
Like, rate bintang 5 dan terimakasih.
***
Ksatria yang baru saja selesai membereskan pekerjaannya kini menemui sang istri yang tengah tersenyum bahagia menatap foto USG Sindy. Ksatria curiga dengan gelagat Daysi, ia pun akhirnya memutuskan untuk melihatnya. Ksatria terkejut bukan main, apa maksud foto di ponsel istrinya. Apakah Daysi mengandung lagi, bahkan usianya tidak muda lagi untuk Daysi.
"Sayang kamu mengandung lagi?" Ksatria tiba-tiba bertanya.
"???!!!" Daysi hanya mengedipkan matanya berkali-kali, ia sedikit kesal dengan suaminya yang begitu tega tidak menjawab telpon dari anak-anaknya bahkan lebih dari 5 kali panggilan. Cukup sedikit 5 panggilan, tapi rasanya mustahil jika Ksatria tidak mengangkatnya panggilan lantaran hidupnya tidak bisa jauh-jauh dari ponsel pintar keluaran terbarunya itu.
"Jadi benar kamu hamil lagi sayang, terimakasih sayang. Senangnya mau jadi Papa lagi." Menciumi pipi sang istri.
Daysi yang tadinya mengantuk kini terpingkal-pingkal dengan kebahagiaan Ksatria, apa dia tidak melihat di foto jika tertera nama putrinya bukan istrinya.
"Pa... coba lihat baik-baik ini, siapa nama ibu yang mengandung janin ini." Tunjuk Daysi memperbesar tulisan.
Ksatria langsung melototkan matanya, ternyata ia salah sangka. Bukan istrinya yang tengah mengandung melainkan putrinya, yang artinya.
"Aku akan jadi Grandpa, senangnya hatiku." Memeluk erat tubuh Daysi sampai sesak.
"Pa... jangan kuat-kuat, sesak badan aku Pa," mengeluh sambil berusaha memberontak dari pelukan suaminya.
"Maaf sayang, saking bahagianya." Ksatria melepas pelukan itu.
Orang tua selalu bahagia jika anak-anaknya bahagia, apalagi dengan berita yang sudah di nantikan selama ini. Memang betul dulu mereka melarang Sindy dan Cheval memiliki bayi lantaran masih SMA, tapi ternyata takdir bersahabat. Sampai sang putri lulus Sarjana atau S1 belum di karuniai seorang bayi kecil di tengah-tengah kehidupannya dan membuat hawatir.
"Alhamdulillah, besok Papa mau ke mall mau membeli peralatan yang di butuhkan saat Sindy nanti pulang ke sini." Ksatria yang bersemangat langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum tidur malam.
__ADS_1
Daysi yang melihat sang suami sangat berantusias menyambut cucu pertamanya langsung mengirim pesan pada Sindy. Daysi memberi tahukan jika papanya ingin sekali kehamilan Sindy bisa pulang ke rumah.
Sindy yang mendapatkan pesan singkat dari sang Mama langsung memberikan ponselnya pada Cheval.
✉️ Kapan pulang. (Mama)
"Di jawab apa ini Aa?" Sindy bingung harus bagaimana. Selain kehamilannya yang rentan tapi jika tidak kembali ke rumah pasti Mama dan Papa akan bersedih lagi.
"Secepatnya akan pulang usai urusan di Surabaya selesai, sekitar satu sampai dua bulan lagi sayang!" jawab Cheval yang sedang mengerjakan tugasnya sebagai Dosen.
"Baiklah Aa, aku jawab sekitar dua bulan saja ya Aa." Sindy mengetik beberapa pesan yang kemudian langsung di tanggapi Daysi secara tidak percaya pada putrinya itu.
✉️ Yakin akan pulang dalam waktu dua bulan lagi, tidak sedang berbohong lagi kan, ayolah Sindy dan Aa. Apa perlu kami menyusul kesana dan menjemput kalian secara paksa? (Mama)
✉️ Beneran Ma, ini kami sedang menyelesaikan tugas kami berdua disini Ma. Tidak mungkin Ma kita langsung tiba-tiba pergi begitu saja, lagian tugas Aa di Surabaya juga hampir selesai Ma. Karena Aa sudah hampir dua tahun mengajar di sini!" (Sindy)
Pagi hari.
