamar ini sudah cukup baik untuk malam yang panjang. Kamar sederhana tanpa pernak pernik seperti orang laki-laki lain nya, bahkan vidio game dan komputer apapu tidak ada di ruangan ini. Hanya ada buku-buku tebal yang membuat mata pening melihat nya.
"Aa, malam ini apa kita tidur satu kasur?" menujuk ranjang yang hanya ada satu.
"Iya, apa kamu takut sayang!" menyenderkan dagu nya di belakang leher Sindy dan membuat bulukuduk merinding.
Sindy yang sudah malu beranjak pergi dari ruangan ini.
"Mau kemana ini kamar kamu juga sekarang." Menarik tubuh Sindy dalam pelukan.
"Aku mau ganti baju, lepas dulu kenapa sesak tau," protes nya sambil memberontak.
"Cepatlah aku tunggu di situ." Menujuk ranjang tidur nya.
GGLLEKK.
"Semoga aman kehidupan ku malam ini," bergumam sambil keluar dari kamar Cheval.
Mulai malam ini kisah cinta Cheval dan Sindy akan di mulai dan tentu nya dengan ikatan suci yang menghubung kan nya. Mungkin akan ada batu terjal kedepan nya mengingat semua orang tau jika Cheval dan Sindy adalah saudara kandung. Kecuali orang yang benar-benar dekat dan setia pada Keluarga Malik ini.
__ADS_1