Momo yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya ia menatap di cermin, wajahnya begitu sembab oleh bekas air mata. Semalam ia bebar-benar menangis untuk yang kesekian kalinya. Lagi-lagi ia menangisi seorang Lais Erdana Khan.
Daysi yang pagi ini mampir yang niatnya mau memberi kabar bahagia pada Momo jadi sedih saat melihat Momo mengompres kedua matanya yang sembab. Pasti dia sangat terpukul dengan adanya berita Lais, yang sedang menghamili model baru yang sedang naik daun.
"Momo." Daysi menyapa tiba-tiba dan membuat sendok dingin yang menempel pada kedua mata Momo jatuh ke lantai.
"Eh... Mama, kapan datang Ma?" Momo tersenyum bahagia dan mengulurkan tangannya seraya mencium punggung tangan Daysi.
"Baru saja, kenapa mata itu sembab?" Daysi menyentuh pipi Momo.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Ma!" jawabnya sambil menghindari Daysi.
"Cerita ke Mama, apa yang terjadi padamu." Daysi duduk di ruang keluarga.
Momo menceritakan semua kejadian yang ia alami, dari mulai bertemu Dhela Randa kemudian makan gratis di kafe kemudian ia mendengar kenyataan pahit. Daysi hanya menutup mulutnya, hampir saja ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Lais yang baik dan tidak mungkin ceroboh seperti ini, rasanya mustahil jika Lais menghamili perempuan yang bukan istrinya atau mungkin model itu kekasihnya, makanya Lais menghamili perempuan itu.
"Berarti keputusan mu tepat Sacha, andai kamu masih hidup. Pasti kamu bahagia telah menggagalkan perjodohan itu untuk Momo, Lihatlah Lais yang seperti ini, pasti kamu akan sangat kecewa dengannya yang sekarang ini. Berita heboh jika Lais menghamili seorang model." Daysi memeluk erat putrinya itu sambil menenangkan perasaan Momo yang pastinya sangat hancur sekarang ini.
"Ambil sisi positifnya sayang, bukannya Mama menjelekkan dia(Lais) tapi kamu tau sendiri kan kenyataannya. Andai kamu jadi menikah dengannya bukannya kamu akan terluka lebih dalam lagi." Daysi menguatkan Momo.
Ia mengangguk paham dengan penuturan Daysi, memang benar apa yang di ucapkan sang Mama pada dirinya. Momo tidak menangis lagi, ia mengambil sisi positif saja saat ini.
"Inikah jawabannya ayah, mengapa dulu ayah sangat melarang ku untuk berhubungan dengannya, terimakasih ayah sudah melarang aku berdekatan dengannya. Andai perjodohan itu berjalan dan aku menikah dengannya pasti aku akan terluka dengan pernikahan ini. Belum menjadi suami saja sudah menghamili wanita lain, apalagi jika sudah menikah." Momo sangat kecewa dengan Lais yang sekarang ini, seperti bukan Lais yang ia kenal.
Daysi menyadarkan lamunan Momo.
"Momo." Sapanya berkali-kali namun tidak ada respon dari tadi.
"Eh... iya Ma," Momo cukup terkejut.
"Kamu memikirkan dia lagi, Momo sayang ingat. Perjalan kamu masih panjang, banyak di luaran sana yang menanti kamu dan ingin memiliki kamu, kamu harus bisa mengikhlaskan dia jadi milik orang lain. Apa kamu tega memisahkan anak dari kedua orang tuanya?" tanya Daysi yang seolah bisa membaca pikiran Momo.
"Iya Ma, Momo tau, Momo tidak akan memisahkan seorang anak dari kedua orang tuannya. Dan Momo tidak akan menyimpan perasaan lagi padanya!" Momo terpaksa tersenyum.
"Mama punya kabar bahagia Momo." Daysi menunjukkan hasil USG dan Momo terkejut dengan berita ini, apakah sang mama sedang berbadan dua.
Bukannya beresiko jika sudah masuk usia senja mengandung buah hati.
__ADS_1